Blogger Interview with Pauline Destinugrainy.



Bloger buku mulai mendapat tempat di industri perbukuan Indonesia sejak beberapa tahun terakhir. Terbukti dengan semakin banyak kerjasama antara penerbit & bloger di tahun 2015. Berbagai penerbit seolah berlomba menggunakan jalur promosi media sosial dalam merangkul calon pembaca. Bloger buku punya banyak peran dalam memajukan dunia literasi kita. Satu diantaranya adalah secara kreatif mengenalkan bacaan baru kepada khalayak luas. Salah satu bloger buku yang secara konsisten mengulas isi bacaannya adalah Pauline Destinugrainy. Sosok dibalik layar blog "Desty Baca Buku". Beragam apresiasi sudah diberikan banyak kalangan untuk kemauannya yang kuat dalam mereview buku.




"Saya tinggalnya di kota Palopo, sebuah kota yang mungkin tidak ada di peta Indonesia, tapi pasti ada di peta Sulawesi Selatan," kata wanita 32 tahun yang termasuk 10 orang pertama anggota komunitas Blogger Buku Indonesia (BBI).

"Sehari-hari saya bekerja sebagai dosen di sebuah Perguruan Tinggi swasta di kota ini. Demi sesuap nasi dan setumpuk buku." lanjut ibu dari Yobel, anak lelaki yang menggemaskan sambil tersenyum.

Penulis yang akrab disapa dengan Desty, selain dengan dunia buku juga akrab dengan dunia Anggrek. Saya mengenal mbak Desty sejak awal tahun 2014. Pembawaannya yang tenang dan bersahabat adalah kesan awal yang saya dapati. Mbak Desty menulis dengan ringkas & informatif dalam mereview buku. Penyuka bacaan genre Romance, Young Adult, hingga Metropop ini menjadi referensi saya saat penasaran dengan sebuah buku.


"Pernah diwawancarai oleh blognya A.S. Dewi dalam rangka Close Up Interview sewaktu ulang tahun BBI. Kalau media, belum pernah diwawancarai. Tapi blog saya pernah tampil di majalah CHIC dalam segmen Blog Review." terang pembaca yang mengaku masuk tipe omnireader. Sekedar informasi sudah lima tur blog yang dikerjakan. Mulai dari nama besar seperti Christian Simamora hingga Ade Tsugaeda, novelis thriller yang baru merilis karya terbarunya "Sudut Mati".


Merupakan sebuah kejutan buat Haremi Book Corner. Selama ini saya penasaran dengan member BBI yang punya kemampuan melahap buku dalam waktu singkat. Beberapa bloger BBI yang melegenda diantaranya ada mbak Threez, mbak Desty, dan mas Tezar. Semesta mendukung. Mbak Desty bersedia berbagi pengalamannya disini. Di kesempatan kali ini H23BC berbincang dengan mbak Desty soal buku-buku dalam hidupnya hingga tips mereview buku yang tak kalah menarik. Selamat mengikuti.
***


Tentang buku, kesenangan membaca & blog buku.




Sebagai pembuka, saya ingin mengucapkan terima kasih mbak Desty sudah mau diwawancarai di H23BC. Apa saja buku-buku yang dibaca belakangan ini?


Saya banyak membaca buku genre romance dan thriller, 2 genre favorit saya. Yah…dalam rangka menyelesaikan Reading Challenge juga sih. Yang sementara dibaca ada buku Before I Go To Sleep, Quo Vadis?, The Cuckoo’s Calling sama A Beautiful Mess.


Apa mbak Desty masuk dalam tipe one-book-at-a-time reader?

Nggak. Saya omnireader. Setiap hari saya membaca minimal 2 judul buku bersamaan. Satu dalam bentuk ebook, satu lagi dalam bentuk paperback. Itu yang novel (buku kerjaan nggak masuk hitungan ya..)


Terakhir kali saya membuka "Desty Baca Buku", ada tur blog dari Ginger Elyse Shelley. Boleh cerita sedikit tentang tur blog Dear Miss Tuddels itu ?


Ah… iya. Jadi waktu itu di grup WA Joglosemar, Dion (editor di Diva Press) menawarkan posisi sebagai host untuk blogtour-nya novel "Dear Miss Tuddels" karya Ginger Elyse Shelley. Waktu itu kalau nggak salah juga sedang ramai dibicarakan di grup kalau GES ini adalah pseudonym dari Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (oke..butuh contekan untuk nulis namanya). Kebetulan, saya baru saja menerima bukunya Ziggy yang berjudul "Tanah Lada" sebagai hadiah #ResensiPilihan dari Gramedia. Nah saya pengen membandingkan tulisannya Ziggy dan Ginger. Jadinya saya melamar untuk jadi host blogtour-nya "Dear Miss Tuddels". Di blogtour ini saya diminta memberikan review dan melaksanakan Giveaway. Ternyata banyak yang ikutan GA-nya.


Siapa novelis terfavorit mbak Desty?

Jodi Picoult. Saya suka novel yang konfliknya itu perlu riset mendalam. Dan tulisan Jodi Picoult selalu menyajikan hal seperti itu. Saya jatuh cinta pada tulisannya sejak membaca "My Sister Keepers". Entah kenapa saya suka membaca novel yang isinya bikin pembaca berpikir…hehe



Ceritakan ke pembaca, apa buku terbaik yang pernah direkomendasikan seseorang untuk mbak Desty? Buku terbaik yang diterima sebagai hadiah?


