Friday, 24 February 2017

Ulasan Buku: "Kisah Saya-My Story" oleh Steven Gerrard.


Mengesankan. Fantastis.




*Steven Gerrard sang bocah yang menjalani kehidupan impiannya bersama Liverpool.

* Bermain di liga Premier Inggris bukan persoalan mudah.
* Beban bermain untuk timnas Inggris terlalu berat. Selain itu Timnas selalu diisi oleh pemain bintang. Banyak ego di dalamnya.

Kabar menyenangkan saya dapatkan saat melihat kabar biografi Steven Gerrard akan dirilis bulan Februari 2017. Setelah setahun silam, biografi Andrea Pirlo juga diterbitkan oleh penerbit yang sama, KPG. Seakan sudah menjadi tradisi setiap tahun ada sebuah buku bertema sepakbola akan menyapa pembaca Indonesia. "Kisah Saya" merupakan rangkuman apa yang dirasakan sang kapten selama masa 27 tahun karir sepakbola miliknya, 17 tahun mengesankan diantaranya di tim utama klub yang sama, Liverpool.



Stevie G, layak dikenang sebagai salah seorang pemain terbaik di dunia. Mungkin tidak dalam mendekati level seperti "Messi" atau "Ronaldo-CR7". Namun eksplosivitas, kemampuan terbaik mengangkat tim, dan kinerja memukau di lapangan membuat sang Skipper berada di hati banyak penggemar berat Liverpool. Saya rasa hal yang sama juga berada di benak khalayak pecinta sepakbola.



Ditulis bersama Donald McRae, Stevie menuangkan isi hatinya yang terdalam di "Kisah Saya". Bertahun-tahun mendapati pasang surut tim kebanggaannya, pemilik nomor 8 ini tentu mengenal lebih baik isi perut tim (Liverpool dan timnas Inggris) ketimbang pundit maupun analis di mana pun. Membaca buku ini di satu sisi menghadirkan sisi emosional, sekaligus rasa penasaran akan apa yang terjadi di balik layar skuad bersimbol burung Liver merah itu.




Gerrard mengupas perjalanan karirnya dimulai dari penyesalan ketika "terpeleset" di partai melawan Chelsea, pasang surut tim bersama para nahkoda "Pool", hingga akhir perjalanan dirinya bersama klub tercinta. Apa yang terjadi dua-tiga tahun terakhir, tentu mendapat tempat dengan porsi lebih di buku ini. Perpisahan dengan Suarez, salah satu pemain favoritnya adalah salah satu hal terberat dalam karir ayah tiga putri tersebut.



Berawal dari impian, disiplin dan semangat untuk maju, Gerrard membawa pulang beberapa gelar juara bagi Liverpool. Salah satu yang paling berkesan, tentu saja, adalah "keajaiban Istabul". Di satu sisi, heroiknya tim besutan Rafa Benitez menggulung AC Milan memberikan gelar eropa pertama bagi Gerrard. Di sisi koin kegagalan ini sangat menyakitkan bagi seorang Andrea Pirlo. Seolah takdir, beberapa tahun berikut, di tahun 2007. Pirlo berhasil membalas kepedihan tersebut di final Liga Champions Athena.



Sebagai seorang kapten. Kita dapat melihat dan sedikit merasakan beban yang ditaruh di pundak Gerrard. Di rehat musim panas. Selain menyemangati pemain andalan, semua pemain di tim, dia diberikan "tugas" buat merayu, -tidak kesannya terlalu rendah- mengajak pemain incaran Liverpool untuk bergabung. Memang tidak mudah. Tapi tentu tidak ada usaha yang tidak berarti.

 Di mata Gerrard, kita juga akan melihat, bahwa bermain di liga Premier bukanlah hal yang mudah. Bakat, kemampuan teknis, dan banyak hal lainnya yang saling bertautan, menentukan si pemain mampu bersaing di liga paling kompetitif sedunia. Belum lagi masalah dengan pers lokal yang doyan menguliti pemain. Kemampuan fisik itu yang dirasakan Gerrard, merupakan salah satu prasyarat seorang pemain mampu berkompetisi di EPL. Bek tangguh EPL bukan masalah mudah bagi seorang Aspas, Ballotelli, misalnya.



Beberapa hal lainnya yang tak kalah menohok adalah seperti kata pepatah "habis manis sepah dibuang", pemain kerap tidak diberi penghormatan secara sepantasnya oleh pihak klub.



