Review Buku Pelajaran Pertama bagi Calon Politisi

 Menikmati karya-karya terbaik Kuntowijoyo



Judul buku: Pelajaran Pertama bagi Calon Politisi Kumpulan Cerpen Kompas
Penulis: Kuntowijoyo
Halaman: 150
Penerbit: Buku Kompas 2013.

Kuntowijoyo
Buku kumpulan cerita pendek dengan judul nyentrik ini cocok buat dibaca pada saat panas-panasnya dunia politik Indonesia. Hal yang membanggakan ketika membaca buku ini adalah Prof. Kuntowijoyo sejarawan sekaligus pengarang merupakan almamater UGM. Sejumlah penghargaan di bidang sastra menjadi jaminan bagi karya beliau. Terakhir Kuntowijoyo dianugerahi Anugerah Kesetiaan Berkarya di bidang penulisan Cerpen dari harian Kompas di tahun 2002.

Sebanyak 15 mahakarya cerpen pak Kuntowijoyo selama 1 dekade (1994-2004) dibukukan untuk memuaskan kenangan para pembaca Kompas di periode tersebut maupun generasi baru seperti saya. Pemilihan bahasa (Indonesia yang disisipi bahasa jawa) dan cerita yang menarik adalah salah satu keunggulan buku ini. Dari semua cerpen yang ada bagi saya semuanya menghibur dan memberikan warna tersendiri seperti berada di jaman pengejaran anggota PKI di "Tawanan", cerita Sangadi sang jagoan yang berakhir tragis di "Jangan Dikubur sebagai Pahlawan", juga twist menarik di "Perang Vietnam di Storrs".
Realita pemilu
Pilih aku!

Bagi saya 2 cerpen terakhir yang sangat berkesan, pertama adalah Pelajaran Pertama bagi Calon Politisi dan RT 03 RW 02 Jalan Belimbing atau Jalan "Asmaradana". Benar adanya, faktor terbesar saya membeli dan membaca buku ini adalah judul buku tersebut. Disini diceritakan pertarungan Sutarjo pengusaha konveksi yang ingin jadi kepala desa dengan seorang pensiunan kapten TNI. Bak pertarungan politik diantara kaum sipil dan militer, hal ini diperkuat dengan simbol "Padi" buat pak Sutarjo dan "Senapan" buat lawannya. Mulailah berbagai cara dilakukan oleh kedua pihak buat merebut suara pemilih. Pak Tarjo yang ingin meraih hati rakyat dengan pendekatan yang lurus dan agamis, sudah merasa puas untuk bisa meraih suara rakyat, namun kursi kades itu begitu prestis sehingga dirinya harus berhadapan dengan langkah-langkah tidak etis seperti mengundang warga dengan imbalan sosok rupawan penyejuk mata, politik uang, bahkan menggunakan isu keamanan berupa kasus tawuran dan penembak misterius. Intrik politik seperti itu mengingatkan kita pada fakta pemilu saat ini bukan? Singkat cerita, hasil akhir sudah barang tentu dimenangi oleh sosok yang lebih lihai mengatur strategi dan memanfaatkan kondisi. Pihak yang kalah merasa tidak puas dan terus ingin mencoba berbuat sesuatu yang bisa mengubah hasil kemenangan.

Di dalam cerita ini penulis menyisipkan opininya tentang dunia politik. Penulis ingin mengingatkan bahwa seseorang harus kenal dunia politik dengan segala tetek bengeknya. Politisi harus fleksibel dengan realita yang ada, bukankah ada ungkapan tidak ada perkawanan yang abadi, yang abadi hanyalah kepentingan. Menarik untuk dicermati makna politik bagi penulis seperti yang diungkapkan oleh penasihat Pak Sutarjo, bila jaman sekarang mungkin konsultan politik yang jasanya em-eman buat jasa polesan citra hingga urusan pemenangan di lapangan.

"Politik itu the art of the possible, tidak harus lurus, tapi boleh bengkok-bengkok. Jangan lugu begitu. Politik itu seperti silat, balikkan kelemahan jadi kekuatan." (hal 129).

Sekali lagi penulis ingin memberi tahu pembaca yang ingin terjun di dunia politik kudu siap mental. Para petarung sudah harus siap dengan segala konsekuensi, akhirnya hanya ada satu pemenang sehingga harus siap menang sekaligus siap kalah. Berikut ini nasihat terakhir dari sang penulis untuk para calon politisi.
"Ya, itulah politik. Sekali menang, sekali kalah. Sekali timbul, sekali tenggelam. Sekali datang, sekali pergi. Begitu ritmenya, tanpa henti. Hadapi ritme itu dengan humor tinggi. Jangan kalau menang senang, kalau kalah susah. Jangan. Berbuatlah sesuatu hanya pada waktu yang tepat. Ketika momentumnya datang, pada sanggatnya. Kalau bisa ciptakan momentum itu. Tetapi, jangan ngege mangsa (terlalu cepat), tapi juga jangan terlambat." (hal 136)

Menutup resensi ini perkenankan saya meminjam penyataan Bakdi Soemanto di bab pengantar berjudul "Di antara Sejarah dan Fiksi": cerita pendek Kuntowijoyo dalam kumpulan ini bisa menjadi karya abadi yang akan selalu dibaca kembali di masa datang. Buku ini layak dibaca dan dinikmati oleh semua kalangan yang ingin menikmati cerpen berkelas dari penulis Indonesia.

Comments