Monday, 26 September 2016

Hidup di Luar Tempurung oleh Benedict Anderson.




"Memoar yang berkesan"


Nama Benedict Anderson-seingat saya-pertama kali saya jumpai saat membaca
Tempo edisi spesial. Setiap tahunnya dalam satu edisi Tempo akan mengangkat kembali peristiwa 1965. Kali itu tema besarnya tentang keterlibatan pihak asing dalam peristiwa 65. Di sana saya membaca reportase yang menyebut keterkaitan "Cornell Paper" dengan musabab meletusnya peristiwa yang secara praktis melahirkan masa orde baru. 
Cornell Paper sendiri adalah sebuah kajian awal yang dibentuk oleh para akademisi kajian Asia Tenggara di Universitas Cornell, termasuk Ben sendiri. Sesuatu yang akhirnya membuat Ben tidak dapat kembali berkunjung ke negeri yang dicintainya ini. Boleh jadi ini salah satu sebab yang membuat sosok Ben melambung tinggi di mata dunia internasional. Otobiografi Ben Anderson yang bertajuk "Hidup di Luar Tempurung" menyajikan sekelumit kisah hidupnya secara lugas, serius, namun dibarengi dengan selera humor yang tak kalah menarik.
***
Saya senang-senang saja membaca "Hidup di Luar Tempurung" yang sejak awal sudah ditulis dengan begitu menarik. Meskipun belum membaca karya terbarunya "Di Bawah Tiga Bendera: Anarkisme Global dan Imajinasi Antikolonial" (buku ini entah kenapa belum menggugah saya untuk membacanya), apa lagi karya fenomenal beliau "Imagined Communities". Sekadar info kedua buku ini sudah tersedia versi Indonesianya. 
Seolah-olah seorang kakak tingkat di kampus (setelah beberapa lama merantau dan bekerja) yang sedang mengajak diskusi dan tanpa sungkan berbagi kisah hidupnya. Di bayangan saya, sang senior ini bicara panjang lebar sembari menyorongkan kacang (sebagai pembuka) dan berbotol-botol bir dingin, lalu datang sate kambing, tongseng, dan seporsi lagi gulai. Aduhai aromanya. Tanpa memedulikan kolesterol jahat, berasyik masyuk bertukar cerita dengan kawan-kawannya. Diselingi ketawa haha-hihi sepanjang obrolan. Ya begitu lah rasanya menikmati memoar ini. 


"Komparasi yang baik kerap berasal dari pengalaman keasingan dan ketidakhadiran."

Ben pribadi merasa beruntung diperhadapkan pada poros dunia dengan bekal kehidupan dan pendidikan yang terbilang mumpuni. Kerja keras dan sepak terjang beliau rasanya sangat dirasakan oleh banyak orang. Tak terkecuali para akademisi asal Indonesia yang mengenyam pendidikan pasca sarjana di sana. Juga Eka Kurniawan yang berhasil diyakinkan untuk membuat terjemahannya. Menurut penulis, Eka punya kelas tersendiri, jauh di atas para penulis Asia Tenggara. "Betapa indah, puitis, dan pelik kalimat-kalimatnya" ungkap pria kelahiran Tiongkok ini. Eka sendiri mengaku seperti dihantui saat kerap kali ditanya Ben, perihal penerjemahan novel karyanya. Saya kira semua itu demi karya Eka dapat menemukan pembaca yang lebih luas. Selain Ben memang memiliki perhatian khusus soal penerjemahan. 26 September 2016, Eka Kurniawan berhasil meraih penghargaan 'FT/OppenheimerFunds Emerging Voices' kategori fiksi

Selain menuliskan pengalaman serunya saat kerja lapangan di Indonesia. Gegar Budaya yang dialami. Soal sebutan "Bule". Penulis juga secara lugas memberikan pandangan pribadi soal budaya Jawa yang memesonanya. Selama di Indonesia dia mengaku sangat terkesan saat mewawancarai mantan laksamana muda "Maeda Tadeshi". Sosok penting di balik kemerdekaan kita.