Selagi membaca buku ini dengan lahap. Saya teringat masa nonbar pertama di markas Big Reds Jogja. "Stu!" kau, pahlawanku malam itu. Memori malam Liga Champions saat masih duduk di bangku sekolah. Permainan kelas wahid yang disuguhkan Pool saat mentas di kasta tertinggi Eropa. Beberapa momen saya langsung cari videonya di youtube. Seperti gol Gerrard kala melawan Olympiakos di tahun 2005. Tontonan yang berujung dengan melihat video gol-gol legendaris milik Gerrard. Tendangan-tendangan spekakuler yang mengangkat performa tim dan memberikan dampak luar biasa bagi fans dan kawan sepermainan. Sang kapten mengupas perjalanan Liverpool bersama dirinya selama satu dekade terakhir itu rasanya wow. Mengesankan.



Keputusan terbaik Gerrard adalah mendengarkan suara hatinya. Tidak pindah ke Chelsea. Meski begitu diidolakan oleh Mourinho. Belum diberi kesempatan mengangkat piala Liga Premier, bukanlah sebuah kegagalan telak bagi penggemar setia Liverpool.



Hal menyenangkan lainnya adalah lewat buku ini, saya menyadari, pesepakbola juga adalah manusia biasa. Mereka kerap tidak tahan akan tekanan, emosi, dan perlakuan negatif dari pihak luar. Gerrard menceritakan banyak inside story di dalam buku ini, momen demi momen terbaik dalam karir panjangnya di sepakbola, dan menegaskan sikap jangan jumawa sebelum meraih gelar tertinggi, dan memberikan prestasi bagi klub dan tim nasional.



Salah satu pesannya, bagi pemain muda.



"Gairah dibutuhkan di usia muda, masa-masa ketika seorang pemain bisa hidup dari kecintaannya terhadap sepak bola dan memperdalamnya melalui disiplin dan dedikasi. Para pemain berbakat yang bersedia mengorbankan segalanyalah yang akan menjadi pemain seperti Michael Owen, Jamie Carragher, dan John Terry."



Akhir kata. Buku ini bagi saya adalah bacaan wajib penggemar berat Liverpool. OK sang kapten sudah pensiun di Anfield. Sekarang saatnya move on. Era baru bersama Klopp. Namun dia adalah pemain, kapten terbaik yang pernah dimiliki Liverpool. Coba temukan apa saja cerita dalam perjalanannya menjadi kapten di sana. Salut untuk dedikasi, disiplin, dan semangatmu, KAPTEN!

Tuesday, 17 January 2017

Ulasan: "50 Kisah Tentang Buku, Cinta, & Cerita-Cerita di Antara Kita" oleh Salman Faridi


"Serba-serbi soal dunia penerbitan yang menarik"



Di awal 2017, Salman Faridi yang tulisannya akrab kita jumpai di CEO Note Bentang Pustaka menuangkan pemikirannya lewat buku yang bertajuk "50 kisah tentang buku, cinta, dan cerita-cerita di antara kita". Bermula dari editor DAR Mizan, Kang Salman saat ini menakhodai lini penerbitan Bentang Pustaka, raksasa (kalau boleh dibilang seperti itu) dari Jogja, memiliki pandangan optimis terkait industri buku Indonesia. Tulisan yang lugas, padat, dan tepat sasaran. 

Haremi Book Corner mencoba merangkum apa saja hal menarik yang ditulis pencinta buku asal Bandung ini, mari kita simak bersama.

Sunday, 15 January 2017

Serunya Bakuman! Bakuman Vol.1



Sebagai pelengkap dan pengingat serunya manga "Bakuman", akan ada 20 catatan singkat tentang komik ini. Sebagian besar materi catatan sudah ada di Goodreads pribadi. Kalau ada kalimat dengan tanda kurung itu adalah komentar saya saat menulis ulang catatan tersebut di postingan blog.

Bagi kamu yang ingin mengikuti seri Bakuman, ini komik yang WAJIB kamu PUNYA. OK, ini dia serangkaian catatan tersebut. Selamat mengikuti.

Sunday, 8 January 2017

"Aku, Meps, dan Beps oleh Soca Sobhita dan Reda Gaudiamo."

"Sketsa-sketsa masa kecil yang memikat"




Dijamin akan ceriakan harimu. (c) https://www.instagram.com/post_santa/

Sejak pertama kali duo POST Santa (toko buku independen di Pasar Santa, Jakarta), Teddy dan Maesy memberi teaser proyek buku pertama mereka. Saya langsung penasaran. Kira-kira karya seperti apa yang mereka terbitkan. Membayangkannya saja sudah sangat seru. Ini akan dilihat sebagai sebuah sejarah. Katakanlah begitu. Keluaran perdana penerbit akan menjadi sebuah memori bagi para pembaca. Sudah tentu. Sebuah pencapaian yang boleh dibilang fenomenal, kan. Di derasnya arus penerbitan mainstream, Teddy cs berupaya mendirikan penerbitan independen yang dinamai POST Press.

