Showing posts with label Sport. Show all posts
Showing posts with label Sport. Show all posts

Monday, 17 July 2017

(Review) Quiet Leadership: Winning Hearts, Minds and Matches by Carlo Ancelotti

"Membongkar isi kepala Don Carletto"




Membaca buku ini membuat saya respek akan keberhasilan tim AC Milan sewaktu masa jaya di era milenium. Sebagai fans Inter (saya merasa begitu) waktu itu, saya cukup heran akan keberhasilan mereka. Sekarang apa yang menjadi ramuan keberhasilan tersebut dengan gamblang bisa kita temui di buku ini. AC Milan adalah keluarga bagi sang manager. Membangun tim dengan titian rasa, bukan sekadar mengambil jalan pintas meraih megabintang dari klub latin, misalnya.

Jika dibandingkan dengan Leading milik Sir Alex, Quiet Leadership terkesan monoton, banyak repetisi, dan kurang mengungkap bumbu-bumbu dalam dunia sepakbola. Saya berharap kelak Don Carlo akan membuat buku semacam itu.

Bapake hampir melatih Liverpool. Uhukk.. Realita di lapangan (baca: pemain mokong): santapan sehari-hari yang harus dihadapi pelatih. Berlusconi memang terlalu! itu semua membuat membaca buku ini terasa penuh kegembiraan dan sedikit kekecewaan. Karena itu tadi, bukunya terasa singkat.


Sebagai hasil akhir membaca buku ini. Saya bisa mengambil simpulan. Jatuh bangun sebuah klub bola. Bukan hanya dari identitas klub itu semata. Tapi sebagian besar oleh kiprah para pemain. Sisanya adalah kerja keras sang pelatih di dalamnya.


Sharing berkelas dari sang master ini merupakan bacaan yang taktis. Banyak hal yang bisa diambil sisi positifnya. Di tiap akhir bab, tersedia poin pembelajaran yang bisa diadaptasi dalam kehidupan sehari-hari. Carlo Ancelotti saat ini memimpin tim asal Jerman, Bayern Munchen, sepeninggal Pep Guardiola. Mantan playmaker handal AC Milan ini berupaya mengangkat pamor Munchen ke tingkat tertinggi eropa.

Buku ini saya rekomendasikan untuk penggila klub AC Milan dan khususnya penikmat bacaan bertema olahraga.

Saturday, 19 July 2014

Biografi Robin Van Persie

Perjalanan hidup bak Roller Coaster RVP



Judul: Biografi Robin Van Persie
Penulis: Andy Llyod-Williams
Penerjemah: Dieni Purwandari & Iryani Syahrir
Editor: Iryani Syahrir
Tahun terbit: Februari 2014
Penerbit: @Phoenix_Press


Baru saja perhelatan akbar Piala Dunia 2014 berakhir namun ingatan fan sepakbola akan selalu mengingat aksi striker timnas Belanda yang meraih juara ketiga. Aksi gemilangnya ketika meruntuhkan permainan tiki-taka juara bertahan Piala Dunia 2010, Spanyol dengan skor 5-1. RVP panggilannya, mengaku pada laga ini mencetak gol terbaik sepanjang karirnya. Menyambut umpan lambung Daley Blind ke kotak penalti, van Persie melentingkan badannya untuk menyundul bola melewati kepala Iker Casillas. Harian Bola menulis Robin van Persie adalah seorang striker kawakan dengan skill mumpuni yang belum habis ketajamannya meski telah menginjak usia 30 tahun. Dia adalah pembunuh berdarah dingin di kotak penalti lawan. Selain cepat, kepala dan kedua kakinya ampuh dalam mencetak gol.

"Inilah tipe gol yang hanya terjadi sekali seumur hidup." -RVP


Kesempatan membaca buku ini sangat pas ketika saat ini RVP telah menjadi seorang bintang, 26 gol yang diciptakan di musim debut bersama Manchester United (MU) membuat dirinya berhasil membuktikan kapasitasnya sekaligus hasrat meraih tropi juara. Di Timnas Belanda pun saat ini pelatih sudah mempercayakan dirinya untuk menjadi kapten tim. Perjalanan Tim Orange tidak lepas dari hubungan positif sang pelatih dan dirinya yang menular ke seluruh tim, hal ini berdampak luar biasa meski belum mampu meraih trofi Piala Dunia. Kita tentunya penasaran bagaimana perjalanan karir pria kelahiran Rotterdam untuk mencapai posisinya sekarang, apa saja transformasi kehidupan yang terjadi sehingga dirinya menjadi pemain yang berkelas dunia? jawabannya ada di buku ini.

