Review Buku Kenali Anakmu oleh Angga Setyawan


Judul buku: Kenali Anakmu
Penulis: Angga Setyawan
Penerbit: Noura Books (2015)




Merupakan sebuah kebahagiaan jika setiap hari di rumah kita diisi dengan melihat kelucuan anak-anak yang tumbuh dengan baik dan bahagia. Beberapa minggu lalu di Kompas Minggu diulas sebuah komunitas orangtua yang sangat bagus untuk diteladani. Namanya Joy Parenting. Adalah sebuah gagasan yang sangat bagus dan inspiring. Kesan yang ditimbulkan dari membaca artikel tersebut. @JoyParentingID percaya seorang anak akan menjadi seseorang yang berhasil jika diasuh dengan cara yang menyenangkan. Pola pengasuhan yang menyenangkan niscaya akan menguntungkan kedua pihak. Anak bisa tumbuh optimal dan orangtua dapat berperan dengan maksimal berfungsi sebagai orangtua. Sesuatu yang hanya angan-angan kah? Melihat anak sebelah rumah yang jauh lebih manis dan mampu membawa diri dengan baik, apakah anakku bisa seperti itu? Aku tertarik dengan konsep Joy Parenting biar anakku lebih cerdas di sekolahan dan disenangi banyak orang. Tapi bagaimana caranya? Adalah buku Kenali Anakmu milik Angga Setyawan, praktisi parenting yang dapat menjadi tool dalam mengasuh anak dengan menyenangkan.



Setelah menerbitkan buku Anak Juga Manusia, di buku kedua Angga Setyawan mencoba memperkenalkan konsep kenali anakmu dengan lebih cermat, lebih dengan hati, lebih dengan sikap tanpa pamrih. Berbekal pengalamannya sebagai praktisi soal parenting. Penulis tidak seolah lebih pintar, menggurui pembaca dengan A-Z yang harus dilakukan. Namun sebaliknya, dengan perlahan dan kesabaran mencoba memberikan pemahaman yang mudah dicerna soal bagaimana mengenali kepribadian anak, sikap anak, dan soal sehari-hari si anak. Kelebihan dari buku ini adalah di setiap bab diberikan pembahasan yang lugas dengan beberapa solusi yang aplikatif. Tidak semua orangtua memiliki kondisi yang sama, sebab anak bukan sebuah kertas kosong. Oleh sebab itu penulis akan memberikan beberapa tawaran solusi yang disesuaikan dengan keadaan si anak dan kemampuan orangtua.



Di bagian awal, penulis mengungkapkan pentingnya pasangan orangtua untuk lebih dahulu dewasa dan memiliki kesanggupan lahir batin untuk mendidik anak. Dewasa dalam artian, mau belajar untuk memperlengkapi diri denga ilmu-ilmu parenting. Tidak hanya sekedar mendengar petuah yang ada. Penulis juga menekankan orangtua bukanlah tak pernah membuat kesalahan. Namun tidak ada kata terlambat untuk segera berbenah diri dalam mengasuh sang buah hati.



Hal yang sangat mendasar dalam mengajar maupun mendidik anak bisa kita dapati di Cara Anak Menangkap Pesan. Pernahkah kita sebagai orangtua sudah berulang kali mengajarkan bahwa jam sekian waktunya belajar. "Sekarang adik harus belajar supaya naik kelas, rangkingnya bagus. Masuk 10 besar kelas dan bla bla bla" atau mungkin seperti ini "Nyo, ini sayur bayam, wortel, sawi di bekal makan siang dihabiskan ya. Sayur bagus buat mata kamu." Entah mengapa terasa sulit untuk si anak makan sayur ataupun belajar di malam hari. Mengutip buku Kenali Anakmu. Anak-anak sering kali tidak peduli pada isi pesan yang kita sampaikan. Mereka lebih peduli tentang bagaimana cara kita dalam menyampaikan pesan tersebut. Karena cara penyampaiannya yang keliru, anak sudah terlanjut memaknai hal-hal yang kita masud tersebut adalah tidak enak. Mendengar kata "belajar" atau makan "sayur", secara otomatis akan muncul di benak si anak perasaan "tidak enak". Kalau sudah terlanjut kemudian apakah ada jalan keluarnya?

Ada dua pilihan cara yang bisa kita gunakan agar anak memaknainya dengan "enak", yaitu pertama, buatlah anak terpikat. Kedua, buatlah mereka merasa butuh. (Hal 72).



Yuk, evaluasi cara-cara kita dalam menyampaikan pesan kepada anak. Anak, sebagai pihak penerima, mempunyai hak untuk menerima atau menolak kiriman pesan kita. Pihak pengirimlah yang perlu lebih kreatif dalam menyampaikan atau mengirimkan paket pesan yang ingin disampaikan. (hal 73).



