Skip to main content

Menyoal Gerakan Literasi (tapi) tanpa Campur Tangan Negara



Di kolom rutin miliknya, AS Laksana mencoba memilah bagian penting dalam gerakan literasi yang mulai bergaung di bumi nusantara. Selepas Pak Jokowi bertemu dengan para pegiat di Hari Pendidikan Nasional, memberi janji bebas ongkir untuk pengiriman ke daerah pelosok. Pertama harus kita pahami bersama "Gerakan Literasi tanpa Campur Tangan Negara" ini adalah opini dari sosok penulis, seorang ayah, dan kolumnis yang mencoba menangkap ruh perkembangan masyarakat.



Menarik untuk kita perhatikan. Di bagian awal, mas Sulak, bilang ketika si anak mulai suka membaca. Apakah kita akan sanggup melihat perkembangan si anak dari waktu ke waktu. Which is not looking good based on parents perspective, kalau kesannya si anak cuma baca aja, "bermalas-malas", kayak kurang inisiatif membantu orang tua, misalnya. Kalau dipikir iya juga ya. Dipanggil nggak nyahut-nyahut. Eh, si Bintang lagi senyam-senyum, lagi asyik baca buku bergambar.



Kedua, ketika gerakan literasi sudah mulai berdampak luas. Pertanyaan yang lahir selanjutnya adalah buku-buku apa aja sih yang harus dibaca? Semua jenis buku pastinya. Tapi bagi generasi langgas Indonesia. Ada hal yang jauh menarik dari sisi mereka. Apa saja buku-buku kekinian yang isinya bagus dan menarik. Menarik dari segi konten dan relevansinya bagi si pelajar. Apa anak SMP masih tertarik diberi tugas meresensi "Siti Nurbaya, Layar Terkembang". Nice. Kalau Anda mulai paham.


Tentang Koleksi buku

Koleksi buku-buku di perpustakaan memang telah diisi dengan buku-buku pilihan. Dari deretan buku bacaan fiksi dan nonfiksi tersebut, semuanya berisikan informasi dan pengetahuan yang bermanfaat. Namun akan lebih baik kalau deretan buku tersebut juga diperbaharui dengan buku-buku baru. Generasi langgas ini tahu kok penulis-penulis keren kayak Dee Lestari, Andrea Hirata, dll, mereka setiap hari main sosmed, namun ketika mencari karya mereka di perpus sekolahnya, tidak jarang banyak yang kecewa. Koleksinya itu lagi. Itu lagi.



Terus apa yang bisa dilakukan? Kebetulan di dekat rumah saya, ada sebuah sekolahan. SMA Kristen YPKPM, namanya. Perpus mereka already good. Tapi kebutuhan koleksi buku mereka masih sangat besar. Di bulan ini, saya membuat sebuah penggalangan dana, "Birthday Fundraising" gitu. Di sana kita patungan untuk memberikan sumbangsih ke perpus sekolah. Mungkin saja dananya akan digunakan buat menambah buku. Melengkapi sumber pembelajaran multimedia.



Kampanye ini bisa dilihat di sini: https://kitabisa.com/ultahsteven26



Bagi kamu yang tergerak, boleh banget ikut donasi. Selain itu juga kamu bisa sebarkan kampanye ini di jejaring sosial, FB, Twitter, Instagram, I really appreciate that.



Artikel asli AS Laksana bisa dibaca di sini: http://digital.jawapos.com/shared.php?type=imap&date=20170507&name=H6-A233517

Ambon, 8 Mei 2017

Comments

Popular posts from this blog

Review Buku "Memimpin" oleh Alex Ferguson dan Michael Moritz

Rasanya menyenangkan dapat (mencoba) memahami resep memimpin yang diutarakan Sir Alex Ferguson. Bahasan tentang dunia manager klub Liga Inggris sangat menggoda. Bacaan ini sudah masuk dalam radar saya untuk dibeli sekitar beberapa tahun silam, waktu keluar dalam rilisan punggung keras. Namun keinginan tersebut seringkali tumpul karena harganya yang kelewat mahal, dan meski sudah ada rilis softcover, buku-buku lain seperti The Upstarts, Thank You For Being Late, Shoe Dog, dan The Elements of Journalism sudah memberatkan belanja saya.

Enter The Magical Realm - Superhero Fantasy

Ulasan Superhero Fantasy plus 1st Giveaway H23BCSelamat datang di rangkaian Around The Genres in 30 Days Blogger Buku Indonesia (BBI). Silakan nikmati semua post yang akan ditampilkan di Blog Buku Haremi. Aku sangat excited! Ini adalah kesempatan pertamaku meramaikan event HUT ke 4 BBI. Semoga kalian bisa terhibur dan semakin suka dengan review buku komunitas BBI.




Di post kali ini H23BC kebagian mengulas tentang subgenre fantasi, sudah bisa ditebak kan? Yap, Superhero Fantasy (SF). Siapa sih yang sekarang enggak ngikutin serial TV Arrow atau The Flash. Atau yang paling ditunggu-tunggu tahun ini film besutan terbaru Marvel Avengers: Age of Ultron. Kira-kira udah bisa ngebayangin seperti apa SF. Genre ini memang sangat populer dan punya basis penggemar yang kuat. Identitas rahasia dan misi utamanya untuk mengalakan kejahatan adalah karakteristik utama dari subgenre ini.



Apakah di cerita tersebut bisa kamu temukan ada seseorang dengan kemampuan super spesial, standar moral yang tinggi, du…

Ubur-Ubur Lembur oleh Raditya Dika

Ubur-ubur Lembur by Raditya Dika
My rating: 3 of 5 stars

O0m Dika, eh salah, bang Dika memang terbukti pencerita top.

Ngalir aja. Serasa baca kumpulan cerpen gitu. Tapi bedanya ini pengalaman batin bang Dika sendiri yang diceritain. Teknik berceritanya keren.

Isinya seru. Kontemplatif. Suka sama apa yang dibilang Radit, hiduplah dari apa yang elo senengin. Kira-kira gitu bahasa bebasnya.

selain itu. Jadi penasaran gue kan, sama Radikus makan kakus. yang dimention di bab terakhir gitu. Eh bener ga sih?

Rekomendasi nggak?

Iya, kalau pengen baca tulisan terbaru Radit, elo harus beli bukunya.
Kalau fans Radit garis keras, apalagi. Wajib hukumnya.

Tapi kalau dibilang, bagusan mana, saya akan bilang Koala Kumal ya.

salutlah sama effortnya Raditya dika. Ia bilang nyicil tulisannya di sela-sela jobnya yang udah seabrek cuy, dan bener-bener kelihatan ini kayak perjalanan karirnya dia yang pengen dibagi ke khalayak pembaca.

View all my reviews