Andy Llyod-Williams berhasil menuliskan biografi Robin Van Persie dengan baik. Ketika membaca halaman-halaman awal buku ini, sang penulis membawa pembaca mengenal lebih dekat sosok ini dengan tulisan yang mengalir. Di setiap bab kita akan disuguhi cerita bak drama kehidupan yang juga dirasakan orang setiap hari. Fase demi fase kehidupannya baik di level klub dan tim nasional diceritakan dengan menarik. Komentar atau pernyataan yang melengkapi cerita membuat kita lebih paham akan realita yang terjadi. Membaca buku ini semakin lengkap dengan detail yang mengagumkan. Lewat tulisannya kita diajak berimajinasi tentang keriuhan selebrasi ketika RVP mencetak gol, bagaimana alotnya pertandingan yang dijalani.

Di bagian awal buku ini penulis menceritakan bagaimana awal karir Robin van Persie di Belanda. Lahir di wilayah Kralingen, sebelah timur Rotterdam pada tanggal 6 Agustus 1983 dari keluarga seniman membuat pemikirannya berbeda dengan pemain lainnya. Kreativitasnya di lapangan kemudian hari yang membuktikan hal tersebut. Tekad kuat dan semangatnya diasah melalui bermain sepakbola "pemenang terus bermain" di jalanan Kralingen. Bermain di Excelsio yang berarti maju dan naik, begitupun dengan karirnya kelak. Robin muda kemudian mendapat debut menawan di klub papan atas Liga Belanda, Feyenoord. Prestasinya diganjar penghargaan pemain muda terbaik KNVB. 


van Persie muda (ketiga dari kiri)

Namun sifatnya yang temperamental membuat banyak masalah di awal karirnya, mulai dari kesalahpahaman dengan pelatih, diberi cap sombong dan kritik pedas dari bintang tim, Pierre van Hooijdonk (juga saat PD 14 Brasil). Di musim awal bermain dia mengecap manisnya juara UEFA ketika mengalahkan Borussia Dortmund 3-2. Kenangan kelam juga diterimanya kala dipulangkan van Marwijk dari persiapan tim menjelang pertandingan Piala Super UEFA. Perlakuan sadis hooligans Ajax turut menorehkan tinta merah di karir gemilangnya.

"Sikap cerdas dibutuhkan di lapangan untuk memenangkan pertandingan besar." - Arsene Wenger (Manager Arsenal)

Sang profesor, Arsene Wenger.
Di bab kedua penulis menceritakan transisi yang sukses dijalani Robin van Persie di musim pertamanya di Liga Inggris. Di tahun 2004, pemain berusia 20 tahun hijrah ke Inggris dengan nilai transfer sebesar 2,75 juta pounds terasa kecil dibandingkan dengan nilai transfer raksasa Wayne Rooney yang dibayar MU. Sang manager Arsenal, Arsene Wenger yang membangun tim baru berisikan pemain muda bertalenta kemudian menjadi sosok paling penting bersama pelatih timnas Belanda, Marco van Basten dalam perkembangan karir RVP. Berperan ganda sebagai pelatih dan ayah, Wenger memberikan ketegasan, disiplin, serta bimbingan memoles bintang muda ini menjadi pemain yang lebih matang. Van Basten berhasil membawa bintang muda ini masuk ke tim dan membuktikan dirinya layak bermain di sekumpulan bintang sepakbola. Meskipun bukan pilihan utama sang pelatih di klub barunya, kompatriot asal Belanda yang juga legenda Arsenal, Dennis Bergkamp adalah inspirasi sekaligus batu loncatan karir van Persie. Dia mengaku banyak menyerap pelajaran dari "The Non Flyng Dutchman". Awal karir yang gemilang bagi seorang pemain muda dengan raihan Piala UEFA & Piala FA.

Bab berikutnya menceritakan drama kehidupan pemain muda ini. kehidupan yang berubah membuat tekanan yang cukup besar bagi pemain muda ini. RVP menempatkan dirinya berada di dalam sebuah kontroversi, hampir semua orang merasa bahwa karir sepakbolanya yang baru seumur jagung akan tamat. Liburan musim panas dihabiskan di penjara Belanda, akibat kasus dugaan pemerkosaan atas seorang gadis muda kala berlibur bersama 2 orang temannya di sebuah apartemen. Kehidupan rumah tangganya dengan gadis keturunan Maroko, Bouchra Elbali tergoncang hebat akibat pengakuan dirinya yang berselingkuh dengan gadis muda tersebut. Untungnya Bouchra seorang wanita yang tegar dan tetap bertahan, dirinya bukan termasuk gadis-gadis yang berambisi menjadi WAG (Wife and Girlfriend). Lolos dari keretakan rumah tangga namun dia jatuh dalam jebakan seseorang yang ingin sekali menjadi WAG ketika dia bertemu dengan Sandar Boma Krijgsman.
Van Persie dan sang istri, Bouchra Elbali

Bab selanjutnya penulis menceritakan kelanjutan karir RVP yang tetap didukung oleh Arsenal. Dirinya harus cepat move on ketika memasuki musim 2005/06, Meski ditinggal sang kapten Patrick Vieira, Arsene Wenger tetap percaya akan potensi tim muda. Publisitas negatif dari media sangat mengkhawatirkan perkembangan sang bintang muda. Penulis menceritakan kerjasama antara Arsene Wenger dan van Basten untuk melindungi pemain ketika berlaga di pentas internasional. Sebagai bagian dari perjanjian RVP tidak boleh menghadiri sesi wawancara dengan awak media. Di usia 22 tahun, setelah melewati kesulitan hidup ini dukungan kedua manager tersebut sangat bernilai untuk kelanjutan karirnya.


