Skip to main content

Review Novel Critical Eleven oleh Ika Natassa


"Semua pergulatan batin dan ekspresi setiap tokoh dinarasikan dengan indah. Inilah yang membuat saya terenyuh, tersenyum simpul, kadang (sedikit) berkaca-kaca saat membaca Critical Eleven."

Critical Eleven adalah novel fiksi romantis yang punya rekor hebat dalam industri perbukuan kita yang sedang lesu. Ika Natassa begitu piawai memainkan rasa penasaran penggemar setianya. Sesungguhnya banyak hal yang dibagikan Pandji di Indiepreneur soal memasarkan karya, dilakukan dengan baik oleh founder LitBox. Dari set date yang sudah ditetapkan, lewat Instagram kita diajak untuk harap-harap cemas menantikan apa yang bakal ditemui di Critical Eleven. Setiap pembaca militan mbak Ika pasti ingin jadi yang pertama untuk bisa menikmati karya ketujuh sang penulis pujaan. Dan Boom! 1.111 novel langsung habis lenyap dalam waktu 11 menit.

Tidak seperti Twivortiare 2, saat membaca Critical Eleven ada sebuah sensasi yang beda. Di 2-3 halaman awal, bahkan hingga halaman 18 saya langsung jatuh hati dengan kisah percintaan Ale dan Nya. Mbak Ika berhasil membangun awal cerita yang khas banget Ika Natassa dengan begitu smooth, begitu mempesona membuat kita penasaran untuk pengen tahu apa kisah selanjutnya. 


Apa yang membuat saya "rela" 2 hari menamatkan CE (setelah bab pertama saya baca Agustus kemarin) ?

Pertama, Ika Natassa menyajikan kisah romantis yang "berisi". Setidaknya pas baca CE kita bisa jadi "tahu banyak". Begitu simpelnya :) Di awal-awal kita langsung dijejali soal travelling, cinta, buku, film, biologi, you name it. Saya menyukai CE karena narasi yang ada jauh dari kesan datar. Semua pergulatan batin dan ekspresi setiap tokoh bisa dinarasikan dengan indah. Inilah yang membuat saya terenyuh, tersenyum simpul, kadang (sedikit) berkaca-kaca saat membaca Critical Eleven. Saya bisa bertaruh, sebagian besar kita punya pengalaman yang sama saat membaca CE *emoticon senyum*. Mbak Ika sukses membuat kita merasa lebih dekat secara emosional dengan karakter di dalam CE. Kedua, penulis mampu memaintain keseruan cerita hingga akhir dengan baik. That's why, saya tidak mampu menahan diri untuk terus melahap bab berikut. Berikutnya lagi. Sampai halaman terakhir apresiasi dari sang penulis.


***

Injinkan saya untuk mengutip sedikit pendapat Ninit Yunita soal novel ini, bukan karena kekurangan ide untuk nulis. Tapi inilah yang 100% juga saya rasakan. Tulisnya, "Ika sebagai pilot, mengendalikan segalanya dengan sangat baik... This book will successfully put a smile on your face and also make you think." 


Saya juga setuju kalau novel ini merekam "jejak" kehidupan sosial kaum urban Jakarta. Bisa jadi beberapa tahun kemudian ketika anak gaul Jakarta ingin tahu sedikit banyak soal kehidupan Jakarta tempo dulu. Mereka cukup membuka dan melahap cerita percintaan Ale dan Anya. Simak ulasannya lebih lanjut di Critical Eleven: "Potret Urban sekaligus Dokumen Sosial" karya Yulaika Ramadhani (review kerennya dimuat di rubrik buku Tempo Minggu, 30 Agustus 2015, salut!). 