Tuesday, 3 January 2017

Ulasan The Architecture of Love oleh Ika Natassa

Ketika cinta bertemu di New York.

 


So far novel mbak Ika yang baru saja saya habiskan adalah yang tercepat dibaca. Entah mengapa membaca cerita penulis sekaligus bankir asal Medan ini seakan mengalir lancar begitu saja. Jujur, saya sangat menikmati membacanya. Begitu sampai di minggu terakhir menjelang akhir tahun, buku bersampul Empire State Building dengan corak abu-abu ini berhasil saya lahap dalam waktu singkat kemarin.

Bagian mana yang menarik? Apa kesan saya ketika membaca karya terbaru Ika Natassa, penulis  bestseller A Very Yuppy Wedding, Divortiare, Twivortiare, Antologi Rasa & Critical Eleven?

Selamat Datang 2017

Menjadi awal yang baik apabila kita sedikit meluangkan waktu untuk membuat resolusi ataupun rencana ke depan. Baik dalam pekerjaan, sekolah, dan lain sebagainya membuat semacam harapan tentu sangat baik untuk dilakukan. Setidaknya kita jadi lebih terfokus dalam menggapai rencana tersebut. 

Di post perdana kali ini. Saya sebelumnya ingin mengucapkan selamat tahun baru 2017 buat kamu semua. Semoga selalu dalam keadaan sehat dan sukses (Amin!) di tahun yang baru. Jadi kira-kira apa rencana Haremi Book Corner di tahun 2017?

Mari simak bersama.

Tuesday, 25 October 2016

Ulang Tahun Blog ke Tiga!



Wah nggak kerasa blog buku ini udah menginjak tahun ketiga. Nggak nyangka juga sih. Ingatku itu ya sekitar bulan Oktober. Nggak ingat persis tanggalnya. And then malam ini aku coba ngecek blog. Kapan persisnya post perdana. Eitss tanggal 20 ternyata. Udah kelewatan.

Lewat postingan kali ini. Aku ingin mengucapkan banyak terima kasih untuk para pembaca Haremi Book Corner. Satu yang teramat penting kawan. Postingan ini saya dedikasikan untuk Kong saya. Beliaulah yang memupuk benih membaca saya sejak sd. Beliaulah yang memahami cucunya sangat terbatas bacaannya. Beliau berbaik hati berlangganan suratkabar di rumahnya. Waktu sd saya belum tahu rentalan komik soalnya. 

Di ulang tahun ketiga blog ini. Apa sih rencana-rencana ke depan?

Monday, 26 September 2016

Hidup di Luar Tempurung oleh Benedict Anderson.




"Memoar yang berkesan"


Nama Benedict Anderson-seingat saya-pertama kali saya jumpai saat membaca
Tempo edisi spesial. Setiap tahunnya dalam satu edisi Tempo akan mengangkat kembali peristiwa 1965. Kali itu tema besarnya tentang keterlibatan pihak asing dalam peristiwa 65. Di sana saya membaca reportase yang menyebut keterkaitan "Cornell Paper" dengan musabab meletusnya peristiwa yang secara praktis melahirkan masa orde baru. 
Cornell Paper sendiri adalah sebuah kajian awal yang dibentuk oleh para akademisi kajian Asia Tenggara di Universitas Cornell, termasuk Ben sendiri. Sesuatu yang akhirnya membuat Ben tidak dapat kembali berkunjung ke negeri yang dicintainya ini. Boleh jadi ini salah satu sebab yang membuat sosok Ben melambung tinggi di mata dunia internasional. Otobiografi Ben Anderson yang bertajuk "Hidup di Luar Tempurung" menyajikan sekelumit kisah hidupnya secara lugas, serius, namun dibarengi dengan selera humor yang tak kalah menarik.
***
Saya senang-senang saja membaca "Hidup di Luar Tempurung" yang sejak awal sudah ditulis dengan begitu menarik. Meskipun belum membaca karya terbarunya "Di Bawah Tiga Bendera: Anarkisme Global dan Imajinasi Antikolonial" (buku ini entah kenapa belum menggugah saya untuk membacanya), apa lagi karya fenomenal beliau "Imagined Communities". Sekadar info kedua buku ini sudah tersedia versi Indonesianya. 
Seolah-olah seorang kakak tingkat di kampus (setelah beberapa lama merantau dan bekerja) yang sedang mengajak diskusi dan tanpa sungkan berbagi kisah hidupnya. Di bayangan saya, sang senior ini bicara panjang lebar sembari menyorongkan kacang (sebagai pembuka) dan berbotol-botol bir dingin, lalu datang sate kambing, tongseng, dan seporsi lagi gulai. Aduhai aromanya. Tanpa memedulikan kolesterol jahat, berasyik masyuk bertukar cerita dengan kawan-kawannya. Diselingi ketawa haha-hihi sepanjang obrolan. Ya begitu lah rasanya menikmati memoar ini. 


