Review Buku "Memimpin" oleh Alex Ferguson dan Michael Moritz



Rasanya menyenangkan dapat (mencoba) memahami resep memimpin yang diutarakan Sir Alex Ferguson. Bahasan tentang dunia manager klub Liga Inggris sangat menggoda. Bacaan ini sudah masuk dalam radar saya untuk dibeli sekitar beberapa tahun silam, waktu keluar dalam rilisan punggung keras. Namun keinginan tersebut seringkali tumpul karena harganya yang kelewat mahal, dan meski sudah ada rilis softcover, buku-buku lain seperti The Upstarts, Thank You For Being Late, Shoe Dog, dan The Elements of Journalism sudah memberatkan belanja saya.



Sungguh tak terkira ketika penerbit buku Sir Alex sebelumnya, Gramedia memublikasikan buku "Memimpin". Bersama dengan Michael Moritz (Sequoia Capital), pelatih tersukses Manchester United ini membeberkan pengalaman dirinya menjadi manager mulai dari East Stirlingshire hingga membawa klub kota Manchester menjadi yang terhebat di liga Inggris dan penantang berat di kancah Eropa.


Kehebatan MU di Liga Inggris.

Masih terkenang di benak saya. Tim asuhan pelatih kelahiran Glasgow, Skotlandia ini sangat menjanjikan, khususnya saat penyerang Belanda, Robin van Persie mengisi peran utama sebagai ujung tombak. Musim yang benar-benar horor bagi saya sebagai pendukung Liverpool. RVP adalah salah satu pemain berumur yang menjadi pembelian mahal MU. Pembelian yang tepat di waktu yang tepat, di saat kubu tetangga jor-joran membelanjakan uang transfer.

Tuturan sosok paling disegani dalam sepakbola Inggris ini mulai dari menjadi diri sendiri hingga soal transisi membawa pembaca menenggelamkan diri pada filosofi kerja keras miliknya, perjalanan menembus masa lalu, di samping kerja keras dan racikan memompa semangat pemain untuk menang.


Kesan Membaca Memimpin.

Tidak berlebihan kalau saya akan mengatakan. Sungguh memikat. Membaca edisi terjemahan yang digarap mulus dan dicetak dengan baik adalah perpaduan membaca yang menyenangkan.

Beberapa hal yang saya anggap menarik dari pengalaman sosok yang menginjak 76 tahun (dengan raihan dua gelar Liga Champions) ini adalah keinginan kuat untuk menang, lebih senang membangun skuad daripada meraih hasil instan berkat banyaknya fulus yang mengalir, bertandang ke Anfield selalu menantang (bahkan hingga saat ini tensinya tidak menurun), dan seperti manusia biasa lainnya, dia memiliki keraguan dan menyesal tidak membeli pemain-pemain hebat ketika dirinya sudah memantau mereka. Tidak ketinggalan dia selalu ingin agar pemain lebih ngotot di lima belas menit terakhir pertandingan. Setelah membaca "Memimpin" apa yang disebut di kalangan penggemar sebagai "waktu Fergie" tidak lebih dari buah persiapan mereka semata.

Salah satu cerita yang juga berkesan adalah sikap legawa ketika dia memperbolehkan Cristiano Ronaldo pindah ke klub impiannya. Waktu itu Ronaldo tentu masih dalam kondisi puncak. Andalan utama serangan MU. Namun Sir Alex tidak seperti manager klub Liverpool, misalnya. Saat Luis Suarez sudah enggan berlama-lama menetap di Anfield, Brendan Rodgers berusaha menghalang-halangi kepindahannya. Hal ini tersirat dibaca di biografi Steven Gerrard.

Filosofi dari pengalaman Sir Alex dalam memimpin MU boleh (saja) diadaptasi ke dunia sehari-hari.  Moritz di epilog buku ini mencoba membandingkan keterkaitan mengolah klub sepakbola dengan manajemen perusahaan teknologi. Nampaknya Moritz berhasil menggali apa yang diinginkan institusinya untuk belajar langsung dari pakarnya. Manajemen sepakbola di MU. Strategi-strategi pokok. Nilai-nilai intinya juga menjadi pondasi kerja lembaga investasi binaannya.


Fantastis. Saya kira semua penggemar sejati sepakbola harus membaca buku ini.

Comments

Post a Comment

Popular Posts