Assassin’s Creed Black Flag Blog Tour: First Chapter Reveal and Giveaway #2

Preview bab 2 plus kuis menarik


Welcome aboard, selamat datang di kapal H23BC para pecinta buku, gimana keseruan memburu harta karun di Part 1?

Bagi Anda yang ikutin seri Assassin’s Creed pasti penasaran dengan kisah terbaru di Black Flag. Buat yang belum pun nggak masalah untuk menikmati buku terbaru yang dirilis penerbit Fantasious sejak akhir Mei kemarin. 

Setelah membaca preview bab 1 di blog sang penerjemah, udah kebayang kan gimana serunya Black Flag. Pasti menyenangkan bayangin kisah bajak laut yang kerap kita tonton di TV seperti Pirates of Caribbean, 300 Rise of an Empire bahkan serial TV semisal Blacksail dan Crossbones yang baru saja premiere akhir bulan lalu (apa janjian ya sama pihak Fantasious) bisa hadir dalam bentuk bacaan.

Tanpa banyak membuang waktu, yuk sama-sama menyimak bab 2 Black Flag dan jangan lupa ikut kuis berhadiah 2 buku Assasin’s Creed Black Flag dari Fantasious.

Sneak peak cover Black Flag



Assassin’s Creed®
Black Flag
OLIVER BOWDEN

Bagian Satu


2

1711

Tapi, omong-omong, sampai di mana aku? Caroline. Kau mau tahu bagaimana aku bertemu dengan dia.


            Yah, semua ada ceritanya, seperti kata orang. Semua ada ceritanya. Untuk sampai ke masa itu, ceritaku harus mundur jauh ke belakang, ke masa ketika aku masih peternak domba biasa, sebelum aku tahu apa-apa tentang Assassin atau Templar, tentang Blackbeard, Benjamin Hornigold, tentang Nassau atau Observator, dan mungkin masih tidak memercayai keberuntunganku bertemu dengannya di kedai Auld Shillelagh pada suatu hari musim panas yang terik pada tahun 1711 dulu.


            Masalahnya, aku termasuk anak muda yang doyan minum, walaupun kebiasaan itu menjerumuskanku ke dalam beberapa pertikaian. Beberapa… insiden, anggap saja begitu, yang agak memalukan. Tapi itulah risiko yang harus kau tanggung apabila kau agak terlalu gemar alkohol; jarang ada peminum dengan hati nurani bersih. Kebanyakan peminum pasti ingin bertobat pada suatu kali, memperbaiki hidup kami dan mungkin mendekatkan diri kepada Tuhan atau berusaha menjadi orang berguna. Tapi kemudian sore datang dan kita tahu sore adalah waktunya minum, jadi kita pergi ke kedai minum lagi.


            Kedai minum yang kumaksud terletak di Bristol, di pantai barat daya Inggris kita tercinta, tempat kita terbiasa dengan musim dingin yang menggigit dan musim panas meraja, dan pada tahun itu, pada tahun yang itu, tahun ketika aku bertemu Caroline untuk kali pertama, 1711, seperti kataku, aku baru tujuh belas tahun.


            Dan, ya—ya aku sedang mabuk ketika itu terjadi. Pada masa itu, kau pasti bilang aku selalu mabuk. Mungkin… yah, tidak usah dilebih-lebihkan, aku tidak mau menjelek-jelekkan diriku sendiri. Tapi mungkin separuh waktu saja aku mabuk. Mungkin sedikit lebih lama daripada itu.


            Rumahku ada di pinggir sebuah desa bernama Hatherton, tujuh mil di luar Bristol, tempat kami menjalankan sebuah usaha kecil lahan peternakan domba. Ayahku suka ternak. Sejak dulu begitu. Jadi, dengan adanya aku, Ayah bebas dari aspek bisnis yang paling dia benci, yaitu bepergian ke kota dengan membawa barang dagangan, melakukan tawar-menawar dengan saudagar dan pedagang, melakukan jual-beli, membuat perjanjian dagang. Begitu aku cukup umur, maksudku adalah begitu aku cukup dewasa untuk bertemu dengan rekan-rekan bisnis kami dan melakukan jual-beli sebagai sesama pedagang, itulah yang aku lakukan. Dengan senang hati Ayah membiarkanku melakukannya.


