Sunday, 15 January 2017

Serunya Bakuman! Bakuman Vol.1



Sebagai pelengkap dan pengingat serunya manga "Bakuman", akan ada 20 catatan singkat tentang komik ini. Sebagian besar materi catatan sudah ada di Goodreads pribadi. Kalau ada kalimat dengan tanda kurung itu adalah komentar saya saat menulis ulang catatan tersebut di postingan blog.

Bagi kamu yang ingin mengikuti seri Bakuman, ini komik yang WAJIB kamu PUNYA. OK, ini dia serangkaian catatan tersebut. Selamat mengikuti.

Sunday, 8 January 2017

"Aku, Meps, dan Beps oleh Soca Sobhita dan Reda Gaudiamo."

"Sketsa-sketsa masa kecil yang memikat"




Dijamin akan ceriakan harimu. (c) https://www.instagram.com/post_santa/

Sejak pertama kali duo POST Santa (toko buku independen di Pasar Santa, Jakarta), Teddy dan Maesy memberi teaser proyek buku pertama mereka. Saya langsung penasaran. Kira-kira karya seperti apa yang mereka terbitkan. Membayangkannya saja sudah sangat seru. Ini akan dilihat sebagai sebuah sejarah. Katakanlah begitu. Keluaran perdana penerbit akan menjadi sebuah memori bagi para pembaca. Sudah tentu. Sebuah pencapaian yang boleh dibilang fenomenal, kan. Di derasnya arus penerbitan mainstream, Teddy cs berupaya mendirikan penerbitan independen yang dinamai POST Press.

Tuesday, 3 January 2017

Ulasan The Architecture of Love oleh Ika Natassa

Ketika cinta bertemu di New York.

 


So far novel mbak Ika yang baru saja saya habiskan adalah yang tercepat dibaca. Entah mengapa membaca cerita penulis sekaligus bankir asal Medan ini seakan mengalir lancar begitu saja. Jujur, saya sangat menikmati membacanya. Begitu sampai di minggu terakhir menjelang akhir tahun, buku bersampul Empire State Building dengan corak abu-abu ini berhasil saya lahap dalam waktu singkat kemarin.

Bagian mana yang menarik? Apa kesan saya ketika membaca karya terbaru Ika Natassa, penulis  bestseller A Very Yuppy Wedding, Divortiare, Twivortiare, Antologi Rasa & Critical Eleven?

Selamat Datang 2017

Menjadi awal yang baik apabila kita sedikit meluangkan waktu untuk membuat resolusi ataupun rencana ke depan. Baik dalam pekerjaan, sekolah, dan lain sebagainya membuat semacam harapan tentu sangat baik untuk dilakukan. Setidaknya kita jadi lebih terfokus dalam menggapai rencana tersebut. 

Di post perdana kali ini. Saya sebelumnya ingin mengucapkan selamat tahun baru 2017 buat kamu semua. Semoga selalu dalam keadaan sehat dan sukses (Amin!) di tahun yang baru. Jadi kira-kira apa rencana Haremi Book Corner di tahun 2017?

Mari simak bersama.

Tuesday, 25 October 2016

Ulang Tahun Blog ke Tiga!



Wah nggak kerasa blog buku ini udah menginjak tahun ketiga. Nggak nyangka juga sih. Ingatku itu ya sekitar bulan Oktober. Nggak ingat persis tanggalnya. And then malam ini aku coba ngecek blog. Kapan persisnya post perdana. Eitss tanggal 20 ternyata. Udah kelewatan.

Lewat postingan kali ini. Aku ingin mengucapkan banyak terima kasih untuk para pembaca Haremi Book Corner. Satu yang teramat penting kawan. Postingan ini saya dedikasikan untuk Kong saya. Beliaulah yang memupuk benih membaca saya sejak sd. Beliaulah yang memahami cucunya sangat terbatas bacaannya. Beliau berbaik hati berlangganan suratkabar di rumahnya. Waktu sd saya belum tahu rentalan komik soalnya. 

Di ulang tahun ketiga blog ini. Apa sih rencana-rencana ke depan?

Monday, 26 September 2016

Hidup di Luar Tempurung oleh Benedict Anderson.




