Showing posts with label Eka Kurniawan. Show all posts
Showing posts with label Eka Kurniawan. Show all posts

Friday, 20 March 2015

Perempuan Patah Hati Yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi



Judul: Perempuan Patah Hati Yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi.
Penulis: Eka Kurniawan.
Penerbit: Bentang Pustaka (2015).



Kabar gembira itu ketika penulis favorit saya mengabarkan akan menerbitkan buku terbaru. Seperti yang saya singgung disini, kumcer merupakan ladang basah yang menyasar kalangan pembaca yang ingin menikmati karya sastra dengan bentuk ringkas namun memiliki kualitas yang tidak kalah dengan membaca sebuah novel. Harus diakui ada sebuah kepuasan tertentu ketika menghabiskan waktu bersama dengan cerita gubahan salah satu penulis terbaik Indonesia.



Di awal kumcer ini pembaca diajak berjumpa dengan dua orang manusia yang seperti sebuah jalan takdir bertemu di Los Angeles, Amerika. Kelebihan cerita ini adalah di samping penulis ingin menyinggung masa lalu kelam yang dialami Mei akibat peristiwa 98 Jakarta. Disini terjadi sebuah drama (boleh dikatakan pergolakan batin) saat Mei harus kembali mengorek luka lama tersebut di kala berkenalan dengan Efendi. Dengan deskripsi yang memukau pembaca serasa diajak jalan-jalan menapak tilas gedung-gedung berarsitektur seni yang memanjakan mata. Hampir semuanya dapat kita rasakan berbau "western" dan dapat kita nikmati dengan baik. Penulis bukan tanpa rencana menempelkan tokoh pengemis yang berhasil menjadi penghubung antara dunia barat dengan negeri kita.

"Ada pengemis di restoran."

"Apa?"

"Ada pengemis di...."

"Ya ampun, Mei. Ini di Amerika. Pengemis di sini enggak sama de..." Suara di sana tak melanjutkan kalimat tersebut, seolah disadarkan pada sesuatu.



Di sinilah terlihat kepiawaian pengarang untuk memasukkan peristiwa tertentu seperti kerusuhan 98 yang kelam ke dalam sebuah cerita dengan anggun. Seakan menginginkan "pelajaran" berharga tersebut hidup abadi dalam sebuah karya sastra. Gerimis Sederhana merupakan pembuka yang baik dengan pelintiran yang menghentak.

Satu hal yang saya sukai adalah Eka Kurniawan selalu pandai memainkan cerita dengan karakter seperti Marni. Lupakan hal tersebut. Hal yang ingin saya ungkapkan dari Gincu Ini Merah Sayang adalah kemampuan bercerita dengan teknik foreshadowing yang memukau. Kita dibuat penasaran mengapa si Marni harus "kembali" ke rumah karaoke (beranda) tempat dirinya sudah menemukan cintanya. 


Seorang petugas, dengan mulut yang sinis, berkata, "Jika benar kamu punya suami, besok pagi ia akan menjemputmu."

"Tapi, suamiku tak tahu aku ada di sini," katanya.

"Jadi, kamu jual dirimu tanpa suamimu tahu, heh?"

Sejujurnya, ia sungguh tersinggung dengan ucapan tersebut. Ia kembali berpikir, barangkali ini memang malam buruknya.



Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi bagi saya adalah buah imajinasi liar Eka yang dituang dalam sebuah cerita pendek. Di halaman terakhir EK mengaku berhutang pada cerita "The Ruined Man Who Became Rich Again Through a Dream." yang tertuang di The Arabian Nights, terjemahan Sir Richard F. Burton. Pengarang mengangkat Pangandaran tempat yang lekat dengan image pantai dan ikannya. Kita diajak berkelana menyelami perjalanan mencari cinta Maya yang ditinggal calon suami saat semuanya sebenarnya sudah "beres". Tak perlu diingkari kemampuan pengarang bercerita dengan baik sehingga mampu memikat pembaca. Kita turut merasakan kegetiran sang gadis patah hati menelusuri pantai Pangandaran. Kita dibuat penasaran akan jatuh vonis apa yang menanti si gadis. Apakah dia akan gila setelah mendapati hilangnya harapan atau terjadi sesuatu yang mengubah kehidupannya. Hingga di akhir cerita penulis seakan memberi tempat kepada pembaca untuk mengambil jalannya masing-masing. Keputusan untuk percaya cerita berakhir manis atau sebuah kado yang pahit.

"Jangan menangis, Nak. Pangandaran tempat orang memberi cinta dan kebahagiaan."