            Nama ayahku Bernard. Ibuku, Linette. Mereka berasal dari Swansea tapi datang ke West Country saat aku berusia sepuluh tahun. Logat kami masih seperti orang Wales. Sepertinya aku tidak keberatan bahwa logat kami membuat kami berbeda. Aku peternak domba, bukan salah seekor domba.


            Ayah dan Ibu dulu sering bilang aku pandai bicara, dan Ibu sering bilang aku pemuda tampan, dan bahwa aku bisa membuat burung-burung terbang dari pohon karena terpesona olehku, dan itu benar, walaupun aku sendiri yang bilang, aku memang pandai memikat wanita. Anggap saja begini, lebih mudah menggoda istri saudagar daripada harus melakukan barter dengan suami mereka.


            Kegiatanku sehari-hari tergantung musim. Januari sampai Mei, itu musim domba melahirkan, masa paling sibuk bagi kami, ketika aku ada di kandang hingga matahari terbit, entah sedang teler atau tidak, karena harus memeriksa apakah ada domba betina yang melahirkan pada malam hari. Kalau ada, domba itu harus dibawa ke salah satu kandang yang lebih kecil dan dimasukkan ke dalam kurungan yang kami sebut kendi beranak, di situ Ayah menggantikan aku, sementara aku membersihkan tempat pakan ternak, mengisinya lagi, mengganti jerami dan air, dan Ibu akan dengan teliti mencatat detail domba-domba yang baru lahir di dalam jurnal. 


Kalau aku, waktu itu aku tidak bisa menulis. Sekarang aku menulis, tentu saja, Caroline mengajariku menulis, juga banyak hal lain yang menjadikan aku pria mumpuni. Tapi pada waktu itu aku tidak bisa menulis, jadi tugas itu diemban Ibu, yang kemampuan baca-tulisnya tidak jauh lebih baik, tapi masih cukup untuk setidaknya membuat catatan ternak.


            Mereka senang bekerja berdua, Ibu dan Ayah. Itu juga alasan Ayah senang kalau aku pergi ke kota. Ayah dan ibuku—mereka seperti kembar dempet. Aku belum pernah melihat dua orang lain yang sangat saling mencintai dan sangat tidak perlu memamerkannya. Sudah jelas di mata kita bahwa mereka saling menguatkan. Melihat mereka menyejukkan hati.


            Pada musim gugur kami menggiring domba-domba jantan ke padang rumput untuk merumput bersama domba-domba betina, agar mereka bisa menghasilkan domba lagi untuk musim semi berikutnya. Ladang juga perlu dirawat, pagar dan dinding dibuat dan diperbaiki.


            Pada musim dingin, kalau cuara sangat buruk, kami memasukkan domba-domba ke dalam kandang, agar mereka aman dan tidak kedinginan, siap untuk melahirkan pada Januari.


            Tapi pada musim panaslah aku benar-benar menjadi diri sendiri. Musim cukur. Ayah dan Ibu mengurus bulu domba sementara aku lebih sering bepergian ke kota, tidak dengan membawa domba mati untuk dipotong menjadi daging, tapi dengan pedatiku penuh wol. Sementara pada musim panas, saat kesempatan untuk melakukannya semakin banyak, aku semakin sering saja mengunjungi kedai minum setempat. Bisa dibilang aku sering kelihatan di kedai-kedai minum, sesungguhnya, dengan rompi panjang berkancing, celana selutut, stoking putih, dan topi tricorne agak kumal yang menurutku adalah ciri khasku, karena ibuku bilang topi ini sangat cocok dengan rambutku (yang selalu kepanjangan, tapi warnanya pirang pasir memukau, menurutku).