Last but not least, membaca Critical Eleven bisa diibaratkan menonton drama percintaan kelas wahid di serial tv luar. Bak naik Roller Coaster, kita siap-siap untuk menanti apa yang bakal terjadi. Berbekal riset dan kerja keras sang penulis, penggambaran cerita yang filmis dengan mudah membuat kita seolah "terjun" masuk ke dunia cerita. Menikmati CE dengan sederhana. Tinggal duduk manis ditemani cemilan dan kopi (kacang atom ?!?) dan bersiap tenggelam di kisah percintaan Aldebaran Risjad & Tanya Baskoro.

Terima kasih untuk sang penulis yang menghadirkan pengalaman membaca menyenangkan ini.



Critical Eleven dikarang oleh Ika Natassa. Diterbitkan tahun 2015 oleh Penerbit Gramedia Pustaka Utama.

Comments

Popular posts from this blog

Ubur-Ubur Lembur oleh Raditya Dika

Ubur-ubur Lembur by Raditya Dika
My rating: 3 of 5 stars

O0m Dika, eh salah, bang Dika memang terbukti pencerita top.

Ngalir aja. Serasa baca kumpulan cerpen gitu. Tapi bedanya ini pengalaman batin bang Dika sendiri yang diceritain. Teknik berceritanya keren.

Isinya seru. Kontemplatif. Suka sama apa yang dibilang Radit, hiduplah dari apa yang elo senengin. Kira-kira gitu bahasa bebasnya.

selain itu. Jadi penasaran gue kan, sama Radikus makan kakus. yang dimention di bab terakhir gitu. Eh bener ga sih?

Rekomendasi nggak?

Iya, kalau pengen baca tulisan terbaru Radit, elo harus beli bukunya.
Kalau fans Radit garis keras, apalagi. Wajib hukumnya.

Tapi kalau dibilang, bagusan mana, saya akan bilang Koala Kumal ya.

salutlah sama effortnya Raditya dika. Ia bilang nyicil tulisannya di sela-sela jobnya yang udah seabrek cuy, dan bener-bener kelihatan ini kayak perjalanan karirnya dia yang pengen dibagi ke khalayak pembaca.

View all my reviews

Review Buku "Memimpin" oleh Alex Ferguson dan Michael Moritz

Rasanya menyenangkan dapat (mencoba) memahami resep memimpin yang diutarakan Sir Alex Ferguson. Bahasan tentang dunia manager klub Liga Inggris sangat menggoda. Bacaan ini sudah masuk dalam radar saya untuk dibeli sekitar beberapa tahun silam, waktu keluar dalam rilisan punggung keras. Namun keinginan tersebut seringkali tumpul karena harganya yang kelewat mahal, dan meski sudah ada rilis softcover, buku-buku lain seperti The Upstarts, Thank You For Being Late, Shoe Dog, dan The Elements of Journalism sudah memberatkan belanja saya.

Enter The Magical Realm - Superhero Fantasy

Ulasan Superhero Fantasy plus 1st Giveaway H23BCSelamat datang di rangkaian Around The Genres in 30 Days Blogger Buku Indonesia (BBI). Silakan nikmati semua post yang akan ditampilkan di Blog Buku Haremi. Aku sangat excited! Ini adalah kesempatan pertamaku meramaikan event HUT ke 4 BBI. Semoga kalian bisa terhibur dan semakin suka dengan review buku komunitas BBI.




Di post kali ini H23BC kebagian mengulas tentang subgenre fantasi, sudah bisa ditebak kan? Yap, Superhero Fantasy (SF). Siapa sih yang sekarang enggak ngikutin serial TV Arrow atau The Flash. Atau yang paling ditunggu-tunggu tahun ini film besutan terbaru Marvel Avengers: Age of Ultron. Kira-kira udah bisa ngebayangin seperti apa SF. Genre ini memang sangat populer dan punya basis penggemar yang kuat. Identitas rahasia dan misi utamanya untuk mengalakan kejahatan adalah karakteristik utama dari subgenre ini.



Apakah di cerita tersebut bisa kamu temukan ada seseorang dengan kemampuan super spesial, standar moral yang tinggi, du…