Ketika membaca buku ini kita dapat merasakan pengarang seringkali bereksperimen dalam bercerita. Kita akan dibuat tersenyum melihat aksi Kapten Bebek Hijau. Terhenyak ketika mendapati cerita Penafsir Kebahagiaan dan Le Cage aux Folles. Merasakan guilty pleasure saat membaca Jangan Kencing di Sini. Terharu biru mendapati cerita Setiap Anjing Boleh Berbahagia. Tiga Kematian Marsilam yang merupakan permainan cerita yang epik sehingga harus dibaca lebih pelan. Merasa tercekam mengikuti permainan Teka-Teki Silang. Kembali merasakan menjadi orang Indonesia di Pengantar Tidur Panjang.

Boleh dikatakan kumcer ini bukanlah kumcer terbaik Eka Kurniawan. Di awal bulan Maret sebuah kabar datang dari sang pengarang. Ada rehat sejenak untuk kembali mengisi raga dengan bacaannya. Tentunya kita saat ini boleh berlama-lama menikmati dan melihat kembali karya-karya lamanya. Saya juga akan membaca karya lainnya. Saya ingin membaca karya barunya yang lebih baik dan spektakuler nanti. 





P.S. : Terima kasih sudah mampir dan membaca di h23bc.com. Yuk dukung karyaku dengan bantu share artikel ini di media sosial kamu, tinggalkan komentar, dan follow @h23bc. Dukungan kamu akan sangat berarti.


Monday, 27 October 2014

Corat-Coret di Toilet

Kumcer yang wajib Anda baca



Judul: Corat-Coret di Toilet
Penulis: Eka Kurniawan
Terbit April 2014
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama


Membaca 12 cerita pendek yang ditulis Eka Kurniawan di Corat-Coret di Toilet sungguh memuaskan. Ya ini adalah karya ketiga dari EK yang saya baca dalam selang waktu kurang dari 3 bulan. Setelah perjalanan Ajo Kawir, CIL, dan sekarang CCdT membuktikan bagi saya penulis yang satu ini layak diacungi jempol. 

Saya membaca buku ini di sabak digital ketika PLN kota Ambon melakukan pemadaman bergilir. Di CCdT dengan jelas lewat karya-karyanya EK mampu merekam jamannya dengan baik. Kita mulai dengan cerita "Peter Pan" yang sangat keras menentang pemerintah saat itu. Selain itu ada juga corat-coret di toilet. Tentang toilet yang banyak dibahas di buku ini. Saya menduga banyak draft cerpen ini yang dihasilkan di dalam wese.

Ijinkan saya sedikit berbagi disini, CCdT saya baca berselingan dengan tulisan EK di blog lamanya. Soal penulisan sudah saya babat habis dan telan matang-matang. Yap, saya sudah kepalang tanggung ingin melihat apa isi kepala sang penulis yang katanya bila membaca karyanya kita akan membaca karya-karya penulis dunia. Disini saya jujur mendapat inspirasi buat membuat cerpen dan bla bla. (Hal ini akan ditulis di blog pribadi, demi kenyamanan pembaca). Yang jelas setelah membaca isi blog penulis, saya dapat melihat penulisan cerpen yang dihasilkan telah melalui proses yang tidak bisa dibilang mudah. Sehingga karya yang dipegang pembaca disini adalah milestone pertama penulis yang dilempar ke pasaran, kita dapat melihat proses kreatif menulis cerpen oleh seorang penulis berbakat. 

Poin yang ingin saya sampaikan adalah jika kamu seseorang yang punya passion menulis, entah penulis pemula atau penulis yang masih mencari cara buat melejit di industri perbukuan buku Corat-Coret di Toilet adalah salah satu media kamu dapat belajar soal cerpen. Baik dari pembuatan kalimat pertama, plot, penceritaan, dsb. Ketika membaca pun saya ingin seperti hal yang diatas selain mendapat bahan bacaan yang ok di saat senggang. Kumcer ini menurut saya pas ada seriusnya dan ada ngocolnya. Ada soal pemerintahan, romansa, cukup lengkap pokoknya.

Semua ceritanya bagus dan ada satu cerita yang paling berkesan. Sayangnya itu adalah cerita penghabisan di buku ini. Bagaimana lagi namanya juga sebuah buku yang akan selesai setelah beberapa ratus halaman. Kandang Babi judulnya, selama membaca cerpen ini penulis berhasil membuat saya mesam-mesem sendiri. Geli membayangkan yang dialami Edi Idiot. Itulah keberhasilan penulis dalam memotret pengalaman hidupnya. Saya yakin alumni bulaksumur akan tersenyum simpul membaca cerita ini. Apakah Pak Jokowi juga ya?