            Di kedai minumlah aku menemukan bahwa bakat bicaraku bertambah baik setelah minum beberapa gelas ale pada sore hari. Minuman keras, memang memberikan pengaruh itu, bukan? Melonggarkan lidah, norma, moral… Tidak berarti aku pemalu dan tertutup saat aku tidak mabuk, tapi ale membuatku semakin mudah bicara. Lagi pula, uang dari jual-beli yang terjadi berkat kemampuan berdagangku saat terpengaruh oleh ale lebih daripada cukup untuk menutupi uang yang kuhabiskan untuk membeli ale. Atau setidaknya dulu aku meyakinkan diriku dengan alasan itu.


            Ada sesuatu yang lain juga, selain anggapan bodoh bahwa Edward yang memegang gelas ale adalah pedagang yang lebih baik daripada Edward yang tidak mabuk, dan itu adalah caraku berpikir.


            Karena sejujurnya aku pikir aku berbeda. Tidak, aku tahu aku berbeda. Kadang-kadang aku duduk sendiri pada malam hari dan tahu aku sedang melihat dunia dengan cara yang benar-benar hanya aku lakukan sendiri. Aku tahu itu sekarang, tapi pada waktu itu aku tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata, selain bahwa aku merasa berbeda.


            Dan entah karena itu atau terlepas daripada itu aku memutuskan aku tidak mau menjadi peternak domba seumur hidupku. Aku tahu itu pada hari pertama, saat aku menginjakkan kaki di peternakan sebagai pekerja dan bukan sebagai anak-anak. 


Pada hari itu aku melihat diriku, lalu melihat ayahku, dan mengerti bahwa aku tidak lagi berada di sini untuk bermain dan akan segera pulang untuk bermimpi tentang masa depan yang berisi berlayar di laut berombak tinggi. Tidak, inilah masa depanku, dan aku akan menghabiskan sisa hidupku sebagai peternak domba, bekerja untuk ayahku, menikah dengan gadis setempat, membuat anak laki-laki dan mengajari mereka cara menjadi peternak domba, sama seperti ayah mereka, sama seperti kakek mereka. Aku melihat sisa hidupku terbentang di hadapanku, bagaikan baju kerja yang rapi di atas tempat tidur, dan alih-alih merasa hangat karena senang dan gembira, aku malah ketakutan.


            Jadi sejujurnya, dan aku tidak bisa mencari kata-kata yang lebih halus, dan aku minta maaf, Ayah, semoga Tuhan memberkatimu, tapi aku benci pekerjaanku. Dan setelah beberapa gelas ale, yah, kebencianku berkurang, itu saja yang bisa kukatakan. 


Apakah aku menenggelamkan mimpi-mimpiku yang tak tercapai dengan minuman keras? Mungkin. Aku tidak pernah benar-benar memikirkannya pada waktu itu. Aku hanya tahu bahwa ada sesuatu yang hinggap di bahuku, bertengger di sana bagaikan kucing kurus, yaitu kebencian yang membusuk terhadap caraku menyia-nyiakan hidupku—atau, lebih buruk lagi, bahwa hidupku sebenarnya telah sia-sia.


            Mungkin aku kurang berhati-hati soal perasaanku yang sebenarnya. Mungkin sesekali aku membuat teman-teman minumku berpikir aku merasa hidupku akan lebih baik. Bagaimana lagi? Waktu itu aku anak muda dan sombong dan pemarah. Pada masa menyenangkan pun kombinasi ketiga hal itu bisa mematikan. Dan sudah pasti waktu itu bukan masa yang menyenangkan.

            “Kau pikir kau lebih baik daripada kami-kami ini, ya?”
            Aku sering dengar itu. Atau semacam itu, setidaknya.

            Dan mungkin jawaban diplomatis adalah menyangkalnya, tapi aku tidak melakukan itu, jadi aku lebih sering berkelahi daripada semestinya. Mungkin perkelahian itu aku lakukan untuk membuktikan bahwa aku lebih baik daripada mereka dalam segala hal, termasuk kemampuan berkelahi. Mungkin karena dengan caraku sendiri aku bermaksud sedang menjunjung nama keluarga. Mungkin aku pemabuk. Perayu. Sombong. Tidak bisa diandalkan. Tapi bukan pengecut. Oh, tidak. Aku tidak pernah mundur saat ditantang untuk berkelahi.