Perlahan demi perlahan mental dan karakter pemain belanda ini berubah ketika menjadi seorang ayah, namun dia tetap belum menjadi starter. Terbukti saat laga final Liga Champion tahun 2006, dirinya tidak dimasukkan dalam permainan. Mengingat bentrokan lawan Barcelona di Paris, RVP mengungkapkan kesedihannya karena tidak dapat tampil. Kartu merah kiper memaksa Arsene Wenger berpikir panjang untuk memainkan pemain bertipe menyerang. 

"Final di Paris sangat mengecewakan. Saya tahu kalau saya tidak akan bermain sejak awal, tetapi saya yakin saya akan masuk di babak kedua -- tetapi kartu merah untuk Jens Lehmann merusak semuanya." (hal 155)
Di Bab 5, penulis menceritakan perjalanan RVP di Piala Dunia pertamanya. Tentang gol pertamanya di pentas 4 tahunan. Saat itu Piala dunia 2006, dirinya beruntung bisa masuk tim. Ulasan persiapan hingga matchday yang menarik untuk disimak, fokus cerita pada persaingannya dengan rekan setim Arjen Robben dan duet bersama bintang Prancis, Thierry Henry di klub.

"Di Arsenal dan bersama van Basten saya belajar bermain dengan cepat dan sederhana, saya mendapatkan pelajaran yang bagus tentang bekerja sama dengan cepat dalam sepakbola. Saya mulai memberikan umpan kepada para penyerang lain dan memberikan ruang bagi para pemain tengah kami. Bermain di Arsenal dan bekerja sama dengan van Basten merupakan dua hal paling penting dalam karier saya." (hal. 212-123)

"Dia diberi pesan yang jelas untuk "dewasa atau hengkang" dan pesan tegas seperti itulah yang selama ini dibutuhkan oleh pemain muda hebat yang suka melawan ini." (hal 122)

Kisah di buku ini berlanjut hingga perjalanan RVP harus memikul tanggung jawab menjadi kapten tim Arsenal membawa skuad muda mengarungi musim kompetisi yang panjang. Rintangan dalam karirnya berupa kondisi fisik yang tidak mumpuni, berulang kali diterpa cedera membuatnya harus absen cukup lama membela klub. Road to final di Piala Dunia 2010 yang dibumbui dengan sejumlah kontroversi. Isu perpecahan tim kala itu menerpa skuat Belanda. Media mengungkapkan bahwa ada keretakan hubungan antara van Persie dengan Wesley Sneijder. Selain itu Timnas Belanda dikritik bermain jauh dari "Total Football" yang selama ini menjadi ciri khasnya. Gaya bermain cenderung keras diperagakan Belanda di Afrika Selatan. Kegagalan Timnas Belanda meraih gelar juara membuat RVP merasa bahwa lebih baik bermain pragmatis untuk menang, ketimbang bermain cantik tanpa kemenangan seperti di Arsenal. Di balik sisi gemerlap menjadi pemain bintang, RVP bersama istrinya juga suka beramal. Kedua pasangan mendonasikan pendapatannya lewat yayasan SOS Children.

Timnas Belanda asuhan van Marwijk lebih mirip tim hibrida -- memiliki kekuatan yang besar dengan sikap yang kejam, tetapi memiliki beberapa pemain istimewa untuk mengganti gaya permainan jika situasi mengijinkan. (hal.304)

Di akhir buku ini penulis mengulas kepindahannya baru-baru ini di klub Sir Alex Fergusson. MU berhasil mendapatkan striker Belanda ini di masa emasnya, dan berhasil meraih gelar juara Liga Inggris ke 20. Persis seperti nomor punggung yang dipilih oleh RVP. Lepas dari keunggulan buku ini, terdapat sedikit catatan bahwa Edgar Davids dikirim pulang dari tim saat pergelaran Piala Eropa 1996. (hal 235)

Proses perjalanan sang striker dari bintang muda paling berbakat hingga menjadi seorang striker haus gol dapat kita cermati di Biografi Robin Van Persie. Buku ini merupakan bacaan wajib bagi para penggemar berat sosok Robin Van Persie dan timnas Belanda. Selamat membaca.

Sunday, 27 April 2014

Book Review Alex Ferguson, My Autobiography

Reflections on the life of the best managers in the UK

Reading this book is like watching live and feel a life journey of the manager. This hardcover book opens with the image above Manchester United fan appreciation togetherness Sir Alex Ferguson for 26 years at the club. Such as exploring the passage of time, there is a photo at the beginning of the sheet at the beginning of managerial SAF, and at the end of the sheet with a photo SAF medal win the English Premiere league. All topics here very memorable and provide valuable information for both Manchester United fans and football lovers.
 
