Interview with Priska "Lego, Ergo Cogito, Ergo Sum"



Pembaca yang budiman kali ini kita kedatangan Priska pemilik Lego, Ergo Cogito, Ergo Sum. Penyuka sastra Indonesia ini akan bercerita soal genre favorit, penulis idolanya, dan kesukaannya dengan novel seri Bilangan Fu milik penulis tenar Ayu Utami. Langsung saja kita simak wawancaranya.



Hai Priska. Salam kenal. Saya baru berkunjung ke tumblr kamu. Kemana saja selama ini ya. Ok. Baru kali ini lihat tumblr buku di Bebi. Isinya amazing. Kombinasi dari permainan gambar dan post quote yang memikat. Selamat datang dan terima kasih udah mau berbagi disini.


Pertanyaan awal buat Priska. Sekarang kamu lagi sibuk apa nih?
Eh, iya, sebelumnya salam kenal ya juga ya Bang Steven ^^. Awal tahun ini aku baru lulus kuliah, jadi kesibukan sekarang lagi magang sambil bertahap cari kerjaan tetap. Selain itu juga mulai ngeblog lagi yang sempat aku tinggalkan beberapa lama.


Tahun lalu menang lomba mereview buku terbitan Bentang. Yang itu loh, sampul hijau dengan judul The 100-Year-Old Man Who Climbed Out of The Window and Disappeared. Boleh dong berbagi pengalaman serunya?


Iyaa. Awalnya aku ikutan lomba itu karena iseng aja, merasa tertantang karena selama aku ngeblog sebelumnya belum pernah coba ikut lomba review yang diadakan penerbit. Sebenarnya aku tahu informasi tentang lomba itu agak telat, akhirnya baca bukunya aja kira-kira baru seminggu sebelum deadline lomba. Submit reviewnya pas sehari sebelum lomba ditutup ^^; Alhamdulillah juga bisa menang, jadi tambah pengalaman dan timbunan buku baru ^o^


Aku tebak kamu adalah pencinta sastra Indonesia. Siapa penulis lokal favorit kamu?


Yup. Aku suka sastra Indonesia, sayangnya aku merasa selama ini masih kurang banyak mengenal tulisan penulis-penulis lokal. Sejauh ini yang paling kusuka adalah Pramoedya Ananta Toer, Leila Chudori dan Ayu Utami.


Salah satu foto di tumblr kamu ada Ayu Utami dengan Bilangan Fu. Apakah kamu sudah menamatkan semua seri Bilangan Fu? Ada yang bisa kamu kepada bagikan kepada pembaca soal seri novel ini?
Sayangnya aku belum menamatkan semua seri Bilangan Fu, terakhir baca baru sampai Manjali dan Cakrabirawa. Too many books to read, too little time, huhu. Kalau boleh sharing dikit nih, aku pertama kali baca novel Bilangan Fu waktu SMA. Bisa dibilang novel itu jadi salah satu buku yang mendorongku untuk semakin banyak membaca karya penulis lokal, dimana sebelumnya aku lebih sering membaca karya-karya terjemahan. Bilangan Fu membukakan wawasan baru buatku, bahwa Indonesia kaya akan sejarah, budaya, sampai filsafat lokal yang oke banget buat dieksplorasi oleh para penulis dan pembaca. Aku juga suka dengan gagasan spiritualisme kritis—menyeimbangkan jiwa yang spiritual dengan pikiran yang kritis—yang dituangkan Mbak Ayu dalam tulisan-tulisannya.




Apa sih bedanya sci-fi fantasy sama jenis fantasy yang lainnya? Dan kenapa tertarik dengan science fiction fantasy? @asysyifaahs
Sci-Fi alias science-fiction, atau diterjemahkan ke Bahasa Indonesia jadi fiksi ilmiah. Bisa dilihat dari namanya, suatu karya fiksi ilmiah berusaha memadukan cerita fiktif dengan penjelasan ilmiah. Beda dengan fantasi lainnya, yang menggunakan unsur sihir atau fenomena paranormal atau ajaib yang susah dinalar akal manusia, sci-fi berusaha menggunakan unsur sains untuk menjelaskan plot dan/atau setting ceritanya. Jadi membuat suatu cerita yang ‘ajaib’ terasa lebih rasional. Kurang-lebih begitu sih sepemahamanku ^^




Pernahkah blogger buku merasa tiba-tiba bosen baca buku setelah estafet baca dan review buku sekaligus? Solusinya gimana? @evizaid

Bosen baca buku sih biasanya enggak, bosen bikin review yang iya, hahahaha. Sampai sekarang aku masih merasa mereview buku itu sebenarnya sulit lho. Kurang lebih harus mensarikan pengalaman membaca kita—memberikan analisis penilaian, kritik, kesan atas buku yang baru kita baca—dalam bahasa yang luwes untuk dinikmati pembaca blog, dan harus objektif juga, supaya nggak kebanyakan curcol atau misuh-misuh di review ^^v. Setelah beberapa waktu bikin review terus biasanya jadi jenuh, aura pas baca buku juga jadi ‘berat’ karena malah terus-menerus kepikiran apa yang harus ditulis di review nantinya, bukannya menikmati cerita. Solusinya, aku biasanya rehat dulu dengan baca buku yang santai, yang tujuannya memang bukan buat direview hanya untuk dinikmati saja.




Fantasy dan Scifi. Apa pendapat kamu tentang dua genre ini? Mana yang paling kamu suka?

I grew up with fantasy! Fantasi adalah genre yang paling paling aku suka sedari kecil. Imajinasiku tumbuh bareng-bareng Harry Potter, anak-anak Pevensie di Narnia, Eragon, Frodo dan kawan-kawannya. Dulu aku lebih suka fantasi dibanding sci-fi, kerasa lebih seru dan ajaib kali ya. Tapi sekarang makin menggemari sci-fi juga, kagum kalau menemukan cerita yang alurnya fantastis tapi ‘masuk akal’.


Harapan kamu buat Bebi yang Hut ke 4 tahun ini?


Semoga panjang umur dan jaya selalu! ^o^ Semoga membernya makin banyak dan makin dekat juga hubungan antar anggota. Semoga semakin jadi ‘kiblat’ bagi pembaca Indonesia yang ingin menemukan dan membaca buku-buku bagus ^^


Pertanyaan terakhir. Apa saja rekomendasi buku Fantasy dan Scifi yang wajib dibaca sama book lovers Indonesia?


Waduh, bingung jawabnya, soalnya banyak! The Lord of The Rings, buku-bukunya Neil Gaiman (penulis fantasi favoritku), aku juga merekomendasikan karya-karya SFF klasik seperti Ender’s Game, 1984, Lord of the Flies, Peter Pan... huhu banyak pokoknya.





Terima kasih atas waktu dan kesempatannya. Semoga bisa berkarya dan menang lomba-lomba resensi di tahun ini. Sukses buat kuliahnya.


Sama-sama. Aamiin. Doain biar aku cepet dapat kerja mapan aja Bang, heheh.


Ps: Kunjungin juga post keren BBI lainnya disini

Comments