Skip to main content

Posts

Ubur-Ubur Lembur oleh Raditya Dika

Recent posts

Milea: Suara Dari Dilan

Milea: Suara Dari Dilan by Pidi Baiq
My rating: 4 of 5 stars

Akhirnya selesai baca trilogi Dilan, nggak tahu kalau taun depan terbit lagi. Hehehe.

Ya, baca buku Dilan 91 memang bikin nyesek. Gua akuin itu. Tapi setelah mengambil jeda panjang (setengah harian kurang sih, kalo diitung), saya buka buku bersampul abu-abu itu dan langsung termangut-mangut lihat prakata ((prakata)) dari si empunya cerita.

Iya nggak bisa juga dong, ngelihat cuman dari satu sisi aja. Kita butuh dua sisi pandang biar lebih tahu sesuatu dengan lebih clear.

Di sini Dilan, bercerita soal kehidupannya. Melengkapi dan memparipurnakan cerita yang sudah kita semua baca di dua seri awal. (bikin Rangkulan maya)

Sejujurnya saya menikmati aja, apa aja yang Ayah tulis disini. Soal masa kecil Dilan yang menggemazkan. Terus. Kenalan sama Milea. Dsb.

Jatuhnya, aku jadi bisa memaklumi dan setidaknya melihat cerita mereka dengan lebih baik.

Aman nih gua pikir.

Sebelum memasuki sepersekian akhir buku ini ditulis.

Man...

Tapi. Nggak se…

Dilan Bagian Kedua: Dia Adalah Dilanku Tahun 1991

Dilan Bagian Kedua: Dia Adalah Dilanku Tahun 1991 by Pidi Baiq
My rating: 5 of 5 stars

Seperti yang aku tulis di review Dilan 90, cerita di Dilan bagian kedua ini memang bikin lebih penasaran lagi. Kisahnya sendiri bersambung mulus dari Dilan 90.

Disini memang bisa dibilang konfliknya lebih memuncak. So on an on.

Tapi dibalik semuanya, aku cuman mau nulis, gue salut sama mbak Milea, atau siapapun namamu mbak, kisah hidupmu berkesan.

Gue nulis ini dengan mix feelings. Sumpah. (Di jam 2 pagi lebih lima menit), iya 2 seri aja butuh maraton dari jam 9 malem-2 pagi. Saya bukan speed reader.

Ceritamu beresonansi dengan kuat kepada pembaca. Itu yang kukira sebagai alasan kenapa buku ini layak diberi lima bintang. Nggak sabar nunggu versi filmnya juga.

Sh#$ masih ada 1 buku lagi. Gimana caranya biar bacanya nggak baper ya?

Overall buku ini, sekali lagi karena udah selentingan kabarnya memang kisah nyata, jadi bener-bener, apa ya, mau dibilang, touching, nggak, ya, ngena di hati aja.

View all my re…

Review Buku Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990

Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 by Pidi Baiq
My rating: 4 of 5 stars

Sebenarnya saya sudah nggak pengen baca novel ini, sebelum nonton filmnya.

Iya betul, saya pernah punya novel 1-2, dan tidak kebaca.

Sampai review di podcast Buku Kutu pun saya dengar, ah, nggak kebaca pun. Full spoiler deh. Tapi itu, kalau udah nggak baca, lihat review pun dijabanin.

Tapi setelah lihat filmnya. Kok bagus. Kok lucu ya.

Beli fisiknya deh. Langsung 3. Trilogi. Cie..

Malam ini dimulai jam 9, aku duduk dan tersenyum, cara ceritanya asyik, kayak lagi gimana gitu, iya ceritanya kayak denger temen lagi cerita gitu, sambil gue mengingat scene demi scence yang dijalankan Iqbal dan Vanessa dengan emejing.

Overall buku pertama ini asyik, dan terlepas dari itu, saya sudah menaruh sangka, ini kisah nyata, jadi makin penasaranlah aku. Berjuta penasaran.
Sampai sensasi setelah baca dua seri. (Lanjut ya di review Dilan 91). Waktu menunjukkan. Jam 2 pagi (waktu nulis ini).