Alex Ferguson Stand

In the early chapters we can feel how emotional the manager to make tough decisions, he will retire from football life. May 2013 be the end point of devotion the Scottish manager with winning 20 Premier League titles, 2 Champions league, English 4 Cup, 1 Intercontinental Cup, 1 FIFA Club World Cup, 1 European Super Cup, 10 Community Shield. In chapter "Reflection" here the author tells the story of Manchester United manager turnover and comment on the last his 1500 match. 5 MU 5 West Brom. "Thank you, kids. Guys really give a great farewell party at all!". The departure of brother-in-law gave a strong influence, and SAF also feel this is the right time to stop. The death of my wife's older sister has made ​​a dramatic change. And, I want to retire as a winner. So I quit while victory.". At the end of this chapter the authors do not comment on many clubs serving quality, atmospheric games like Manchester United. "When we were 1-0 up and the remaining time of 20 minutes, returned, or there is a risk you had to be stretchered out of the stadium. You can go in the hospital!" 

At the chapter titled "Glasgow roots" SAF tells his background as a young man in charge of the family pub. Know the personality of many people young age became one of capital importance in caring of the football club. Ferguson clan typical optimism that reads "ex Dulcius asperis" or "Sweeter after many difficulties." helped his managerial career ranging from 4 months at East Stirlingshire in 1974 and Manchester United in 2013. "Measures to control major changes over the years has been underpinned by the belief that we will win against any challenger."

 
Alex Ferguson early years
Chapter titled "Retirement U-Turn" here to explain the reasons behind MU made ​​by AF often enjoy showing prowess wins in the end, able to lead his team having missed the goal by an opponent. Here's the recipe from the unyielding character, high determination throughout the match to clinch a victory. "If you want a summary of me about how it feels to be the manager of Manchester United, then I will show you the last 15 minutes in every game United. Sometimes something extraordinary happens, as if the ball was sucked into the opponent's net. Often times players would like to know the ball towards there. they knew that they were going to score. Granted it does not always happen, but the whole team never stopped believing that it could happen. characters were good. I always take a risk. Plans I: do not panic until the last 15 minutes, be patient until the last quarter of an hour, then the craze. "
The players with EPL title
Alex Ferguson talented players like David Beckham, Rio Ferdinand, Ruud Van Nistelrooy, Cristiano Ronaldo, Roy Keane, Wayne Rooney got one separate chapter to describe how they quality assessed, the relationship between player and player or manager. All of them have a deep impression on the coach, do not miss the complete almost all the players who have joined the club given the comments by The Gaffer. Becks is highlighted because of the pursuit of popularity tends not like the boss (he prefer stay focus on football detail, keep low profile), CR7 is the best talent I have ever coached, Rio has the support due to avoid sanctions after a routine urine examination. In this book the author gives impression on the players that were recruited. There are praised and also criticized, as a manager is not always able to make a purchase or transfer with a high success rate. "Lean Times" chapter discuss thoroughly it 's hard managing big club such as Manchester United. Manager must thinking fast about club transfers. The decision to sign players can only be taken so soon. No one can estimate that the background checks of players still not 100% accurate fitting to be able to play in a way typical of MU. Moreover, the attackers in the club has always been a SAF concern " My problem is, i was at first center forward position, so I always louder to the striker than the other players. "
European Champions League winner

High respect for the opponent to put the manager in the office activities of drinking together after the match. There is no dispute that continues when the final whistle had sounded. Manager and staff of the opposing team usually stop by for a drink and a chat. Here we can see that there is a relationship and friendship among people who engaged in the world of football. Jose Mourinho and Arsene Wenger clearly have a place in the mind of the author. Liverpool club also became the club's most revered by the boss. "Manchester United are Liverpool's biggest rivals - in the history, industry, and football. Manchester United and Liverpool matchs are always emotionally intense."
CR7 in action

Not to be forgotten force '92 young players are the backbone of the MU team. All players have loyalty and his own family have been considered by the SAF. Seeing this golden generation grows is a certain satisfaction. Barcelona is recognized to be the best team that must be resisted by the Manchester United squad. Pure SAF decision to fight the Catalan club with positive tactics, not through the player accumulate in the penalty box or bus parking. City triumph through massive investment also received attention, but according to SAF Manchester City does not have the capacity to defend EPL  title. It takes hard work to be able to retain the title.

About the media, SAF does not figure favored by news journalist. "The first priority is to never reveal the weakness of the team ... Won the game is more important, not look smart in a press conference. Do not embarrass yourself by giving a bad answer."

Fit referee, who able to run fast is the desire of the manager. Likewise with the players, full concentration and focus. It is unique, here SAF encourages players to get acquainted with the sport of chess. "What makes the difference in front of goal? Decision. We have always stressed this to the players. Had I started from scratch again, I will force all players to learn to play chess to be more concentrated. When first learning to play chess, it could be any game recently completed in three or four hours. however, when it's mastered chess, playing chess is a peak in just 30 seconds. decision lightning in pressure. football was like that.