Selain itu dibahas pula soal menghukum anak. Orangtua mana sih yang tidak punya anak yang rewel, sulit diatur, dan seolah tidak bisa dikendalikan? Penulis mencoba membahasnya di dalam Hukuman Sepihak atau Kesepakatan Konsekuensi? Disini kita akan diajak berpikir mengenai konsep menghukum anak. Apakah efek dari menghukum anak? Sayangnya banyak orangtua yang tidak merasa sudah menjajah si anak, mengoyak hati si anak ketika anak diberikan hukuman. Penulis mencoba memperkenalkan konsep kesepakatan konsekuensi. Disini lewat cara yang lain si anak tidak merasa terjajah karena hukuman sepihak dari orangtua. Bentuk konsekuensinya sudah disepakati oleh anak di awal. Lebih jelasnya seperti ini. Contoh hukuman. Secara sepihak, kita berkata, "Karena kamu nakal, mama hukum enggak boleh menonton TV dua hari,ya." Kesepakatan konsekuensi, misalnya kita mengajak anak pergi keluar maka sebelumnya kita berkata, "Adik, nanti kita hanya jalan-jalan, tidak membeli apa-apa. Kalau kamu mau sesuatu, bilang Mama. Nanti Mama bantu kamu merencanakan kapan kamu bisa membeli barang tersebut (misal dengan menabung). Kalau nanti kamu ternyata memaksa dengan menangis atau marah, kamu mau pilih konsekuensi apa? Besok, enggak ikut Mama jalan-jalan atau seharian enggak main game?" Izinkan anak yang pilih sendiri, misal dalam hal ini, dia pilih besok seharian enggak main game. Bila ternyata hal tersebut terjadi, dia memaksa dengan menangis, kita enggak perlu marah atau ngomel. Keesokan harinya, kita jalankan saja konsekuensi yang sudah dia pilih sendiri. Kita konsisten saja walaupun besoknya dia memaksa main game. Tidak perlu marah, ngomel, atau bawel, tenang dan konsisten saja dengan cara tersebut. Di lain waktu, anak akan memilih bersepakat dengan kita ketimbang dipaksa.



Nikmati Prosesnya.



Menjadi orangtua bukanlah sebuah kompetisi,

Janganlah berharap menjadi pemenang

dibanding yang lain.



Menjadi orangtua kadang tidak ada tim

yang bisa diajak kompak,

Belajarlah menjadi sahabat bagi kita sendiri.



Menjadi orangtua tidak ada garis finishnya,

Janglah pernah berharap ada yang memberi penghargaan di ujung perjalanan ini.



Menjadi orangtua tidak ada ujian tertulisnya,

evaluasilah diri sendiri sudah sampai di manakah diri ini.


Menjadi orangtua adalah pengabdian,

Janglah pernah menanyakan apa

yang telah anakku lakukan untukku.



Menjadi orangtua adalah tentang memberi,

janganlah pernah harap kembali,

apalagi menuntut anak untuk mengerti.



Menjadi orangtua sepertinya berat, ya?

Jadi hanya yang memutuskan

menikmati perjalananan inilah

yang akan meraih makna bahagia.


Saya merekomendasikan anda para orangtua untuk membaca Kenali Anakmu dan Anak Bukan Kertas Kosong. Keduanya akan saling melengkapi anda untuk membantu proses tumbuh kembang anak yang optimal. Kenali Anakmu akan membantu anda dalam keseharian si anak. Bagaimana punya feel yang tepat untuk bisa memahami si anak. Akan sangat memudahkan anda untuk masuk ke dalam tahap membantu anak mengembangkan bakat yang dimilikinya. Soal pengembangan bakat anak akan anda temukan dengan lengkap di buku Anak Bukan Kertas Kosong. Kedua buku yang sangat baik ini setidaknya memberi anda pengetahuan soal parenting yang jarang diajarkan secara formal.



Buku yang informatif ini merupakan panduan yang baik dalam memahami anak. Proses tumbuh kembangnya akan mampu berjalan dengan optimal, bila anda bersedia membuka hati dengan mengenalinya lebih dalam. Buku yang wajib dibaca untuk anda yang ingin mempersiapkan pernikahan, orangtua baru, maupun anda yang peduli dengan pendidikan anak.

P.S. : Terima kasih sudah mampir dan membaca di h23bc.com. Yuk dukung karyaku dengan bantu share di media sosial kamu, tinggalkan komentar, dan follow @h23bc. Dukungan kamu akan sangat berarti.

Comments