"Komparasi yang baik kerap berasal dari pengalaman keasingan dan ketidakhadiran."

Ben pribadi merasa beruntung diperhadapkan pada poros dunia dengan bekal kehidupan dan pendidikan yang terbilang mumpuni. Kerja keras dan sepak terjang beliau rasanya sangat dirasakan oleh banyak orang. Tak terkecuali para akademisi asal Indonesia yang mengenyam pendidikan pasca sarjana di sana. Juga Eka Kurniawan yang berhasil diyakinkan untuk membuat terjemahannya. Menurut penulis, Eka punya kelas tersendiri, jauh di atas para penulis Asia Tenggara. "Betapa indah, puitis, dan pelik kalimat-kalimatnya" ungkap pria kelahiran Tiongkok ini. Eka sendiri mengaku seperti dihantui saat kerap kali ditanya Ben, perihal penerjemahan novel karyanya. Saya kira semua itu demi karya Eka dapat menemukan pembaca yang lebih luas. Selain Ben memang memiliki perhatian khusus soal penerjemahan. 26 September 2016, Eka Kurniawan berhasil meraih penghargaan 'FT/OppenheimerFunds Emerging Voices' kategori fiksi

Selain menuliskan pengalaman serunya saat kerja lapangan di Indonesia. Gegar Budaya yang dialami. Soal sebutan "Bule". Penulis juga secara lugas memberikan pandangan pribadi soal budaya Jawa yang memesonanya. Selama di Indonesia dia mengaku sangat terkesan saat mewawancarai mantan laksamana muda "Maeda Tadeshi". Sosok penting di balik kemerdekaan kita.

Tidak lengkap rasanya kalau tidak menuliskan soal dunia akademik dalam tulisan ini. Ben memberikan pemikirannya seputar dunia akademis yang dengan memikat membuat pembaca seolah ingin kembali ke bangku kuliah. Menjumpai dosen dan kawan-kawan kuliah. Praktikum hingga mencari literatur untuk tugas akhir. Penulis berbagi kesenangan menjadi seorang peneliti. Ilmuwan. Lalu apa saja nilai-nilai yang sebaiknya kita rengkuh untuk menjadi akademisi yang mumpuni. Seluk beluk dunia perguruan tinggi yang menjadi refleksi panjang penulis. Rasanya bisa menjadi cerminan bagi dunia akademis kita. Sejauh mana dorongan besar perguruan tinggi untuk mendidik mahasiswa menjadi pribadi yang "ke luar dari tempurung" atau sekadar menunaikan tugasnya menghasilkan lulusan yang "profesional"?

Bagi pembaca setia karya dan tulisan Ben, di sini Anda dapat secara langsung membaca cerita di balik layar kerja kreatif beliau. Tetap setia berada di jalurnya. Meski saat menelurkan karya, pernah juga tidak diapresiasi teman sejawat. Seolah Ben hanya menumpang nama besar Kahin, sang senior. Lewat memoar ini bisa jadi pembaca akan sedikit lebih banyak memahami isi kepala sang penulis.

Tanpa berpanjang lebar. Memoar ini mungkin sudah asyik dari sananya. Tapi tanpa suntingan dan terjemahan yang apik dari Ronny Agustinus, kita tidak dapat menikmati karya Om Ben ini. Begitu luwes kalimat-kalimatnya dan sungguh personal. Harus diakui selain penceritaan yang runut dan sistematis, pemikiran dan pengalaman Om Ben sendiri membuat buku ini semakin berkesan.

Karya Marjin Kiri ini saya rekomendasikan untuk dibaca oleh kalangan akademisi, pengagum Om Ben, pembaca biografi, dan penikmat buku bagus di Indonesia.

Hidup di Luar Tempurung oleh Benedict Anderson terbit perdana di Juli, 2016. Diterbitkan oleh Marjin Kiri. Penerjemah Ronny Agustinus.

Comments system

Disqus Shortname