Obviously this book with Sir Alex Ferguson thought plus interesting photographs is a worth reading book as well as being a collection for Manchester United fans and football lovers. 

Saturday, 5 April 2014

Review Buku Alex Ferguson, Autobiografi Saya

Refleksi kehidupan manager terbaik di ranah Inggris







Judul Buku: Alex Ferguson, Autobiografi Saya

Penulis: Sir Alex Ferguson.
Alih Bahasa: Zia Anshor
Cetakan pertama Gramedia Pustaka Utama


Sir Alex 26 Years Made Possible

Buku ini sungguh luar biasa, mengapa? GPU berhasil menangkap momentum dengan menerbitkan edisi terjemahan buku ini. Sekedar informasi buku asli berbanderol 450 ribu. Selain itu penerbit sekali lagi menghadirkan buku yang berkualitas bagi pembaca Indonesia. Buku ini memperkaya buku olahraga yang jarang beredar. Buku Alex Ferguson, Autobiografi Saya merupakan refleksi kehidupan manager terbaik di ranah Inggris.

Membaca buku ini seperti menonton dan merasakan secara langsung perjalanan hidup sang manager. Buku hardcover ini dibuka dengan gambar apresiasi fan MU atas kebersamaan Sir Alex Ferguson selama 26 tahun di klub tersebut. Seperti menjelajahi perjalanan waktu, di lembaran awal terdapat foto SAF pada awal masa manajerial, dan di lembaran akhir foto SAF dengan medali kemenangan liga Inggris. Semua topik disini sangat berkesan dan memberikan informasi berharga baik bagi fan MU maupun pecinta sepakbola alias gibol.
Alex Ferguson Stand

Pada Bab-bab awal kita dapat merasakan bagaimana emosional sang manajer untuk mengambil keputusan mundur dari dunia manager. Mei 2013 menjadi titik akhir dari pengabdian peraih 20 gelar juara liga Inggris, 2 juara liga Champion, 4 Piala Inggris, 1 Piala Interkontinental, 1 Piala Dunia Klub FIFA, 1 Piala Super Eropa, 10 juara Community Shield. Di bab Refleksi disini penulis menceritakan detik-detik pergantian manager MU dan mengomentari partai terakhir tepatnya ke 1500. West Brom 5 MU 5. "Terima kasih, anak-anak. Kalian benar-benar memberikan pesta perpisahan yang hebat sekali!" Kepergian kakak iparnya memberikan pengaruh yang kuat, dan SAF pun merasa inilah waktu yang tepat untuk berhenti. Kematian kakak perempuan istri saya telah membuat perubahan yang dramatis. Dan, saya ingin pensiun sebagai pemenang. Jadi saya berhenti ketika sedang meraih kemenangan." (hal 13). Di akhir bab ini penulis mengomentari tidak banyak klub yang menyajikan kualitas, atmosfer pertandingan layaknya MU. "Jika kami ketinggalan 1-0 dan waktu tersisa 20 menit lagi, pulanglah atau ada risiko anda harus ditandu keluar stadion. Anda bisa masuk RS!" (hal 18.)

Di bab Akar Glasgow SAF menceritakan latar belakang kehidupannya sebagai pemuda yang mengurusi pub keluarga. Mengenal kepribadian banyak orang sedari muda kelak menjadi salah satu modal penting dalam mengurusi klub sepakbola. Optimisme khas klan Ferguson yang berbunyi "Dulcius ex asperis" atau "Lebih manis sesudah berbagai kesukaran." membantu perjalanan karirnya mulai dari 4 bulan di East Stirlingshire tahun 1974 sampai di Manchester United tahun 2013. "Tindakan mengendalikan perubahan besar selama bertahun-tahun telah ditopang oleh kepercayaan bahwa kami akan menang melawan penantang mana pun." (hal 19.)

Generasi 92
Bab Batal Pensiun disini menjelaskan alasan dibalik MU besutan AF seringkali menampilkan kehebatan menang di menik akhir, timnya mampu unggul setelah ketinggalan lewat gol lawan. Inilah resepnya dari karakter pantang menyerah, determinasi tinggi sepanjang pertandingan untuk meraih sebuah kemenangan. "Jika Anda ingin rangkuman dari saya mengenai bagaimana rasanya menjadi manajer MU, maka saya akan tunjukkan 15 menit terakhir dalam setiap pertandingan United. Kadang sesuatu yang luar biasa terjadi, seolah-olah bola tersedot ke jaring lawan. Sering kali pemain seperti tahu bola bakal menuju ke sana. Mereka tahu bahwa mereka akan mencetak gol. Memang itu tidak selalu terjadi, tetapi seluruh tim tidak pernah berhenti percaya bahwa itu bisa terjadi. Karakter yang bagus. Saya selalu mengambil risiko. Rencana saya: jangan panik sampai 15 menit terakhir, bersabar sampai seperempat jam terakhir, lalu menggila." (hal 52).

