Review Buku Anak Bukan Kertas Kosong oleh Bukik Setiawan.


Mendidik Anak Indonesia dengan Paradigma Baru





Judul Buku: Anak Bukan Kertas Kosong.
Penulis: Bukik Setiawan.
Jumlah Halaman: 250 halaman.
Penerbit: PandaMedia.
Tahun Terbit: 2015.


Setiap orangtua memiliki harapan yang tinggi kelak anaknya akan menjadi orang yang sukses dan berguna bagi masyarakat. Namun sudahkah para orangtua di Indonesia memiliki cara mendidik dan pemahaman yang benar mengenai proses tumbuh kembang anak. Tantangan yang harus dihadapi anak untuk bisa berhasil saat ini tidak bisa sekedar mengandalkan selembar ijazah. Kalau kita telusuri, angkatan kerja produktif kita banyak yang menganggur dengan gelar minimal strata satu. Masa depan Indonesia terletak pada sejauh mana para orangtua peduli terhadap pendidikan anaknya. Bukik Setiawan sebagai pemerhati dunia pendidikan dengan buku Anak Bukan Kertas Kosong memberikan pencerahan untuk para orangtua dan kaum pendidik mengenai konsep pendidikan yang tepat dalam mengembangkan talenta seorang anak.
Image courtesy of bplanet at FreeDigitalPhotos.net

Di awal buku ini Bukik mengungkapkan kegelisahan dirinya melihat dunia pendidikan konvensional Indonesia. Tantangan yang dihadapi saat ini jauh lebih berat. Sekaranglah masa kreativitas dan inovasi lebih diutamakan daripada nilai IPK. Belajar tidak boleh hanya sekedar mengunduh dari buku teks. Tanpa disadari makna pendidikan sudah dipersempit menjadi persekolahan. Belajar sebaiknya bukan sebatas mengetahui & memahami tapi menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta.

Tidak peduli apa pun keunikan anak, sekolah menuntutnya memperlajari pelajaran yang sama dengan pelajaran yang dipelajari oleh anak lain. Tidak bersekolah berarti kurang terdidik. Belajar berarti mengerjakan tugas sekolah. (hal.23)



Penulis memberikan panduan-panduan praktis yang mampu diaplikasikan para orangtua di rumah. Buku ini berhasil dengan gaya persuasif memberitahukan pentingnya pengembangan bakat anak. Hal inilah bukti kasih orangtua kepada anak. Bekal kehidupan yang tidak terkira nilainya. Beliau mendorong orangtua untuk mengetahui perbedaan kegiatan belajar pada anak yang akan menghasilkan dua jenis hasil yang jauh berbeda. Pertama sekedar belajar dengan tujuan penguasaan pengetahuan dengan hal kedua yaitu belajar dalam kerangka pengembangan bakat anak. Belajar adalah prokreasi, sebuah proses yang menghasilkan perilaku, kebiasaan, dan karya.



Terdapat urgensi untuk memiliki cara pandang yang benar terhadap seorang anak. Hal ini dilakukan Bukik lewat bukunya dengan meletakkan pemahaman kepada pembaca mengenai hakekat pentingnya pendidikan yang menumbuhkan. Sambil mendorong orangtua sebagai fondasi perkembangan anak dan pendidik di lembaga pendidikan untuk memperlakukan anak sebagai benih kehidupan yang memiliki keistimewaan tersendiri. Ibarat sebuah tanaman yang perlu faktor khusus dan pemeliharaan yang tepat sesuai dengan jenisnya untuk dapat produktif. Begitupun seorang anak memiliki keunikan dan kemampuan yang berbeda satu dengan yang lain sehingga menuntut perhatian spesial yang berbeda satu sama lain. Pendidikan yang menumbuhkan terinspirasi dari Ki Hadjar Dewantara. Pendidikan yang menumbuhkan akan mampu menstimulasi anak untuk menjadi dirinya sendiri, memfasilitasi tumbuh kembangnya keistimewaan anak. Paradigma pendidikan ini niscaya akan menjadikan anak yang mandiri, berhasil memperlengkapi diri di tengah jaman kreatif, dan berdaya guna bagi masyarakat.