Tidak lengkap rasanya kalau tidak menuliskan soal dunia akademik dalam tulisan ini. Ben memberikan pemikirannya seputar dunia akademis yang dengan memikat membuat pembaca seolah ingin kembali ke bangku kuliah. Menjumpai dosen dan kawan-kawan kuliah. Praktikum hingga mencari literatur untuk tugas akhir. Penulis berbagi kesenangan menjadi seorang peneliti. Ilmuwan. Lalu apa saja nilai-nilai yang sebaiknya kita rengkuh untuk menjadi akademisi yang mumpuni. Seluk beluk dunia perguruan tinggi yang menjadi refleksi panjang penulis. Rasanya bisa menjadi cerminan bagi dunia akademis kita. Sejauh mana dorongan besar perguruan tinggi untuk mendidik mahasiswa menjadi pribadi yang "ke luar dari tempurung" atau sekadar menunaikan tugasnya menghasilkan lulusan yang "profesional"?

Bagi pembaca setia karya dan tulisan Ben, di sini Anda dapat secara langsung membaca cerita di balik layar kerja kreatif beliau. Tetap setia berada di jalurnya. Meski saat menelurkan karya, pernah juga tidak diapresiasi teman sejawat. Seolah Ben hanya menumpang nama besar Kahin, sang senior. Lewat memoar ini bisa jadi pembaca akan sedikit lebih banyak memahami isi kepala sang penulis.

Tanpa berpanjang lebar. Memoar ini mungkin sudah asyik dari sananya. Tapi tanpa suntingan dan terjemahan yang apik dari Ronny Agustinus, kita tidak dapat menikmati karya Om Ben ini. Begitu luwes kalimat-kalimatnya dan sungguh personal. Harus diakui selain penceritaan yang runut dan sistematis, pemikiran dan pengalaman Om Ben sendiri membuat buku ini semakin berkesan.

Karya Marjin Kiri ini saya rekomendasikan untuk dibaca oleh kalangan akademisi, pengagum Om Ben, pembaca biografi, dan penikmat buku bagus di Indonesia.

Hidup di Luar Tempurung oleh Benedict Anderson terbit perdana di Juli, 2016. Diterbitkan oleh Marjin Kiri. Penerjemah Ronny Agustinus.

Sunday, 28 August 2016

Kolaborasi Menulis Antologi "Aku dan Buku"



Pada bulan kemerdekaan seperti sekarang, saya ingin mengajukan pertanyaan: “Dapatkah kita membayangkan kemerdekaan tanpa buku?” demikian kalimat pembuka tulisan mbak Najwa yang saya baca di laman kompas(dot)com. Isinya kurang lebih mengajak kita semua untuk turut berpartisipasi dalam mengembangkan kegiatan literasi. Musababnya minat membaca kita terseok-seok ketika dilihat oleh kacamata beragam survei. Namun di bangsa yang besar ini tersimpan sebuah harapan besar. Kelak tua maupun muda adalah generasi yang suka membaca.

Di tengah perenungan. Saya mendapati kalau minat membaca seseorang akan tumbuh ketika ada teladan dari seseorang. Kebiasaan asyik membaca koran sembari menyeruput kopi di pagi hari, misalnya. Contoh dari siapa saja sebenarnya, bisa orang tua, teman, kakak yang usil sekalipun (dengan novel segudang di kamarnya), atau guru yang setiap hari bersentuhan di sekolah. Bill Gates, sang filantropis pun secara tidak sengaja menyukai bacaan dan belajar karena Ibu Caffiere yang baik hati merangkul Bill kecil. Pengakuan itu dapat kita baca dalam jurnal pribadinya yang diberi judul “A Teacher Who Changed My Life”.

Tergerak dari hal tersebut. Saya meniatkan hati membuat sebuah buku (kumpulan tulisan) yang berisikan pengalaman seru teman-teman dengan buku. Harapannya virus membaca dapat menyebar dengan luas.








Lewat tulisan ini, saya mengundang teman-teman yang tergerak untuk ikut bergabung dalam antologi narasi bertema “Aku dan Buku”. Buku tersebut akan diterbitkan secara swa-terbit. Menemui pembacanya dan lebih dari itu semoga bisa memberi secangkir besar kebahagiaan dan menularkan kecintaan membaca.

Naskah tulisan yang diterima tidak terbatas bentuknya. Misalnya harus seperti artikel atau esai di surat kabar & majalah. Tidak melulu harus serius, pokoknya narasi kamu menarik dan personal. Contohnya kamu bisa bercerita kegemaranmu berburu buku langka, pengalaman seru mengunjungi perpustakaan daerah sejak kecil, perjalanan ke negeri laskar pelangi, bahagia dan grogi kala bertemu dengan penulis idola, suka duka menjadi penggiat literasi, dan sebagainya. Gaya narasi bebas.

