Kemenangan Eropa
Pemain-pemain binaan AF seperti David Beckham, Rio Ferdinand, Ruud Van Nistelrooy, Cristiano Ronaldo, Roy Keane, Wayne Rooney mendapat 1 bab tersendiri untuk diulas SAF. Semuanya memiliki kesan mendalam bagi sang pelatih, tidak ketinggalan melengkapi hampir semua pemain yang telah bergabung di klub diberi komentar oleh The Gaffer. Becks disorot karena mengejar popularitas yang cenderung tidak disukai sang bos, CR7 merupakan talenta terbaik yang pernah dibina, Rio mendapat dukungan setelah sangsi akibat menghindari pemeriksaan urin rutin. Di buku ini tidak tanggung-tanggung penulis memberi kesan pada pemain-pemain yang direkrut. Ada yang dipuji dan juga ada yang dikritisi, sebagai seorang manager tidak selamanya dapat melakukan pembelian atau transfer dengan tingkat keberhasilan tinggi. Bab Masa Sulit mengupas tuntas hal tersebut. Mengingat saat ini keputusan bisa saja harus diambil begitu cepat. Tidak ada yang dapat memperkirakan bahwa pemeriksaan latar belakang pemain masih belum akurat 100% pas untuk dapat bermain dengan cara khas MU. Para penyerang di klub selalu jadi menjadi perhatian SAF "Masalah saya adalah, karena saya sendiri dulu penyerang tengah, saya jadi selalu lebih keras kepada para striker dibanding pemain lain." (hal 333).
CR7 in action
Respek tinggi ditaruh kepada manager lawan dengan kegiatan minum bersama di kantor selepas pertandingan. Tidak ada perseteruan yang berlanjut ketika peluit akhir sudah dibunyikan. Manager dan staf tim lawan biasanya mampir untuk minum dan mengobrol. Disini terlihat bahwa ada sebuah relasi dan persahabatan sesama orang yang berkecimpung di dunia sepakbola. Mourinho dan Wenger jelas mendapat tempat di benak penulis. Klub Liverpool juga menjadi klub paling disegani oleh si bos. " Rival terbesar MU adalah Liverpool -- dalam sejarah, industri, dan sepakbola. Pertandingan MU dan Liverpool selalu intens secara emosional." (hal 296)

Tidak boleh dilupakan pemain muda angkatan 92 yang menjadi tulang punggung tim MU. Semua pemain memiliki loyalitas dan sudah dianggap keluarga sendiri oleh SAF. Melihat generasi emas ini tumbuh merupakan sebuah kepuasan tersendiri. Barcelona diakui menjadi tim terbaik yang harus dilawan oleh skuad MU. Murni keputusan SAF untuk melawan klub asal catalan dengan bermain positif, tidak lewat menumpuk pemain di kotak penalti alias parkir bus. Kemenangan City lewat investasi besar-besaran mendapat perhatian pula, namun menurut SAF City tidak memiliki kapasitas untuk mempertahankan gelarnya. Dibutuhkan kerja keras untuk dapat mempertahankan gelar juara. 

Soal media, SAF memang bukan sosok yang disukai oleh para pemburu berita. "Prioritas pertama adalah jangan pernah mengungkapkan kelemahan tim... Menang dalam pertandingan itu lebih penting, bukan terlihat pintar dalam konferensi pers. Jangan mempermalukan diri sendiri dengan memberi jawaban buruk." (hal 282).

Wasit yang bugar, mampu berlari cepat adalah keinginan sang manager. Begitupun dengan pemain, konsentrasi dan fokus penuh. Hal yang unik, disini SAF menganjurkan pemainnya untuk berkenalan dengan olahraga catur. "Apa yang membuat perbedaan di depan gawang lawan? Keputusan. Kami selalu menekankan ini kepada pemain. Andai saya mulai dari awal lagi, saya bakal memaksa semua pemain belajar main catur agar bisa lebih berkonsentrasi. Ketika pertama kali belajar main catur, bisa jadi setiap pertandingan baru selesai dalam tiga atau empat jam. Tetapi, kalau sudah menguasai catur, puncaknya adalah bermain catur hanya dalam 30 detik. Keputusan secepat kilat dalam tekanan. Sepak bola pun seperti itu." (hal 293)

Jelas buku ini lewat tulisan yang dilengkapi foto-foto yang menarik merupakan buku yang layak dibaca serta menjadi koleksi buat para pecinta klub Manchester United dan pecinta sepakbola.

P.S. : Terima kasih sudah mampir dan membaca di h23bc.com. Yuk dukung karyaku dengan bantu share di media sosial kamu, tinggalkan komentar, dan follow @h23bc. Dukungan kamu akan sangat berarti.