"Memoar yang berkesan"


Nama Benedict Anderson-seingat saya-pertama kali saya jumpai saat membaca
Tempo edisi spesial. Setiap tahunnya dalam satu edisi Tempo akan mengangkat kembali peristiwa 1965. Kali itu tema besarnya tentang keterlibatan pihak asing dalam peristiwa 65. Di sana saya membaca reportase yang menyebut keterkaitan "Cornell Paper" dengan musabab meletusnya peristiwa yang secara praktis melahirkan masa orde baru. 
Cornell Paper sendiri adalah sebuah kajian awal yang dibentuk oleh para akademisi kajian Asia Tenggara di Universitas Cornell, termasuk Ben sendiri. Sesuatu yang akhirnya membuat Ben tidak dapat kembali berkunjung ke negeri yang dicintainya ini. Boleh jadi ini salah satu sebab yang membuat sosok Ben melambung tinggi di mata dunia internasional. Otobiografi Ben Anderson yang bertajuk "Hidup di Luar Tempurung" menyajikan sekelumit kisah hidupnya secara lugas, serius, namun dibarengi dengan selera humor yang tak kalah menarik.
***
Saya senang-senang saja membaca "Hidup di Luar Tempurung" yang sejak awal sudah ditulis dengan begitu menarik. Meskipun belum membaca karya terbarunya "Di Bawah Tiga Bendera: Anarkisme Global dan Imajinasi Antikolonial" (buku ini entah kenapa belum menggugah saya untuk membacanya), apa lagi karya fenomenal beliau "Imagined Communities". Sekadar info kedua buku ini sudah tersedia versi Indonesianya. 
Seolah-olah seorang kakak tingkat di kampus (setelah beberapa lama merantau dan bekerja) yang sedang mengajak diskusi dan tanpa sungkan berbagi kisah hidupnya. Di bayangan saya, sang senior ini bicara panjang lebar sembari menyorongkan kacang (sebagai pembuka) dan berbotol-botol bir dingin, lalu datang sate kambing, tongseng, dan seporsi lagi gulai. Aduhai aromanya. Tanpa memedulikan kolesterol jahat, berasyik masyuk bertukar cerita dengan kawan-kawannya. Diselingi ketawa haha-hihi sepanjang obrolan. Ya begitu lah rasanya menikmati memoar ini. 


"Komparasi yang baik kerap berasal dari pengalaman keasingan dan ketidakhadiran."

Ben pribadi merasa beruntung diperhadapkan pada poros dunia dengan bekal kehidupan dan pendidikan yang terbilang mumpuni. Kerja keras dan sepak terjang beliau rasanya sangat dirasakan oleh banyak orang. Tak terkecuali para akademisi asal Indonesia yang mengenyam pendidikan pasca sarjana di sana. Juga Eka Kurniawan yang berhasil diyakinkan untuk membuat terjemahannya. Menurut penulis, Eka punya kelas tersendiri, jauh di atas para penulis Asia Tenggara. "Betapa indah, puitis, dan pelik kalimat-kalimatnya" ungkap pria kelahiran Tiongkok ini. Eka sendiri mengaku seperti dihantui saat kerap kali ditanya Ben, perihal penerjemahan novel karyanya. Saya kira semua itu demi karya Eka dapat menemukan pembaca yang lebih luas. Selain Ben memang memiliki perhatian khusus soal penerjemahan. 26 September 2016, Eka Kurniawan berhasil meraih penghargaan 'FT/OppenheimerFunds Emerging Voices' kategori fiksi

Selain menuliskan pengalaman serunya saat kerja lapangan di Indonesia. Gegar Budaya yang dialami. Soal sebutan "Bule". Penulis juga secara lugas memberikan pandangan pribadi soal budaya Jawa yang memesonanya. Selama di Indonesia dia mengaku sangat terkesan saat mewawancarai mantan laksamana muda "Maeda Tadeshi". Sosok penting di balik kemerdekaan kita.

Tidak lengkap rasanya kalau tidak menuliskan soal dunia akademik dalam tulisan ini. Ben memberikan pemikirannya seputar dunia akademis yang dengan memikat membuat pembaca seolah ingin kembali ke bangku kuliah. Menjumpai dosen dan kawan-kawan kuliah. Praktikum hingga mencari literatur untuk tugas akhir. Penulis berbagi kesenangan menjadi seorang peneliti. Ilmuwan. Lalu apa saja nilai-nilai yang sebaiknya kita rengkuh untuk menjadi akademisi yang mumpuni. Seluk beluk dunia perguruan tinggi yang menjadi refleksi panjang penulis. Rasanya bisa menjadi cerminan bagi dunia akademis kita. Sejauh mana dorongan besar perguruan tinggi untuk mendidik mahasiswa menjadi pribadi yang "ke luar dari tempurung" atau sekadar menunaikan tugasnya menghasilkan lulusan yang "profesional"?