Anak bukanlah kertas kosong, yang pasif menerima apa pun perintah atau perlakuan dari lingkungan sekitar. Oleh karena bukan kertas kosong, tidak setiap perintah dan larangan akan diikuti oleh anak. (hal.64)



Satu hal yang menjadi kelebihan buku ini adalah pengalaman sehari-hari Bukik mendidik Damai yang dituangkan menjadi contoh nyata bagi para pembaca. Sang putri dengan tuntunan yang tepat berhasil mengembangkan bakatnya dengan belajar putaran ganda. Bukik menceritakan pengalamannya bersama Damai untuk membuktikan anak bisa belajar sekaligus bermain karena pada dasarnya anak adalah seorang pembelajar alami. Melalui pengalaman bermain Minecraft hingga keberhasilan sang putri menjuarai lomba matematika adalah bukti anak adalah sebuah benih kehidupan. Jika diberikan perhatian dan kepedulian lewat stimulus yang tepat akan mampu mengeluarkan potensi terbaik anak. Motivasi internal yang diberikan kepada anak akan jauh lebih berhasil mengeluarkan kemampuan anak ketimbang tekanan berlebih yang diberikan orangtua dapat kita temui di Belajar Seasyik Bermain.

Image courtesy of tuelekza at FreeDigitalPhotos.net


Penulis juga memberikan pemahaman mendasar kepada pembaca mengenai kemampuan alamiah bawaan sejak anak lahir yang disebut kecerdasan majemuk. Kecerdasan majemuk meyakini anak adalah pembelajar yang hebat sejak lahir. Buku Anak Bukan Kertas Kosong didominasi oleh uraian penulis mengenai pentingnya mengenali kecerdasan majemuk dengan minat hingga membantu orangtua mengeksplorasi sang buah hati dalam proses perjalanan menemukan bakat anak.



Di buku ini penulis mengenalkan sebuah panduan ringkas untuk mengembangkan bakat anak. Petunjuk ini membantu orangtua untuk berfungsi sebagai penuntun, pengajar, dan pemberi contoh. Mulai dari fase eksplorasi dari anak balita hingga 7 tahun. Di masa ini orangtua membantu mengeksplorasi minat, mengenali profil pada seluruh ragam kecerdasan majemuk, dan membantu anak mengalami pengalaman eksplorasi dengan memadai. Dilanjutkan pada fase belajar mendalam saat anak berumur 7-14 tahun. Disini anak dibimbing untuk menemukan fokus belajar. Hal ini kemudian semakin diasah dan diperdalam sehingga anak akan gemar belajar dan berujung dapat belajar secara mendalam. Anak yang belajar mendalam akan menjadi sungguh-sungguh sadar mengenai tujuan dan cara yang digunakan untuk mencapai tujuan tertentu. Sebuah refleksi tentang kehidupannya secara menyeluruh yang memampukan dia belajar dengan efektif. 
Dilanjutkan ke fase arah karier, anak menampilkan hasil belajar melalui portofolio (Damai mengelola blog pribadi Ayundadamai.com untuk mengunggah tulisan dan video pembelajarannya), mempelajari ekosistem bakat, kemudian menentukan arah untuk berkarier di bidang tertentu. Fase ini diperuntukkan pada anak berusia 14 tahun ke atas. Terakhir adalah fase berkarier bagi anak berusia 18 tahun keatas. Masa dimana anak mendapat pengakuan atas kontribusinya dari masyarakat luas dan diikuti mampu belajar berkelanjutan.
Para orangtua sepatutnya mengambil tanggung jawab dan dengan tekun mendampingi anak dalam proses tumbuh kembang sang anak. Pesan yang ingin disampaikan Bukik adalah orangtua mampu memberikan rasa berharga kepada anak dan dapat bersyukur sekecil apapun keberhasilan anak. Jangan terpaku pada kemampuan anak saat ini, tetapi pastikan akarnya kuat untuk menopang besarnya tumbuhan yang akan berkembang dan memberi manfaat di kemudian hari. (hal.202)



Dibekali dengan teori-teori modern soal perkembangan anak menjadikan buku ini komprehensif dalam membahas proses tumbuh kembang anak. Buku yang sangat baik ini direkomendasikan untuk dibaca para orangtua, calon orangtua, dan siapapun yang peduli terhadap pendidikan anak Indonesia.


P.S. : Terima kasih sudah mampir dan membaca di h23bc.com. Yuk dukung karyaku dengan bantu share artikel ini di media sosial kamu, tinggalkan komentar, dan follow @h23bc. Dukungan kamu akan sangat berarti.

Comments

  1. waw, bukunya lengkap ya, kak. aku sering baca twit pak bukik, tapi belum pernah baca bukunya. jadi penasaran, apalagi ada kisahnya mendidik anaknya.

    ReplyDelete
  2. Terima kasih sudah berkunjung. Betul mbak Ila, buku ini saya pikir merupakan panduan yg ok untuk parenting.

    ReplyDelete

Post a Comment