Blogger Interview with Yovano "Kandang Baca"





Bintang tamu kita kali ini pastinya udah jadi pop star di dunia resensi BBI. Kang Opan yang menjadi penjaga Kandang Baca akan berbagi soal kesenangan membaca buku, tips mereview buku, dan rekomendasi buku favorit. Langsung saja kita simak wawancara berikut.


Halo Kang Opan. Senang bisa mengunjungi Kandang Baca. Makin banyak GA yang bisa dinikmati pencinta buku. Semoga GA dapat diselenggarakan tiap minggu bahkan tiap hari di tahun-tahun mendatang. Semoga dilirik penerbit atau penulis yang ingin promosi #code. Terima kasih udah mau berbagi disini.

Halo juga. Terima kasih sudah mengunjungi Kandang Baca. Aamiin, makasih untuk doanya. Mudah-mudahan ada sponsor dari penulis maupun penerbit agar Kandang Baca bisa mengadakan GA lebih sering lagi, tidak hanya sebulan sekali saja. #ngarep


Pertanyaan pertama dari seribu pertanyaan. Kenapa harus Kandang Baca kang?

Sepertinya banyak yang penasaran dengan pemilihan nama Kandang Baca, ya? Nggak bisa dipungkiri bahwa kata ‘kandang’ memang identik dengan hewan. Tapi kalau mengecek KBBI, kata ‘kandang’ ternyata juga memiliki makna konotatif sebagai tempat tinggal; kampung; negeri. Secara personal, Kandang Baca saya maknai sebagai rumah untuk menampung segala hal yang berhubungan kesukaan saya terhadap kegiatan membaca. Di samping itu, kata ‘Kandang Baca’ terdengar unik di telinga saya pribadi. :)


Membaca sambil bernyanyi? Atau mendengarkan musik sambil membaca?

Saya lumayan suka membaca sambil mendengarkan musik. Saat membaca novel bergenre romance atau fantasi yang ringan-ringan, saya senang bila didamping musik bernada lembut, misalnya musik-musik instrumental seperti piano atau saksofon. Tapi untuk buku-buku fiksi bertema berat dan menuntut konsentrasi ekstra, saya justru lebih menyukai tanpa ditemani musik sama sekali, misalnya ketika membaca Supernova: Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh karya Dee.


Gimana sih meresensi dengan gaya Kang Opan di Kandangbaca? Tulisannya bisa mengalir dan enak dibaca?

Wah, terima kasih. Sejujurnya saya merasa sedikit minder dengan resensi yang saya tulis. Diksinya masih sangat terbatas. ^^

Cara meresensi versi saya sederhana saja kok. Saat menulis resensi sebuah buku, saya membayangkan sedang bercerita kepada seorang sahabat. Saya beri tahu dia buku tersebut secara umum bercerita tentang apa, apa saja yang menjadi kekuatan buku itu, serta bagian mana saja yang barangkali perlu diperbaiki oleh penulis. Tentu diusahakan agar tidak memberikan spoiler penting.


Boleh dong sedikit berbagi buku apa yang paling berkesan selama pembacaan tahun 2015? Sudahkah direview? Kalau di tahun 1990? #abaikan.

Ada beberapa buku bagus yang saya baca di tahun 2015, namun yang paling berkesan adalah Sabtu Bersama Bapak karya Adhitya Mulya dan Supernova: Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh karya Dee. Supernova sudah saya buat review-nya, sebentara Sabtu Bersama Bapak belum. T.T

Bacaan di tahun 1990? Sudah lupa tuh. Hehehe.


Apa sih bedanya sci-fi fantasy sama jenis fantasy yang lainnya? Dan kenapa tertarik dengan science fiction fantasy? @asysyifaahs

Halo @asysyifaahs. Mungkin maksud pertanyaannya adalah perbedaan antara genre Sci-fi dengan Fantasy? Saya coba jawab sepengetahuan saya ya. Kalau genre Sci-fi, sesuai namanya: science fiction, secara umum memiliki unsur science yang kental dalam ceritanya, mulai dari setting (dunia masa depan, luar angkasa, dsb), peralatan/teknologi yang digunakan (mesin waktu, alat teleportasi, dsb), serta konflik atau tema ceritanya (misalnya tentang manusia kloning, alien, dsb). Sementara genre Fantasy, tentu mengandung unsur fantasi itu sendiri, misalnya sihir dan makhluk-makhluk ajaib (contohnya naga dan makhluk-makhluk mitologi dari berbagai belahan dunia).