Bagi pembaca setia karya dan tulisan Ben, di sini Anda dapat secara langsung membaca cerita di balik layar kerja kreatif beliau. Tetap setia berada di jalurnya. Meski saat menelurkan karya, pernah juga tidak diapresiasi teman sejawat. Seolah Ben hanya menumpang nama besar Kahin, sang senior. Lewat memoar ini bisa jadi pembaca akan sedikit lebih banyak memahami isi kepala sang penulis.

Tanpa berpanjang lebar. Memoar ini mungkin sudah asyik dari sananya. Tapi tanpa suntingan dan terjemahan yang apik dari Ronny Agustinus, kita tidak dapat menikmati karya Om Ben ini. Begitu luwes kalimat-kalimatnya dan sungguh personal. Harus diakui selain penceritaan yang runut dan sistematis, pemikiran dan pengalaman Om Ben sendiri membuat buku ini semakin berkesan.

Karya Marjin Kiri ini saya rekomendasikan untuk dibaca oleh kalangan akademisi, pengagum Om Ben, pembaca biografi, dan penikmat buku bagus di Indonesia.

Hidup di Luar Tempurung oleh Benedict Anderson terbit perdana di Juli, 2016. Diterbitkan oleh Marjin Kiri. Penerjemah Ronny Agustinus.

Sunday, 28 August 2016

Kolaborasi Menulis Antologi "Aku dan Buku"



Pada bulan kemerdekaan seperti sekarang, saya ingin mengajukan pertanyaan: “Dapatkah kita membayangkan kemerdekaan tanpa buku?” demikian kalimat pembuka tulisan mbak Najwa yang saya baca di laman kompas(dot)com. Isinya kurang lebih mengajak kita semua untuk turut berpartisipasi dalam mengembangkan kegiatan literasi. Musababnya minat membaca kita terseok-seok ketika dilihat oleh kacamata beragam survei. Namun di bangsa yang besar ini tersimpan sebuah harapan besar. Kelak tua maupun muda adalah generasi yang suka membaca.

Di tengah perenungan. Saya mendapati kalau minat membaca seseorang akan tumbuh ketika ada teladan dari seseorang. Kebiasaan asyik membaca koran sembari menyeruput kopi di pagi hari, misalnya. Contoh dari siapa saja sebenarnya, bisa orang tua, teman, kakak yang usil sekalipun (dengan novel segudang di kamarnya), atau guru yang setiap hari bersentuhan di sekolah. Bill Gates, sang filantropis pun secara tidak sengaja menyukai bacaan dan belajar karena Ibu Caffiere yang baik hati merangkul Bill kecil. Pengakuan itu dapat kita baca dalam jurnal pribadinya yang diberi judul “A Teacher Who Changed My Life”.

Tergerak dari hal tersebut. Saya meniatkan hati membuat sebuah buku (kumpulan tulisan) yang berisikan pengalaman seru teman-teman dengan buku. Harapannya virus membaca dapat menyebar dengan luas.








Lewat tulisan ini, saya mengundang teman-teman yang tergerak untuk ikut bergabung dalam antologi narasi bertema “Aku dan Buku”. Buku tersebut akan diterbitkan secara swa-terbit. Menemui pembacanya dan lebih dari itu semoga bisa memberi secangkir besar kebahagiaan dan menularkan kecintaan membaca.

Naskah tulisan yang diterima tidak terbatas bentuknya. Misalnya harus seperti artikel atau esai di surat kabar & majalah. Tidak melulu harus serius, pokoknya narasi kamu menarik dan personal. Contohnya kamu bisa bercerita kegemaranmu berburu buku langka, pengalaman seru mengunjungi perpustakaan daerah sejak kecil, perjalanan ke negeri laskar pelangi, bahagia dan grogi kala bertemu dengan penulis idola, suka duka menjadi penggiat literasi, dan sebagainya. Gaya narasi bebas.

















“Sebab menyiapkan generasi yang menyenangi buku adalah tugas besar bersama. Sekarang!”
Jika kamu berminat. Sila membaca info detailnya di bawah:
1. Syarat Naskah.
Karya ditulis dalam bahasa Indonesia minimal 3 halaman, atau maksimal 6 halaman A4, diketik rapi dalam file Microsoft Word spasi: 1.5, dengan font: Times New Roman, ukuran font: 11pt, dengan margin sesuai standar Microsoft Word.