“Sebab menyiapkan generasi yang menyenangi buku adalah tugas besar bersama. Sekarang!”
Jika kamu berminat. Sila membaca info detailnya di bawah:
1. Syarat Naskah.
Karya ditulis dalam bahasa Indonesia minimal 3 halaman, atau maksimal 6 halaman A4, diketik rapi dalam file Microsoft Word spasi: 1.5, dengan font: Times New Roman, ukuran font: 11pt, dengan margin sesuai standar Microsoft Word.

Judul dan bentuk tulisan bebas, dengan tetap sesuai dengan tema: Aku dan Buku. Harap dicatat. Siapa saja dapat mengirimkan karyanya. Namun setiap penulis hanya boleh mengirimkan satu karya terbaiknya. Periode penerimaan naskah diperpanjang hingga 13 September 2016.

2. Cara Berpartisipasi.
  • Menulis narasi sesuai tema “Aku & Buku” yang sudah diketik rapi dalam file Microsoft Word.
  • Kirimkan naskah tersebut beserta data diri: Nama, Alamat, No. handphone, No. KTP (Atau kartu pelajar), Twitter account (Jika ada), Alamat facebook (Jika ada), ke alamat email: stevensitongan@gmail.com (berupa file lampiran- attach files, bukan di body email) dengan format subject email dan nama file sebagai berikut:[AkudanBuku] — [Judul tulisan]– [Nama Penulis]. Contoh: AkudanBuku — Ada Apa Dengan Buku? — Budianto Kurniawan.
  • Setiap penulis dimohon juga membuat paragraf singkat maksimal 5 (lima) kalimat untuk memperkenalkan diri, untuk profil penulis di dalam buku yang akan terbit. Kami sarankan penulis mencantumkan akun Twitter-nya masing-masing karena bisa jadi saran contact pembaca atau penerbit yang tertarik atas karyamu. Profil singkat ini boleh ditulis di badan email.
3. Ketentuan tambahan.

Karya tersebut belum pernah diterbitkan dalam media nasional mana pun (jika pernah diposting di blog atau FB notes masih boleh), dan merupakan karya asli penulis. Dengan mengikuti lomba ini, berarti penulis menyatakan bahwa karya tersebut adalah murni karya aslinya dan jika ada tuntutan pelanggaran hak kekayaan intelektual maka akan menjadi tanggung jawab penulis.

4. Perihal penilaian dan seleksi yang dilakukan. Seluruh tulisan yang masuk akan diseleksi berdasarkan faktor-faktor sebagai berikut:
  • Kesesuaian isi tulisan dengan tema.
  • Originalitas.
  • Teknik penulisan yang menarik dibaca.
  • Sesuai dengan syarat yang telah ditentukan.
Tulisan akan dipilih oleh tim. Keputusan tim adalah mutlak dan tidak dapat diganggu-gugat.

5. Perihal Pengumuman Naskah & Royalti, dll.
  • Untuk mengikuti antologi ini tidak dipungut biaya, gratis!.
  • Daftar lengkap penulis yang terpilih akan diumumkan lewat blog, akun twitter @h23bc dan dihubungi via email pada tanggal 8 September 2016.
  • 10 narasi terpilih akan diterbitkan secara self-published dalam satu buku, masing-masing penulis akan mendapatkan 1 eksemplar buku tersebut secara gratis. Dalam perkembangannya, jumlah naskah terpilih untuk dibukukan dapat berubah sesuai kebijakan tim redaksi.
Atas penerbitan buku ini para penulis diberikan dua pilihan:
  1. Menerima kompensasi dalam bentuk royalti.
  2. Royalti hasil penjualan buku akan turut kita sumbangkan kepada Taman Bacaan Masyarakat atau yayasan penggerak literasi di daerah.
Begitu pun juga dengan semua profit penjualan yang kelak diperoleh dari penerbitan buku ini. Detail mengenai penyerahan sumbangan royalti ini akan dikelola oleh saya pribadi, dibantu dengan tim. Dan akan dicantumkan dalam blog.

Hak cipta karya yang terpilih berada di pihak penerbit. Seluruh karya akan melalui proses editing dan desain layout oleh tim sebelum buku diterbitkan.

Kirim karyamu mulai hari ini dan perhatikan deadline-nya yang tiba pada hari Senin, 5 September 2016 pukul 23.59 WIB.
Selamat menulis.