            Dan pada musim panaslah aku menjadi paling gegabah, ketika aku paling mabuk dan paling berisik, dan terutama agak mengesalkan. Tapi di sisi lain, pada musim panaslah aku paling mau menolong wanita muda yang sedang kesulitan.
***

Seru kan ceritanya. Saatnya KUIS.. Caranya mudah dan nggak ribet kok.

1. Share artikel ini ke salah satu media sosialmu. Follow @fantasiousID di Twitter dan Facebook fanpage Fantasious.

2. Pertanyaan kuisnya (menyambut Pemilu 14) gampang banget, yaitu  Jika aku menjadi presiden Republik Indonesia 2014 ...... (isi dengan jawaban kamu sebebas-bebasnya)

3. Tulis jawaban kamu di kolom komentar, jangan lupa nama dan share akun medsos kamu baik fb atau twitter.

4. 2 Jawaban terunik, gokil,  tentunya yang terbaik berhak mendapat buku Assassin's Creed Black Flag.

Rulenya kuis berlangsung 9 Juni 2014 hingga 11 Juni 2014 pukul 16.00 WIB.
Dua pemenang yang beruntung akan diumumkan di blog H23BC. Hadiah akan dikirimkan oleh penerbit Fantasious ke alamat di Indonesia.

Belum puas memburu harta karun disini, jangan ketinggalan untuk mampir ke blog tour berikutnya di dionyulianto.blogspot.com tanggal 12-14 Juni 2014.

Terima kasih udah berkunjung di kapal H23BC, setiap pengunjung bisa membawa pulang 1 Edisi Majalah Tempo Edisi 9 Juni bit.ly/1tX6ICU (pass: stevensitongan@ymail.com)

Comments

  1. Mas Ikutan GA nya ya!

    Jika aku menjadi presiden Republik Indonesia 2014, saya akan mengangkat Pak Jokowi sebagai mentri Kesejahteraan Rakyat yang bertanggung jawab dengan kecukupan masyarakat dalam hal sandang pangan dan papan. Pak Prabowo akan saya angkat jadi mentri Keamanan yang bertanggung jawab menjaga stabilitas pertahanan dan keamanan negeri Indonesia. Khusus untuk Pak Prabowo, saya akan minta beliau mencari pendamping segera. Sebab di balik kesuksesan besar seorang pria ada peran seorang perempuan. PENTING memiliki pendamping di kala mengemban tugas negara yang dipimpin SAYA. HAHAHAHAHAH

    Keren kan bang?! (jawab iya)

    Nama ; Hapudin
    Link Share : https://twitter.com/adindilla/status/475807417301606400

    ReplyDelete
  2. Saya Join kak :"D

    Perhatian: Ini sekedar opini non ilmiah seorang siswa SMA yang suka sekali berfantasi dengan absurd dengan kelabilannya :> yang secara tidak sengaja iseng menuangkan idenya bila dirinya menjadi Presiden RI 2014 :)))

    Saya ingin mengedepankan pandangan mengenai politik hijau, yang menafsirkan tentang permasalahan sumber daya alam yang tersedia dengan faktor-faktor pendukung maupun penghambatnya. Negara sering mempersulit upaya memecahkan masalah lingkungan, berusaha mengejar pembangunan ekonomi, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan termasuk berusaha menarik perusahaan multinasional untuk menanamkan modal di wilayahnya, yang terkadang mengabaikan aspek perlindungan lingkungan hidup.untuk itu didalam pendapat saya kali ini, saya ingin mengemukakan :