Judul dan bentuk tulisan bebas, dengan tetap sesuai dengan tema: Aku dan Buku. Harap dicatat. Siapa saja dapat mengirimkan karyanya. Namun setiap penulis hanya boleh mengirimkan satu karya terbaiknya. Periode penerimaan naskah diperpanjang hingga 13 September 2016.

2. Cara Berpartisipasi.
  • Menulis narasi sesuai tema “Aku & Buku” yang sudah diketik rapi dalam file Microsoft Word.
  • Kirimkan naskah tersebut beserta data diri: Nama, Alamat, No. handphone, No. KTP (Atau kartu pelajar), Twitter account (Jika ada), Alamat facebook (Jika ada), ke alamat email: stevensitongan@gmail.com (berupa file lampiran- attach files, bukan di body email) dengan format subject email dan nama file sebagai berikut:[AkudanBuku] — [Judul tulisan]– [Nama Penulis]. Contoh: AkudanBuku — Ada Apa Dengan Buku? — Budianto Kurniawan.
  • Setiap penulis dimohon juga membuat paragraf singkat maksimal 5 (lima) kalimat untuk memperkenalkan diri, untuk profil penulis di dalam buku yang akan terbit. Kami sarankan penulis mencantumkan akun Twitter-nya masing-masing karena bisa jadi saran contact pembaca atau penerbit yang tertarik atas karyamu. Profil singkat ini boleh ditulis di badan email.
3. Ketentuan tambahan.

Karya tersebut belum pernah diterbitkan dalam media nasional mana pun (jika pernah diposting di blog atau FB notes masih boleh), dan merupakan karya asli penulis. Dengan mengikuti lomba ini, berarti penulis menyatakan bahwa karya tersebut adalah murni karya aslinya dan jika ada tuntutan pelanggaran hak kekayaan intelektual maka akan menjadi tanggung jawab penulis.

4. Perihal penilaian dan seleksi yang dilakukan. Seluruh tulisan yang masuk akan diseleksi berdasarkan faktor-faktor sebagai berikut:
  • Kesesuaian isi tulisan dengan tema.
  • Originalitas.
  • Teknik penulisan yang menarik dibaca.
  • Sesuai dengan syarat yang telah ditentukan.
Tulisan akan dipilih oleh tim. Keputusan tim adalah mutlak dan tidak dapat diganggu-gugat.

5. Perihal Pengumuman Naskah & Royalti, dll.
  • Untuk mengikuti antologi ini tidak dipungut biaya, gratis!.
  • Daftar lengkap penulis yang terpilih akan diumumkan lewat blog, akun twitter @h23bc dan dihubungi via email pada tanggal 8 September 2016.
  • 10 narasi terpilih akan diterbitkan secara self-published dalam satu buku, masing-masing penulis akan mendapatkan 1 eksemplar buku tersebut secara gratis. Dalam perkembangannya, jumlah naskah terpilih untuk dibukukan dapat berubah sesuai kebijakan tim redaksi.
Atas penerbitan buku ini para penulis diberikan dua pilihan:
  1. Menerima kompensasi dalam bentuk royalti.
  2. Royalti hasil penjualan buku akan turut kita sumbangkan kepada Taman Bacaan Masyarakat atau yayasan penggerak literasi di daerah.
Begitu pun juga dengan semua profit penjualan yang kelak diperoleh dari penerbitan buku ini. Detail mengenai penyerahan sumbangan royalti ini akan dikelola oleh saya pribadi, dibantu dengan tim. Dan akan dicantumkan dalam blog.

Hak cipta karya yang terpilih berada di pihak penerbit. Seluruh karya akan melalui proses editing dan desain layout oleh tim sebelum buku diterbitkan.

Kirim karyamu mulai hari ini dan perhatikan deadline-nya yang tiba pada hari Senin, 5 September 2016 pukul 23.59 WIB.
Selamat menulis.

Friday, 26 August 2016

Unduh Gratis! Buku "Dari Buku Ke Hati"






Dirilis 28 Desember 2015, "Dari Buku Ke Hati" menampilkan artikel dan review buku yang menarik bagi saya di tahun 2015. Silakan mengunduh buku diatas dengan senang hati disini http://bit.ly/1QPY2yH

Tanggapan dan review akan sangat bermanfaat. Sila mention di @h23bc. Selamat membaca.

Comments system

Disqus Shortname