Friday, 26 August 2016

Unduh Gratis! Buku "Dari Buku Ke Hati"






Dirilis 28 Desember 2015, "Dari Buku Ke Hati" menampilkan artikel dan review buku yang menarik bagi saya di tahun 2015. Silakan mengunduh buku diatas dengan senang hati disini http://bit.ly/1QPY2yH

Tanggapan dan review akan sangat bermanfaat. Sila mention di @h23bc. Selamat membaca.

Friday, 19 August 2016

Kesetrum Cinta oleh Sigit Susanto





Akhirnya tuntas sudah rasa penasaran akan buku baru terbitan Mojok Jogja yang satu ini.

Setelah beberapa saat terbit, kemudian ulasannya muncul di blog Mas Tanzil, akhirnya dengan (sedikit) perasaan menggebu-gebu saya memutuskan harus segera membacanya. Tema buku ini yang menarik semakin menguatkan saya untuk tidak berlama-lama mengontak Mas Eka Pocer. Singkat cerita. Sebelum hari kemerdekaan kemarin, di tengah cuaca siang hari yang galau-kadang terik dan gerimis- saya rela berjalan kaki ke kantor pos untuk menjemput buku ini. Niatnya menghabiskan waktu liburan singkat untuk membaca buku-buku Indie Jogja.


Meskipun tidak kenal secara pribadi, saya langsung beranjak masuk ke dalam kehidupan Mas Sigit. Buku ini terasa sangat personal. Jauh lebih berani "buka-bukaan" ketimbang buku lainnya. Hehehe.
Geger budaya yang dirasakan pasangan suami istri ini rasanya bisa dikelola sedemikian rupa, saling mengisi. Indahnya kebersamaan.

Kisah jenaka pria Jawa menikah dengan perempuan Swiss ini adalah bacaan yang menghibur. Bacaan pelepas penat yang tidak ada duanya. Selamat membaca.


Kesetrum Cinta ditulis oleh Sigit Susanto. Diterbitkan tahun 2016 oleh Buku Mojok. 


Sedikit update: Baru-baru ini novel terjemahan "The Trial" karya Kafka oleh Sigit Susanto yang berjudul "Proses" diterbitkan Gramedia Pustaka Utama. The Trial is a novel written by Franz Kafka from 1914 to 1915 and published in 1925. Dilihat-lihat. Ini salah satu buku incaran saya.

Monday, 1 August 2016

Ulasan #Narasi: Antologi Prosa Jurnalisme

"Narasi yang memukau dari seantero Indonesia"


Beragam reportase menarik dan mendalam khas jurnalisme naratif dirayakan dalam buku ini. Minggu malam memasuki bulan Agustus tuntas sudah #Narasi saya baca. Buku ini jauh-jauh hari saya pesan saat baru dirilis awal tahun 2016. Tebalnya halaman yang ada membuat beberapa kali saya menunda menghabiskan kumpulan narasi milik para penulis mumpuni di Indonesia. Mulai dari Zen RS hingga Andina Dwifatma yang terkenal pula dengan novelnya “Semusim, dan Semusim Lagi”.

Masih cukup jelas dalam ingatan saya, buku yang lahir dari Pindai Media bertepatan dengan munculnya istilah "senjakala media" yang cukup menghebohkan dan mendapat tanggapan luas di banyak kalangan. Dalam post ini saya tidak akan berpanjang lebar berpolemik tentang hal tersebut. Bagi saya pribadi membaca liputan media yang mengusung jurnalisme naratif jauh lebih menyenangkan. Selain asupan informasi yang digali jauh lebih dalam, penyampaian gagasan yang lebih mendetail kepada pembaca, di beberapa bagian kita serasa turut serta di dalam liputan tersebut. Sesuatu yang memakan cukup banyak tempat sehingga dapat dimaklumi bentuk ini jarang terlihat di media cetak. 



Sunday, 31 July 2016

Panduan Berbelanja Buku-Juli 2016

Hola, para pembaca budiman. Semoga kabar kalian selalu dalam keadaan sehat. Selang beberapa lama tidak menulis di blog ini. Saya kepikiran untuk membuat post non review. Nah dalam beberapa bulan kedepan, (semoga bisa rutin terlaksana) saya akan membuat semacam panduan berbelanja buku. Hahaha, betul saya akan berbagi daftar WW "Wishful Wednesday" a.k.a buku impian yang ingin dibaca. Bukan monopoli majalah gadget doang yang bisa membuat buyers guide secara berkala.

