Ulasan Buku: "50 Kisah Tentang Buku, Cinta, & Cerita-Cerita di Antara Kita" oleh Salman Faridi


"Serba-serbi soal dunia penerbitan yang menarik"



Di awal 2017, Salman Faridi yang tulisannya akrab kita jumpai di CEO Note Bentang Pustaka menuangkan pemikirannya lewat buku yang bertajuk "50 kisah tentang buku, cinta, dan cerita-cerita di antara kita". Bermula dari editor DAR Mizan, Kang Salman saat ini menakhodai lini penerbitan Bentang Pustaka, raksasa (kalau boleh dibilang seperti itu) dari Jogja, memiliki pandangan optimis terkait industri buku Indonesia. Tulisan yang lugas, padat, dan tepat sasaran. 

Haremi Book Corner mencoba merangkum apa saja hal menarik yang ditulis pencinta buku asal Bandung ini, mari kita simak bersama.

Membaca buku yang bertemakan "Aku dan Buku" seperti buku ini betul-betul mengasyikkan. Pengalaman-pengalaman personal seputar buku seperti memberi nuansa gayeng saat saya menekuni satu demi satu topik yang dibahas. Cerita-cerita soal perbukuan yang demikian dinamis berhasil disajikan penulis dengan cara menghibur sekaligus mencerahkan.



Selain menerangkan kepada pembaca, seluk beluk dunia penerbitan yang sibuk (mencari naskah, memasarkan buku baru, berhubungan dengan pembaca, memastikan buku sampai di tangan pembaca tanpa cacat, bayar tagihan juga pastinya, ini sekadar tambahan saya) dan sederet tantangan yang menyertai kelangsungan hidupnya. Kang Salman menggugah rasa penasaran kita (baca: saya) dengan judul-judul bacaan yang menarik. Di setiap tulisannya, ia mampu memetik dan menceritakan keunikan judul buku yang disebut. Sungguh publisis handal. Seperti novel karya Jonas Jonasson jurnalis Swedia, misalnya. Bagaimana serunya petualangan si Kakek Tua di cerita "100 Years Old Man Who Climbed Out of The Window and Disappeared wajib diikuti. (Baca: Pengumpul Tawa Asal Swedia yang Terobsesi dengan Bom)



Bicara soal Bentang, dalam benak saya yang terbayang adalah penerbit yang memberikan karya "berisi" kepada pembacanya. Baik karya non fiksi dan fiksi terjemahannya harus diakui memiliki mutu yang baik. Ke depan industri buku cetak masih akan bertahan seperti yang diakui Salman Faridi, namun idealnya karya-karya "bagus" layak tetap dikedepankan. Sembari mengorbitkan pengarang-pengarang baru untuk berlaga di kawah candradimuka industri buku Indonesia.



Industri kreatif termasuk diantaranya dunia penerbitan seperti yang Salman terangkan di dalam bukunya masih memiliki ruang yang besar untuk tumbuh. Semoga lewat buku ini, makin banyak orang yang terinspirasi dan terjun ke dunia penerbitan. Tidak perlu muluk-muluk tujuannya, seperti memberikan sumbangsih intelektual (yang terkesan menggurui sekali). Setidaknya memberikan alternatif bahan bacaan yang bermakna. Apapun itu akan lebih bagus lagi bila "karya" tersebut adalah "karya" yang mencerahkan hati.


Jika Anda seorang penikmat buku yang memiliki ketertarikan dengan dunia di balik industri buku, saya rasa inilah buku yang layak masuk dalam daftar bacaan di akhir pekan.

Comments