Wednesday, 12 February 2014

Indra Sjafri: Menolak Menyerah oleh F.X.Rudy Gunawan

Tekad yang bulat buat sepakbola Indonesia


Indra Sjafri: Menolak Menyerah
Penulis : F.X. Rudy Gunawan
Penyunting : Ikhdah Henny
Penerbit : Bentang Pustaka
ISBN : 978-602-291-011-4
Harga : Rp 44.000,-
——————————————————
“Kita ingin masuk semifinal dan lolos ke Piala Dunia 2015 di Selandia baru. Saat ini, kita sudah mengalahkan Juara Asia, tahun depan kita kalahkan Juara Dunia. Semua pasti kaget mendengar target kami. Tapi ini bukan sekadar mimpi. Kalau tidak yakin, seumur hidup kita tidak akan pernah jadi Juara!”

—Indra Sjafri

Nama Indra Sjafri melesat sejak kemenangan bertubi-tubi yang diraih oleh Timnas U-19 asuhannya. Prediksinya yang akurat, keseriusannya menjelajahi Indonesia demi menemukan bakat baru yang berkualitas, totalitas dalam dunia yang ditekuninya, hingga kepercayaan diri yang mengakar kuat, membuat head coach U-19 ini  sangat diperhitungkan di persepakbolaan Indonesia. Indra tak pernah membuat langkah instan dalam hidupnya. Semua pencapaiannya saat ini, dimulai dari kerja keras dan keyakinan yang ia bangun sejak usianya yang masih belia.

Setelah membaca buku perjalanan Timnas U-19 tidak lengkap rasanya bila tidak menghabiskan biografi sang pelatih yang berjasa mengantarkan tim kebanggaan rakyat Indonesia ke putaran final Piala Asia Oktober 2014 di Myanmar. Diterbitkan bersamaan dengan buku Semangat Membatu, juga bertepatan saat ulang tahun ke 51 coach Indra di Yogyakarta. Satu hal yang menginspirasi buat tidak menyerah untuk berbuat sesuatu untuk kemajuan Indonesia tercinta.

Buku yang dilengkapi dengan berita terkait di media membuat pembaca dapat mengingat kembali perjalanan coach Indra dan tim untuk mengangkat tinggi nama Indonesia di pentas sepakbola dunia. FX Rudi Gunawan memberikan sajian menarik buat pendukung timnas U-19, berupa kisah perjalanan Indra Sjafri dari desa Lubuk Nyiur, Provinsi Sumatra Barat hingga mendapatkan posisi melatih timnas U-16 yang kelak menjadi timnas U-19 saat ini. Dari awal kehidupannya telah menunjukkan pribadi yang berbeda, memiliki keunikan tersendiri, Sejak kecil giat membantu orang tua dan aktif dalam kegiatan sosial di lingkungannya. Hal menarik ketika masa SMP ia senang melihat jalannya sebuah proyek pembangunan, berjam-jam bisa dilalui mengamati runtutan proses tersebut. Nampaknya dari dulu, coach Indra memiliki sebuah perhatian khusus dalam kegiatan pembangunan, bukti nyata pada masa sekarang ia diserahi tanggung jawab penuh yang didukung oleh Presiden SBY untuk menggawangi timnas U-19. 

Bagaimana karir sepakbola dan kepelatihan coach Indra? Bagaimana kiprah coach Indra dalam membangun timnas U-19? Seperti apa perjalanan coach Indra memulai keluarga? Selain itu tergambar jelas dedikasinya dalam menukangi timnas, saat timnas masih belum mendapat perhatian masyarakat plus minimnya dukungan dari PSSI. Membaca buku ini kita diajak untuk menaruh harapan yang tidak mustahil, bahwa Indonesia mampu berbicara di pentas sepakbola internasional. Pantang menyerah tanpa memperdulikan imbalan atau pengakuan dalam berkontribusi bagi bangsa, merupakan teladan mulia yang ingin disampaikan lewat buku ini kepada masyarakat Indonesia khususnya kalangan pemuda Indonesia. salah satu hal yang bisa diberikan untuk mengharumkan nama bangsa yaitu lewat cabang olahraga sepakbola.


"Kita bisa berbuat banyak hanya dengan menunjukkan prestasi karena prestasi akhirnya akan memunculkan pengakuan dan dukungan masyarakat luas." - Indra Safri -

Buku ini layak dibaca bagi anda pemerhati sepakbola Indonesia, penggila bola yang penasaran salah satu kunci sukses dari timnas Indonesia U-19. Sukses buat coach Indra dan Terbang tinggi Indonesiaku!