Mengapa tertarik dengan genre Sci-fi dan Fantasy? Saya sebenarnya saya menyukai hampir semua genre fiksi. Namun yang membuat Sci-fi dan Fantasy menjadi istimewa buat saya, adalah pada imajinasi penulisnya.


Pernahkah blogger buku merasa tiba-tiba bosen baca buku setelah estafet baca dan review buku sekaligus? Solusinya gimana? @evizaid

Hai @evizaid. Merasa bosan itu manusiawi kok. Saya juga pernah mengalaminya. Di satu waktu saya sangat bersemangat membaca dan langsung membuat review setelah selesai membaca bukunya. Di waktu lain, saya hanya ingin membaca saja, namun malas membuat reviewnya. Kadang malah gabungan keduanya, malas membaca dan malas mereview. Hehe.

Saat sedang bosan membaca maupun mereview, saran saya sebaiknya memang tinggalkan dulu sejenak dua kegiatan tersebut. Cobalah untuk melakukan kegiatan lain. Jalan-jalan, nonton film atau drama Korea (hihi), cari video lucu di youtube, main game, membuka-buka majalah yang kamu sukai (melihat-lihat gambarnya saja boleh banget kok, tidak ada yang melarang), dan sebagainya. Atau mungkin kamu hanya bosan terhadap satu genre bacaan? Silakan coba genre bacaan yang lain. Salah-salah, kamu malah jadi ketagihan pada genre tersebut dan langsung melahap beberapa buku sekaligus.

Lalu bagaimana bila bosan mereview? Seharusnya menulis review jangan dijadikan sebagai beban. Kembali lagi ke niat awalmu menulis review. Saya pribadi menulis review selain untuk sharing informasi dengan teman-teman, juga sebagai sarana berlatih menulis. Saat sedang bosan mereview, saya biasanya blogwalking ke mana-mana, mencoba menikmati gaya menulis teman-teman sesama blogger buku. Lumayan berhasil menghilangkan rasa bosan lho. Tapi kalau tidak berhasil juga, ya istirahat saja deh. Jangan dipaksakan. Kecuali kalau kamu punya hutang review dari penerbit atau penulis, mau tidak mau, kamu tetap harus membuat reviewnya. ‘Ingat hutang’ bisa menjadi motivasi yang ampuh. ;)


Bukan bermaksud apa-apa :D Adakah rencana menulis buku dalam jangka waktu dekat?

Dalam waktu dekat? Hmm. Belum deh, kayaknya. Tapi pemikiran untuk menulis buku selalu ada kok.

Hunger Games. Gone Girl. What's your story kang?

My story? Barangkali “The Man Who Loved Books Too Much”.
 
Kakak termasuk jenis Omni Reader ya? Kalo iya, gimana sih serunya gonta-ganti bacaan?

Iya, bisa dibilang saya ini Omni Reader. Saya menyukai banyak genre bacaan, mulai dari romance, fantasi, sci-fi, buku-buku anak, humor, traveling, dan sebagainya. Serunya? Ya serulah. Hihi. (Jawaban macam apa ini? #selfkemplang). Menjadi Omni Reader tentu menyenangkan. Berdiskusi dengan teman-teman sesama pencinta buku menjadi lebih menarik karena kita bisa nyambung dengan banyak genre buku yang didiskusikan. Mengunjungi toko buku pun menjadi kegiatan ‘jalan-jalan’ yang cukup menyehatkan, sebab para Omni Reader bisa dipastikan akan lebih banyak ‘menyisir’ rak-rak buku di sebuah toko buku dibandingkan dengan penyuka genre tertentu saja.


Ceritain dong pengalaman membaca buku-buku tebal? Apa judul buku tertebal yang pernah dibaca? (boleh ngintip di GR) Bagaimana caranya supaya bisa betah baca buku yang mirip bantal itu?