Kisahnya bagus. Itu saja. Kalau belum baca. Bac…

Book Review: Jurnalisme Sastrawi

Jurnalisme Sastrawi: Antologi Liputan Mendalam dan Memikat by Agus Sopian
My rating: 5 of 5 stars

Tepat setengah satu siang setelah makan nasi kuning berlauk ikan, acar, perkedel, dan telur saya duduk menuliskan ulasan buku bagus yang baru selesai dibaca. Biar lebih maknyus. Nasi kuning tadi kutambah sesendok kecil sambal bawang Bu Rudy. Harumnya khas. Pedasnya jangan ditanya. Soal sambal botol yang belakangan selalu menemani menu ini kita bahas di lain waktu.

Judulnya: "Jurnalisme Sastrawi" Edisi Revisi. Antologi Liputan Mendalam dan Memikat. Sekadar tambah informasi. Dari buku inilah lahir antologi "Narasi", terbitan Pindai. Seperti judulnya buku ini menyimpan tulisan-tulisan yang memukau. Mulai dari pengisahan pecahnya demo yang berakhir tragis di Aceh, dualisme media waktu kerusuhan Ambon, asal mula majalah Tempo, hingga pengalaman terjun menemani tentara Rajawali di Aceh. Jurnalisme Sastrawi tergolong buku legendaris karena merupakan bunga rampai tulisan berge…

Book Review: The Four by Scott Galloway

The Four: The Hidden DNA of Amazon, Apple, Facebook, and Google by Scott Galloway
My rating: 4 of 5 stars

Scott Galloway bukan sekadar berteori tentang keempat kuda penguasa industri digital dunia. Dia seorang serialpreneur, sosok yang jatuh bangun di dunia industri teknologi. Pendiri L2, research firm digital, mengamati dari dekat para titan.

Unek-uneknya seru dan pemaparan yang simpel nan kritis tentang sepak terjang para raksasa itu.

Buku ini harus kamu baca bila: kamu ingin tahu resep makmur Amazon, Apple, FB, dan Google.

Kamu ingin membuat the next big thing di dunia startup,

atau sesederhana bagaimana bisa hidup kita dikelilingi (atau setidaknya dibayang-bayangi) oleh pengaruh para merek tersebut.

Penulis tidak hanya berhasil membukakan mata pembacanya. Ia juga memberikan beberapa tips bagaimana kita bisa berdayaguna di era digital.

Menarik dan membuka wawasan.

View all my reviews

Book Review: Koran Kami With Lucy in The Sky by Bre Redana (KPG)

Koran Kami with Lucy in The Sky by Bre Redana
My rating: 3 of 5 stars

Membuat koran itu mudah, kawan. Bebas.

Memori. Ini benang merah yang berkelindan sepanjang buku tipis tersebut.

Sepanjang waktu Bre bernostalgia soal masa-masa jurnalistik menjadi vocatio. Panggilan. Hingga simpang surut kehidupan. Era baru muncul. Digital menggantikan yang lama, kuteringat senjakala media cetak kolom penulis di Kompas minggu (yang kemudian ramai-ramai dibahas minggu demi minggu di berbagai media).

Tidak berlebihan ketika membaca Lucy in the sky, seolah kita sedang beriringan mendengarkan petuah-kisah manis-dari sosok yang paham luar dalam isi perut bisnis media.

Saya sendiri menikmatinya. Dari awal ceritanya mengalir. Tak terkesan kita sedang membaca sebuah memoar. Opini Bre kadang meledak di beberapa bagian. Mengkritisi hayat hidupnya yang dulu begitu disegani. Ini bukan pabrik sandal, pungkasnya. Hmm.

Tulisan bergenit-genit ria pun tak menjadi pembatas kenyamanan membaca buku ini. Saya anggap sebagai…