    Berbicara mengenai perspektif baru dalam politik hijau di negeri tercinta kita ini, tidak jauh berbeda dengan membicarakan masyarakat Indonesia itu sendiri. Kenapa? Karena selama ini kita selalu berpegang teguh pada egosentris manusiawi.
    Apakah selama kita hidup di tanah air ini kita tidak pernah menyadari akan jasa penting rimba Nusantara?
    Pada pra-kemerdekaan, lihat bagaimana proses kemerdekaan kita dicapai melalui perantara para rimba di seluruh penjuru Nusantara, setiap kegiatan bergerilya, pengasingan dan persembunyian tokoh penting (Kepulauan Banda Neira, rimba Sumatra, dsb.).
    Di saat kita menikmati kemerdekaan, lihat jumlah devisa negara yang membumbung tinggi oleh produk kayu yang kita eksploitasi di saat paradigma “Penghambaan terhadap kayu” merajalela.
    Kini lihat ke diri kita sendiri, khususnya pribadi kita masing-masing. Apa yang sudah kita lakukan untuk menebus jasa dan manfaat yang telah disediakan oleh rimba Nusantara?
    Andai saya menjadi seseorang Presiden Republik Indonesia 2014, saya berharap mampu memberikan sesuatu perubahan nyata di dalam sistem yang terbilang sudah kacau balau ini. Semua yang ada saat ini diprioritaskan berdasarkan urutan antroposentris. Alangkah baiknya, untuk menuju kelestarian, diperlukan adanya keseragaman tujuan, lestari secara holistik, bukan sekedar ekonomi, sosial, atau aspek lainnya. Ada baiknya kita mulai dari yang namanya pendidikan. Lihat dan analisa sendiri pengalaman Anda dalam berpendidikan dasar di Indonesia, sangat nyata pendoktrinan dalam penciptaan robot-robot guna memenuhi SDM bermental pekerja, bukan pengelola. Coba kita bisa meniru negara-negara yang telah berkembang seperti Jepang, Jerman, dan lainnya. Bahkan untuk staf pengajar di Taman Kanak-kanak (TK) saja mereka menyediakan profesor-profesor untuk menanamkan nilai kelestarian.
    Pemilahan limbah serta pemanfaatannya yang sangat efektif, transportasi massal yang memadai kebutuhan masyarakatnya, kualitas air dan lingkungan yang optimal, dan banyak hal lainnya yang sulit disebutkan melalui tekstual. Semuanya itu berawal dari pendidikan paling dasar, yakni dari keluarga dan taman kanak-kanak. Pendidikan yang berperan penting dalam pembentukan kesadaran (awareness) akan kelestarian. Untuk meningkatkan kesadaran ini, juga tak luput dari peranan media, kompasiana misalnya. Acara-acara seperti ini sebaiknya dilakukan sepanjang hidup (evergreen, perennial), tidak sekedar musiman (monsoon). Karena multimedia mampu mempengaruhi dan menciptakan arah baru dari sejarah.
    Selain itu, menurut saya, kita butuh perombakan total dalam peraturan dan perundang-undangan. Banyak yang kita temui tidak terintegrasi satu sama lain, antar departemen, bidang, ataupun level instansi. Bahkan PP No.7 Tahun 1999 Tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa yang dilindungi dirasa sudah ketinggalan 2 dekade untuk menyeimbangi kedinamisan kehidupan bermasyarakat Indonesia. Satu hal lainnya, kita membutuhkan suatu pengelolaan sistem informasi yang opensource, seperti halnya yang diterapkan oleh Open4Change. Ini sangat berguna untuk kontrol dari segala aktivitas kenegaraan.
    Sekian ide dari saya, setidaknya saya pernah bermimpi untuk hal yang lebih baik.

    Nama : Mita Andriana
    Link share : http://bit.ly/1kbA632

    ReplyDelete
    Replies
    1. pandangan yang menarik :)
      Thanks Mita

      Delete
  3. *Boleh ikut lagi kan? hhehe *

    Kalau Saya jadi Presiden, saya akan senantiasa mendahulukan pendidikan. baik dari hal sarana dan prasarananya. Dan itu saya akan lakukan secara merata diseluruh nusantara. saya akan berusaha mencerdaskan anak bangsa karena bangsa yang baik adalah bangsa yang cerdas. Saya akan bikin perpustakaan yang lebih besar dari bait al-hikmah (entar kalian boleh baca nofan gratis lho... *ceritanya janji ini teh*). Disana juga saya akan bikin tempat dimana semua orang bisa belajar tentang hal apapun yang dia inginkan, membaca apapun yang ia inginkan (beralasan karna saya suka sekali membaca nofan). Saya akan buat orang berpendidikan dihargai. Dan setelah kualitas pendidikan negri ini LAYAK! saya bisa mempekerjakan mereka untuk menjadi partner-partner dalam membangun bangsa.
    Kenapa demikian? Yaiyalah ekonomi gx bakalan maju klo org2nya gax pinter. Politik akan bobrok klo orangnya orang bego yang cuman mentingin duit.