Baru-baru ini saya membaca "The Martian", karena banyak dibicarakan orang. Sebenarnya science fiction bukan genre favorit saya. Tapi saya ngasih bintang 5 ke The Martian. Mungkin karena isinya bikin mikir kali ya…

Buku terbaik yang saya terima sebagai hadiah? Ada beberapa “buntelan” yang saya terima dan kemudian saya kasih bintang 5 setelah membacanya. Bisa dicek di sini (https://www.goodreads.com/review/list/4883578?page=1&shelf=buntelan). Kalau disuruh memilih yang terbaik, so far saya akan memilih "Partikel". Buku ini saya dapat karena menang kuis di sebuah blog. Saya suka karena di dalamnya ada yang bahas Biologi :)



Membaca cepat. Lebih tepatnya membaca secepat flash.



Saya pribadi salut dengan bloger BBI. Mereka begitu militan dalam membaca. Kemudian menuangkan hasil bacaannya ke dalam ulasan di blog. Salah satunya adalah mbak Desty. Tahun ini buku yang direview hampir 400 judul. Apa sih rahasianya? #emotpenasaran.

Eh…ralat dikit. Tahun ini saya baru membaca 100 buku, dan tidak semua saya review. Tapi memang di blog saya ada 395 review, tapi itu dalam jangka waktu 4 tahun.

Rahasia membaca saya? Saya selalu bingung menjawab pertanyaan ini. Saya pernah ngetes berapa sih kecepatan membaca saya? Menurut Legentas (www.legentas.com), kecepatan membaca saya saat ini adalah 620 kata per menit. Saya pernah membahasnya di sini (https://destybacabuku.wordpress.com/2015/01/28/belajar-membaca-efektif/)


Saya selalu memanfaatkan waktu luang untuk membaca. Membaca bukan lagi sekedar hobi bagi saya, tapi sudah jadi kebutuhan. Hiburan saya nomor 1 adalah membaca. Pelarian saya dari rutinitas kerja adalah membaca. Selain itu, bagi saya membaca cepat bukan soal waktu, yang penting bagi saya adalah pemahaman saya akan apa yang saya baca. Dan pemahaman itu yang diperlukan saat membuat sebuah review.


Saya orangnya pelupa. Kadang saya lupa isi buku yang sudah saya baca. Untuk itu saya membuat review, biar saya nggak lupa sama isi bukunya. Makanya saya membuat tagline blog saya, “Karena membaca adalah candu, dan menuliskannya kembali adalah terapi”.

Sejak tahun 2014 saya berjanji pada diri saya sendiri untuk lebih rajin membuat review. Ternyata susah. Godaannya banyak, mulai dari malas, ndak sempat, dll. Akhirnya saya siasati dengan membuat resume singkat di Goodreads. Ketika ada waktu luang, baru saya tuliskan di blog.



Kalau ada followers yang mention atau email. "Kakak ada tips atau cara biar menang tantangan membaca 50 atau 100 judul buku setahun?"
 

Tips-nya: jadi omnireader saja…haha.. Eh tapi beneran itu yang saya terapkan. Saat saya stuck atau bosan sama buku yang satu, saya beralih ke buku yang lain. Tips ke-2, baca buku yang masuk dalam genre favoritmu. Sesekali bolehlah membaca genre lain, biar ndak bosan.



Sebagai seorang bloger buku, ada nggak persiapan-persiapan tertentu sebelum memulai membaca novel?

Kalau saya sih jarang bikin persiapan. Biasanya saat membaca bukunya, saya langsung membayangkan seperti apa review saya nantinya. Kalau ada kalimat/quote yang saya anggap bisa mendukung review saya nantinya, biasanya saya tandai dengan sticker post-it atau saya tuliskan di update status Goodreads.




Mengakhiri bincang-bincang ini, ada pesan yang ingin disampaikan kepada pembaca ?

Hmm…membaca banyak buku itu bagus. Tapi menuliskannya kembali (dalam bentuk review) jauh lebih bagus. Bukan hanya bermanfaat bagi penulis buku yang kita baca, tetapi juga bagi orang lain. Tanpa kita sadari kita juga membantu dunia literasi di Indonesia, dan menjadi bagian dari sejarah literasi dunia.



*Transkrip wawancara (dalam format PDF) bisa diunduh disini.*


Simak juga obrolan seru lainnya disini 

Comments

  1. Wahhhh seru, suka deh sama jawabannya mbak Desty :D
    Iya, mbak Desty itu kalem banget, nggak banyak omong, langsung ke intinya tanpa basa basi, jadi kangen deh, kapan bisa ketemu lagi :(

    Mau dong kang kapan2 diinterview kayak gini, mihihihihi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mbak Sulis nuwun udah ikut komen.

      Tribute to mbak Desty.

      Boleh2 :)

      Delete
  2. Penutup dari Mbak Desty luar biasa



    *gelundung ke pantai-pantai indah di Sulawesi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sudah ikut komen mas.

      Quoteable pokoknya wawancara mbak Desty :)

      Delete
  3. Aku juga omnireader, tp bacaku selooowww banget, ga nyampe 100 buku setahun, separonya aja pake ngeden hihihi...

    *trus ikut nggelundung ke pantai2 cakep bareng Dion* :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nuwun mbak Lila udah mampir komen :)

      Hidup omnireader!

      Delete
  4. Mbak Desti ini keceeeh...

    *Jiper liat bacaan sama pertanyaan ke narsum interfyu*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nuwun mbak O udah mampir komen :)

      Salut sama mbak Desty pokoknya :D

      Delete
  5. @dion & mbalil : Eh...kalian ngapan gelundungan ke pantai :)))))

    Thanks banget Steven, yang sudah berkenan mewawancarai saya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama mbak Desty.

      Mas Dion sama mbak Lila pengen diajak liburan ke sana :)

      Delete

Post a Comment