Saat ini dalam satu bulan saja tiap penerbit besar menelurkan puluhan judul buku. Tidak sering yang ada adalah kebingungan memilih buku mana yang harus dibeli. Apalagi kalau budget beli buku anda terbatas tiap bulannya. Rasanya panduan ini akan jauh lebih membantu anda dalam membeli buku. 

https://www.goodreads.com/review/list/23124043-steven-s?utf8=%E2%9C%93&print=true&shelf=wl-juli&title=steven-s&sort=date_read&order=a

Menutup bulan Juli ada 5 buku yang menjadi incaran saya.

Dua buku yang menjadi highlight adalah "The Book of Forbidden Feelings" milik dan "Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto", buku terbaru Prof Salim Said yang dikenal luas sebagai pengamat politik dan pakar dunia militer Indonesia.

Karya terbaru Lala Bohang ini membuat saya penasaran akan ilustrasi di dalam bukunya. Apalagi setelah melihat cuplikan di balik layar The Book of Forbidden Feelings di bawah ini. 



Mengakhiri post kali ini. Ijinkan saya meminjam pernyataan Tan Malaka,Selama toko buku ada, selama itu pustaka bisa dibentuk kembali. Kalau perlu dan memang perlu, pakaian dan makanan dikurangi.”.  Selamat berbelanja buku.

Tuesday, 10 May 2016

Narconomics: How to Run a Drug Cartel by Tom Wainwright




Langit berawan tebal memenuhi langit La Paz, Bolivia saat Tom Wainwright, 34 tahun bersiap menjelajahi pusat perdagangan kokain dunia. Bersama sang supir yang dipanggil bin Laden-karena jenggot hitamnya yang menjuntai sepanjang enam inci melewati dagunya-menaiki Toyota Land Cruiser bercorak abu gelap, keduanya mulai mendaki dari ketinggian 10.000 hingga 13.000 kaki menuju pegunungan Andes, tiga kali lebih tinggi dari Kathmandu di Himalaya. Mobil mereka melaju membela awan-awan, hingga terkadang sekilas terlihat hamparan salju di sisi lain lembah.

I am. Here in the Andes is where the cocaine trade, a global business worth something like $90 billion a year, has its roots. Cocaine is consumed in every country on earth, but virtually every speck of it starts its life in one of three countries in South America: Bolivia, Colombia, and Peru. The drug, which can be snorted as powder or smoked in the form of crystals of “crack” cocaine, is made from coca plant, a hardy bush that is most at home in the foothills of the Andes. I have come to Bolivia to see for myself how coca is grown, and to find out more about the economics at the very start of the cocaine business’s long, violent, and fabulously profitable supply chain.” p.10.

Tom Wainwright
Narconomics sejak awal memberikan “petualangan” seru dan begitu banyak insight perihal dunia narkotika. Premis buku ini menarik. Inilah buku manual bagi para gembong narkoba. Tapi juga sebuah blueprint untuk bagaimana mengalahkan mereka.

Meski ditulis berdasarkan riset yang beroperasi di wilayah Amerika dan sekitarnya. Beberapa informasi dan temuan-temuan di dalamnya dapat diadaptasi di Indonesia.

Thursday, 28 April 2016

Q&A with Erfan Fajar

Kreator komik Manungsa bicara soal passion menjadi komikus hingga perkembangan komik Indonesia.



Meramaikan ulang tahun kelima Blogger Buku Indonesia, seri wawancara Haremi Boook Corner kembali berlanjut teman-teman. Kali ini kita kedatangan seorang comic artist beken tanah air. Buat kamu yang mengikuti majalah kompilasi komik, "Kosmik" dan "Arigato Macaroni" pasti udah nggak asing lagi dengan nama Erfan Fajar. Sekedar informasi mas Erfan bersama Stellar Labs turut mengerjakan artwork komik Star Trek. Di skena komik lokal, ia berhasil memenangi Kosasih Award 2014 di kategori "Komik Online Terbaik". Di tahun yang sama pengemar Chun Li ini juga berhasil meraih posisi ketiga di "Silent Manga Audition 2014" dengan judul "A Race for Smile".

Tonton juga kiprah Sunny Gho dalam membuat Kosmik
 

Di kesempatan ini Erfan fajar berbaik hati berbagi soal passionnya di dunia komik, perkembangan industri komik Indonesia, dan tips membuat komik yang keren. Selamat mengikuti.


Comments system

Disqus Shortname