    Nama : REJA MARJANA
    Link Share : https://www.facebook.com/kim.zaeum/posts/655197341229202

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju 100%..
      Thanks Reja yg udah ngeramaiin kuis ini :)

      Delete
  4. Jika aku menjadi presiden Republik Indonesia
    2014 aku akan menjadikan negara ini
    menjadi negeri impian semua orang. Aku
    akan menghapuskan UN(Ujian Nasional),
    sehingga para pelajar yg akan naik ke jenjang
    pendidikan yg lebih tinggi tidak ada yg
    tertekan bahkan sampai bunuh diri. Dan aku
    akan mewajibkan para penerbit buku
    membagikan min.1000 buku tiap hari
    pendidikan. Berikutnya aku jg berencana
    membuat internet Indonesia menjadi yg
    tercepat di dunia, tdk ada lagi BuNet(Buta
    Internet) serta tiap WNI harus punya
    smartphone min. dengan OS Android Kit Kat.
    Aku jg ingin hutan di Indonesia dirawat oleh
    tukang kebun shingga rumput di hutan lbh
    rapi, tdk terlihat trllu menyeramkan. Yg
    terakhir aku mau membuat Indonesia
    menjadi negeri bahari yg hebat sprti zaman
    Sriwijaya. Perairan negara ini kan luas. Selain
    itu kalau negeri ini menjadi negeri bahari
    yang hebat siapa tahu banyak bajak laut yg
    tertarik ke Indonesia. Sehingga yg penasran
    setelah membaca novel Assassin's Creed Black
    Flag bs melihat mereka scara lngsng XD
    Nama: Dinar Arisandy
    Link Share: https://twitter.com/­
    Dinar_Arisandy/status/­
    475930204502634497?p=v

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kak link share error karena kemasukan spasi. Ini yg bener: https://twitter.com/Dinar_Arisandy/status/475930204502634497?p=v

      -Maaf kesalahan teknis :D

      Delete
    2. Thanks Dinar buat jawabannya yg ok banget :)

      Delete
  5. Sebelumnya saya ingin mengucapkan terimakasih atas kesempatan yg diberikan kepada saya untuk berangan-angan di atas kapal H23BC yang mewah dan indah ini. *eaak=) bungkukkan badan*

    Jika saya menjadi presiden Republik Indonesia 2014, yang pasti saya ingin memajukan negara tercinta ini. Dengan cara apa? Pertama dengan cara memperbaiki pola pikir serta akhlak pada manusianya itu sendiri, karena kekayaan terbesar sebuah bangsa adalah manusianya (gas, minyak, tambang, dan sumber daya lain cuma bonus). Cuma pelengkap. Kan percuma toh, kalau saya sebagai pemimpin bagus, jujur lagi, mana tidak sombong, rajin menabung juga, tapi rakyatnya suka bikin elus dada karena tingkah lakunya. Saya satu, rakyatnya banyak. Ya jelas saya kalah. Terus, kapan kita majunya? Sebab itu, kita harus bekerja sama. Marilah, bantu saya untuk memajukan negara ini *sekalian kampanye* [seperti Jepang, mereka maju karena pemimpin dan rakyat bersatu. Ada Hukum Malu lagi:)].

    Kedua, saya ingin membasmi para koruptor *hiyaaa! #keluarinjurustimpukbukutebal* saya ingin membasmi mereka dengan cara antimainstream:p mungkin bisa kali bawa mereka ke Kiai/Pendeta, bukannya di dalam kitab tertera di situ ya nggak boleh makan sesuatu yang bukan hak kita. Ceramahi 5x sehari, pasti jera. Saya yakin (soalnya ampun deh kalau kena ceramah, saya aja diceramahi 5menit kuping uda panas hehe-_-v). Kalau belum juga, bisa kali itu kepala dipentungi biar darah di dalam otaknya ngalir, jadi sel-sel yang putus bisa kesambung dengan baik *ngawur:D*. Terus para koruptor ditendang aja dari negara ini *kaya Amerika* biar dia sadar dan orang lain nggak berani nyoba untuk korupsi. (Hayoo?! Mau lari ke negara mana coba?)