Sunday, 9 February 2014

Semangat Membatu (Official Story TIMNAS U-19) by F.X.Rudi Gunawan & G.C.Utomo

Kisah from zero to hero timnas kebanggaan Indonesia


Semangat Membatu
Penulis : FX. Rudy Gunawan & Guntur Utomo 
Penyunting : Nurjannah Intan & Muhammad Ghofur
Penerbit : Bentang Pustaka
ISBN : 978-602-291-012-1
Harga : Rp 49.000,-

25 Pemain, 5 Pelatih, 2 Staf medis, 2 Kit man, dan 1 Tekad ….

Setelah kata sepakat kami sampaikan, tidak ada lagi konsentrasi yang terbagi selain hanya untuk sepak bola. Perjalanan panjang kami mulai dengan sebuah titik putih di tengah kehidupan kami. Titik putih yang menjadi tanda bahwa kami tak boleh sedikit pun menyerah kalah.

Buku ini merupakan pengingat kisah-kisah yang kami jalani selama berkiprah di persepakbolaan nasional. Layaknya pertandingan sepak bola yang menghadirkan drama-drama dengan hasil yang tak tertebak, perjalanan kami pun diwarnai dengan berbagai macam cerita yang menguras emosi. Namun, seperti apa pun rintangannya, tekad kami sudah membulat: Sang Saka Merah Putih harus berkibar di Piala Dunia!

Pertama selamat buat terbitnya buku resmi Timnas sepakbola Indonesia Under 19 (U-19) besutan pelatih Indra Sjafri. Sebelumnya di tahun 2013 kita begitu bersemangat melihat kiprah Timnas U-19 yang berhasil lolos ke putaran final Piala Asia 2014 di Myanmar. Buku ini saya beli sehari setelah menonton langsung pertandingan pertama Tur Nusantara U-19 di MIS (Maguwo Internation Stadium). Melihat dari dekat timnas masa depan Indonesia sungguh menggetarkan jiwa, inilah harapan besar Indonesia bisa berkompetisi di Piala Dunia. Hal inilah yang membuat saya ingin membaca kisah dibalik gempita Timnas U-19. Buku ini benar-benar sebuah inspirasi bagi insan sepakbola Indonesia.

Buku ini dibagi menjadi dua bagian utama, pertama mengenai kisah para pendukung timnas yang telah berperan nyata bagi kelangsungan tim U-19, bagaimana tim ini menjadi idola dan inspirasi buat masyakat Indonesia. Rudy Gunawan disini mengupas cerita menarik seputar kegiatan timnas di Batu, Malang mulai dari bertemu para fans yang ingin berfoto, yoyo test untuk melihat sejauh mana perkembangan dari sisi fisik pemain, hingga cross country sebagai latihan fisik yang beda. Bagian kedua adalah ulasan membangun tim U-19 dari titik pertama hingga menjadi tim yang disegani dan menjadi pusat perhatian masyarakat Indonesia. Di bagian kedua ini Coach Guntur @GunturCU dengan lugas memberi pandangan mata yang lebih dekat tentang perjalanan keliling Indonesia buat mencari bakat (talent scouting) dan memberi inspirasi kepelatihan bola usia dini yang baik dan benar. Manis dan pahit perjalanan timnas U-19 selalu diterima sebagai pengalaman yang tidak ternilai buat kemajuan sepakbola Indonesia.

Dari awal hingga akhir buku ini, kita disuguhi cerita inspiratif, fakta seputar dunia sepakbola Indonesia yang belum sepenuhnya murni pembinaan olahraga. Tidak sedikit nasihat dan tips buat menjadi pemain bola yang berkualitas. Lewat buku ini saya meyakini virus positif prestasi U-19 dapat menjalar ke pelosok-pelosok nusantara. Saya salut buat para pelatih, official dan pemain yang telah berusaha keras untuk memberikan yang terbaik di lapangan. Semua memiliki andil buat membangun tim masa depan Indonesia, dari supir hingga kitman semuanya punya peran tersendiri. Unity di dalam tim menjadi modal penting kesuksesan tim ini. Dari awal tidak dikenali, diperlakukan sebelah mata oleh masyarakat dan pemerintah hingga saat ini telah mendapat pengakuan dari semua pihak, membuat "Semangat Membatu" layak buat dibaca.

"Cita-cita kami adalah menjadikan Timnas ini sebagai tim yang bisa lolos World Cup."

"Sampaikan ke Korea, siap-siaplah 12 Oktober kita kalahkan!"

"Tiap orang bisa kalah, tetapi saya benci kekalahan. Saya tidak ingin kalah."
Beberapa hal menarik ditulis disini selain cerita lucu salah satu kru pendukung Timnas di Malang bernama "Oweng", cerita salah satu pemain yang bosan dengan menu makanan program pelatnas. Komitmen seseorang untuk menjadi pemain profesional merupakan hal pertama buat menjadi pemain berkualitas, teknik dan hal lainnya bisa dikejar belakangan. 

"Membekali mereka dengan program pendidikan semacam financial management sehingga mereka tahu prinsip mengelola keuangan dari awal."

Buku ini direkomendasikan buat anda yang mengaku gibol dan pendukung Timnas U-19, calon pemain bola masa depan Indonesia, dan para pelatih serta pemerhati pembinaan sepakbola usia dini. Semoga semangat membatu tersampaikan kepada anda.