Saturday, 11 October 2014

Cantik Itu Luka oleh Eka Kurniawan

Salah satu bacaan wajib di bulan sastra


Judul buku: Cantik Itu Luka
Penulis: Eka Kurniawan
Penerbit: Gramedia
Tahun cetak: 2004. (Cetak Ulang Cover Baru Januari 2015)



Selepas membaca buku ini, dari skala 1-5 bintang saya memberikan 4 bintang. Saya salut dengan alumni Filsafat UGM ini. Mas Eka membuat karya yang begitu hidup, konfliknya begitu "panas", narasi yang ada membangun sebuah teater imajinasi di benak pembaca. Satu pertanyaan yang muncul sejak membaca 2-3 bab awal, "gila, dari mana mas Eka punya ide atau inspirasi menulis kisah ini?"

Kisah ini begitu kelam, gelap dengan bumbu sejarah dan percintaan yang pas. Buku ini termasuk page turner, kita penasaran akan apa yang akan diceritakan di bab selanjutnya. Hal ini membuktikan Eka rapi dalam mendesain setiap bab di buku ini. Tidak ada satupun cerita yang berdiri sendiri dan tidak penting. Drama kehidupan yang tersaji di buku ini membuktikan penulis lokal bisa menghasilkan karya luar biasa. Saingannya dari segi cerita dan penokohan yang begitu abu-abu hanya a Game of Throne (Yang saya beri 5 bintang).

Satu hal yang patut disoroti adalah obsesi penulis untuk adanya Taman Bacaan di masyarakat. Di halaman 386, diceritakan buku-buku yang luput dari penghancuran akhirnya dipakai untuk sebuah taman bacaan. Anak-anak kecil menjadi pendatang tetap di tempat itu. Disini terlihat sangat jelas pendapat penulis tentang pentingnya sebuah taman bacaan masyarakat. Sedikit menyinggung bulan Oktober yang dipilih sebagai bulan sastra. Harian Kompas jumat tanggal 10 Oktober 2014 menurunkan berita tentang urgensi RUU perbukuan. Hal ini didasari belum adanya gambaran jelas kebutuhan pembaca Indonesia. Diharapkan oleh adanya UU ini masyarakat dapat lebih dipuaskan oleh buku-buku yang diterbitkan penerbit buku Indonesia.

Di akhir membaca buku ini, saya mengurangi 1 bintang. Klimaks cerita yang bagi saya kurang memuaskan, dan seakan dipaksakan. Karya besar Eka Kurniawan ini patut diapresiasi dan layak disandingkan dengan karya novelis internasional. Jika ditanyakan apakah akan membaca buku mas Eka yang lain? jawaban saya adalah wajib. Ada 2 judul yang sudah diterbitkan ulang yaitu Corat-coret di Toilet dan Lelaki Harimau. Untuk Lelaki Harimau tahun depan akan dirilis dalam bahasa Inggris. Jangan sampai kita sendiri di tanah air terlambat dengan pembaca luar nanti.

Update 1 November 2015. Publisher Weekly, salah satu situs penerbitan terkemuka dunia menunjuk Beauty is a Wound sebagai 10 karya terbaik 2015. 

NB: Buku ini akhirnya dapat dibaca setelah meminjam dari Perpustakaan Nasional Maluku.

Saturday, 2 August 2014

Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas

 Cerita bertema dewasa yang berkelas




Judul: Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas
Penulis: Eka Kurniawan
Tahun terbit: 2014
Penerbit: GPU.


Buku ini sejatinya sudah terbit sejak April silam, namun saya baru menemukan buku ini di review teman-teman BBI. Cukup wah isi review dari postingan tersebut dan worth it untuk mencoba pertama kali membeli ebook di Scoop.com. Ini juga adalah buku pertama Eka Kurniawan yang saya baca. Well berikut ini adalah ringkasan review buku bersampul seekor burung lucu yang tertidur dengan lelap.

(+)
- Narasi yang mengalir membuat pembaca terhanyut dalam cerita tersebut.
- Berbagai scene yang diceritakan sanggup membuat pembaca menahan nafas.
- Alur cerita yang tidak monoton, membawa pembaca ke dalam cerita dengan baik.
- Bertemakan dewasa namun ditulis dengan diksi yang menarik, tidak terkesan murahan. Disinilah penulis membuktikan kepiawaiannya dalam mengukir kata.
- Menceritakan realita yang terjadi di kehidupan masyarakat sehari-hari, tentang kehidupan yang keras di masyarakat kelas bawah.
- Salah satu yang menarik adalah pengalaman Ajo Kawir menjadi supir truk. Kehidupan di jalanan memang keras, bung!


(-)

- Para tokoh dan cerita yang disajikan belum mampu meninggalkan kesan mendalam bagi pembaca.

Kesimpulannya novel ini direkomendasikan bagi Anda yang ingin terhibur dengan novel yang unik, beda dari biasanya, dengan bumbu seks di dalamnya dan pastikan Anda sudah cukup umur buat menikmatinya.