Buku tebal terkadang bisa sangat mengintimidasi. Sebelum membaca buku-buku tebal (atau vesi anak-anak BBI: Buku Bantal), saya harus memastikan bahwa buku tersebut memang bagus. Inilah keuntungan punya banyak teman sesama pecinta buku. Dari mereka, kita bisa mendapatkan rekomendasi buku-buku Bantal yang memang layak baca.

Salah satu buku ter-Bantal yang pernah saya baca adalah Harry Potter dan Orde Phoenix. Tebalnya sekitar 1.200 halaman. Tak perlu diragukan, saya sangat menikmati setiap lembarnya. Iya, saya memang penyuka Harry Potter garis keras. :)


Kembali serius. Apa sih menurut Kang Opan yang menjadikan sebuah cerita Fantasy yang bagus dan menarik?

Yang membuat cerita fantasi bagus dan menarik adalah imajinasi dari penulis kisah fantasi itu sendiri. Konon, menulis fantasi tidak semudah menulis novel kontemporer. Penulis harus membangun dunia baru berikut detail-detailnya. Di saat yang sama, penulis juga wajib menjaga cerita tetap masuk akal sekalipun kisahnya fiktif bertabur imajinasi. Inilah yang membuat saya mengagumi para penulis kisah-kisah fantasi.


Pilih Fantasy seram atau petualangan? Kenapa?

Oke, saya pilih fantasi petulangan, sebab saya merasa lebih familiar dengan itu. Saya selalu menikmati perkembangan karakter si tokoh utama lewat petualangan yang ia lakukan. Contohnya Bilbo Baggins dalam buku The Hobbit. Ia tadinya hanya hobbit biasa yang lebih suka berada di Liang-nya yang hangat. Karena suatu hal, ia terpaksa ikut bertualang untuk mencari harta karun bersama para kurcaci, lengkap dengan segala bahaya yang mengintai. Saat pulang kembali ke kampung halaman, ia bukan sosok yang sama lagi.


Di HUT BBI yang ke 4. Apa harapan Kang Opan buat BBI?

Harapan saya, semoga BBI semakin berkembang dan banyak merangkul para pencinta buku di seluruh Indonesia. Semoga para fans BBI semakin mampu untuk menulis resensi-resensi yang berkualitas. Aamiin.


Pertanyaan terakhir. Bagikan sedikit judul Fantasy dan Scifi yang wajib dibaca para pencinta buku Indonesia?
- Harry Potter!

- The Hobbit

- Trilogi The Lord of The Rings

- Trilogi The Hunger Games

- The Mortal Instruments series

- Supernova (saya baru baca buku pertama, hehe)



Terima kasih atas kesempatannya. Senang sekali bisa mewawancarai Kandang Baca. Sukses untuk karir di dunia pekerjaan dan resensinya ya.

Sama-sama. Terima kasih telah mewawancarai saya, jadi berasa artis nih. Hehe. Sukses juga buat Bang Steven dan Blog Buku Haremi. :)



Ps: Kunjungin juga post keren BBI lainnya disini

Comments

  1. Wawancaranya tumben ngga pake ngebanyol,kang. *nglunjak :p

    ReplyDelete
  2. Huwaaa.. Sangat sulit rasanya membangun mood nge-review. Apalagi kalo buku yang mau direview 'nggak banget' versi pribadi. *curcol*
    Jalan-jalan. Nonton film.. Boleh dicoba tuh, Kang Opan. ^^b
    Makasih, Kak Steven, sudah masukin pertanyaan saya ke beberapa wawancara. :D Saya jadi dapat motivasi kuat dari beberapa blogger. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Siip. Semoga sudah nggak bosan membaca dan menulis review yaaa.

      Delete
  3. aku kalo lagi bener-bener bosan juga nggak akan memaksa, cari kesibukan lain yg disuka selain baca dan ngreview :)

    ReplyDelete
  4. Padahal aku nunggu banyolannya juga loh kang ..

    ReplyDelete
    Replies
    1. ah sasti. itu kan wawancaranya lagi serius mode on. *ules kuteks*

      Delete

Post a Comment