    Ketiga, .......

    Keempat, ……

    Kelima, karena dulunya saya bookworm dan suka nyari buku yang gratisan, terus saya pernah ngerasai gimana jadinya bookworm tapi duit nggak ada dan wishlist menumpuk dan saya hanya bisa ngupil, kasian ya.. Jadi saya akan membangun perpustakaan di setiap daerah supaya rakyat saya nantinya cinta akan membaca, imajinasinya pun lebih oke (karena imajinasi lebih penting daripada pengetahuan). Tenang.... nggak semua buku yang tersedia di sana tentang politik-kesehatan-pengetahuan, tapi novel komik beragam genre.*ayoo, bookworm/bookhunter pilih saya jadi presiden!:D

    Banyak lagi hal yang ingin saya lakukan, kalau saya tulis disini semua, saya takut kapal H23BC ini akan tenggelam, dan saya dikeroyok massa karena lebih banyak mengumbar janji daripada berbuat. Jadi jika saya jadi presiden RI 2014, saya akan merencanakan suatu hal yang lebih baik lagi *apadah bahasa dan gaya saya-_-

    Kalaupun saya gagal jadi presiden di tahun ini, kiranya saya tak gagal mendapatkan buku Assassins Creed yang telah saya jadikan wishlist tapi belum sempat dibeli:(
    *rapal mantra keberuntungan* *pilih saya ya Kak :D hehe

    Nama : Sasa Isnara
    Share Twitter : @supernovaD_

    ReplyDelete
    Replies
    1. Link Sharenya kak^^ https://twitter.com/supernovaD_/status/476264346574528514

      Delete
    2. Thanks Sasa buat partisipasinya :)

      Delete
  6. Jika aku menjadi presiden Republik Indonesia 2014, Aku akan menjadikan negara ini rumah impian bagi semua rakyatnya, sehingga mereka semua selalu merasa nyaman & aman :D Dengan memperbaiki sistem pemerintahan menjadi lebih baik, memperbaiki sistem pendidikan agar para penerus bangsa mampu bersaing dikancah international, memberi penghargaan, kesempatan & kebebasan dlam menulis, berkarya & berkreasi, memberi dukungan penuh dalam pertunjukan & event" yang dalam bidang pendidikan, seni & budaya, mengelola sumber daya alam sendiri secara maksimal agar negara lain tak bisa menguasainya, membuka lapangan kerja seluas-luasnya, mencari cara alternatif agar kemacetan bisa di atasi, mungkin dgn membangun jalanan melayang diudara atau jalanan di bawah tanah yg transparan, hehe :p Menebar virus membaca dgn membangun perpustakaan yg unik dan menarik, misal perpus yg terbuat dri kaca, perpus dgn suasana hutan yg buku"nya tertata di pohon" atau perpus dgn suasana angkasa luar, planet, bintang, bulan dll, haha..

    Ana Rosdiana
    Link share:
    https://twitter.com/Ana_On3/status/476260221338128384

    ReplyDelete
  7. Kalau aku jadi Presiden,
    Bakal mengembangkan kecepatan internet, biar bisa bergalau bersama di mana aja tanpa putus koneksi.
    Dan yg ke dua akan mendirikan Kasino perjudian di ibukota juga di perbatasan-perbatasan indonesia, dengan begini bisa meningkatngkan Devisa negara tanpa harus ngegundulin hutan, gundulin aja tuh dompet koruptor di Kasino ane, hhe

    Kristoper Rici
    Link share:
    http://www.h23bc.com/2014/06/assassins-creed-black-flag-blog-tour.html?spref=fb

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ralat, Link Share
      https://twitter.com/kristofer_LF/status/476616713979449345

      Delete

Post a Comment