Showing posts with label Rekomendasi Buku. Show all posts
Showing posts with label Rekomendasi Buku. Show all posts

Saturday, 2 December 2017

Review: Talking to My Daughter About the Economy: A Brief History of Capitalism



"Ekonomi tak pernah semenarik dan sepenting itu sampai membaca Yanis Varoufakis."


Buku bersampul merah oranye ini tidak butuh dua kali pikir untuk masuk dalam daftar belanjaan saat mengunjungi Kino kemarin. Sebenarnya saya juga nggak tahu judul ini kalau nggak ngintip stories mas Wisnu di Inggris sono. Judulnya nggak menggugah amat. Talking to My Daughter About the Economy: A Brief History of Capitalism. Cuman nggak ada ekspektasi apa-apa saat itu. Satu hal yang saya yakini, buku ini lumayan bagus-pasti-isinya.

... Dan benar saja, sejak membaca babak pembuka, tidak butuh waktu lama untuk saya segera menamatkan buku ini. Karena storytelling yang memukau dan Yanis mampu memberikan informasi bermutu di saat yang sama. Benar-benar asyik. Serasa dapat kuliah 1 sks soal ekonomi gitu. Hahaha.

Buku ini cocok nih, kalau kamu pengen baca buku yang "ringan" tapi bahasannya menantang & mencerahkan seperti ekonomi (dalam buku ini). A-Z kapitalisme diceritakan dengan tuturan cerita yang asyik dan menggelitik.



Seseorang belum menguasai sepenuhnya bidang yang ia geluti (andai dia seorang profesor, atau akademisi, atau apa lah, seorang aktor film mungkin), jika ia belum dapat menjelaskan pemahamannya sesimpel mungkin kepada orang lain. Lalu orang lain pun bisa ngikutin.

Lewat buku ini kita akan sama-sama mengikuti perjalanan sang ayah yang sedang bercerita kepada anaknya tentang asal muasal kapitalisme. Iya betul, semacam Sejarah Dunia untuk Pembaca Muda karya Gombrich. Just sit and chill out.***


Apple, Amazon, Facebook, dan Google, belum lagi yang lain. Kita mengenal dunia kapitalis yang berpusat pada seberapa banyak keuntungan yang dihasilkan untuk korporasi. Tapi bagaimana kita sampai menuju ke arah tersebut? Yanis-yang juga menteri Yunani, iya Yunani yang terpaksa harus menerima bail out, karena bangkrut beberapa tahun silam-menjabarkan soal mengapa ketidakadilan bisa lahir, dua macam nilai yang dikenal manusia, lahirnya market societies hingga usaha "menjinakkan" raungan kapitalisme.

Pertama-tama ada experiential value dan exchange value.

Di awal-awal sebelum era kapitalis tiba. Experiential value dirasa dimaknai kebanyakan orang dibanding exchange value. Ditolong orang saat tanganmu kejepit roda sepeda misalnya. Tanpa pamrih mendonorkan darah di PMI.

Keadaan sedikit demi sedikit berubah ketika segala sesuatu dijadikan komoditas, semua (barang, jasa) diberi label harga pasar, yang merefleksikan seberapa besar exchange value yang bisa diberikan.

Tapii, please, jangan minta gratis apalagi harga temen yang "bikin miris" juga pas make jasa teman atau kenalan. Ok, saya nggak mau terkesan menggurui.







Significant moment in the book:

"Oscar Wilde wrote that a cynical person is someone who knows the price of everything but the value of nothing. Our socities tend to make us all cynics. And no one is more cynical than the economist who sees exchange value as the only one value, trivializing experiential value as unnecessary in a society where everything is judged according to the criteria of the market."


Lewat cerita dan lebih banyak penjelasan yang seru, contohnya di "Haunted Machines" sang penulis mengajak pembaca (termasuk si Xenia, anaknya) melihat efek dari penggunaan teknologi di market societies bertendensi memperbudak orang-orang di dalamnya ketimbang membebaskan. Saat ini kita sudah nggak asing lagi. Denger dan lihat di sosmed. Tentang kemampuan robotik yang semakin hari semakin mirip manusia. Jangan-jangan kelak pekerjaan manusia akan dihapuskan, karena lebih mudah dikerjakan oleh robot. Nggak butuh istirahat dan nggak bakalan capek kerja. Minim tuntutan. Bisa kebayang kan: Industri masa depan yang gemilang.

Tapi di saat yang sama jangan lupa kisah Frankenstein, Blade Runner, yang juga baru saja rilis sekuelnya, jangan sampai teknologi ciptaan manusia jadi bumerang (istilahnya). Nah si penulis mengupas film The Matrix.

(Sesaat setelah menamatkan buku ini, saya kemudian menonton The Matrix (1999), dan luar biasa, film ini bagus banget, iya betul, itu film udah lama bangeet, tapi nggak apalah, lebih baik telat, daripada nggak, ya.)

Situasi dimana AI (komputer) yang menjadikan manusia sebagai budak. Untuk diambil energi hasil metabolismenya. Karena bila tidak diberikan ruang untuk hidup, berekspresi, manusia bakalan stres dan terlebih itu, pasti nggak mau kan dikerumuni kabel-kabel, hanya untuk diambil panas tubuhnya. Makanya si AI merancang sebuah sistem, dimana manusia tetap nyambi ngapain, kerja, dll, tapi realita tersebut hanya dimainkan di pikiran. Aslinya mereka ada di dalam semacam peti berisikan cairan yang menyuplai nutrisi, tanpa pernah tahu keadaan sebenarnya seperti apa.

Tapi tentu saja, sebagai seorang ahli ekonomi, penulis punya pendapat tentang situasi tersebut. Andai kata. Mesin dan lebih banyak mesin yang terpasang. Lalu nggak ada pekerjaan lagi buat masyarakat kebanyakan. Lalu produk tersebut akan dibeli siapa? Kan udah nggak ada income tuh ceritanya. Jadi penggunaan 100% mesin juga nggak ngaruh akan meningkatkan jumlah profit yang didapat kan.

Kira-kira itu situasi rumit yang mungkin jadi skenario, kalau human labour disingkirkan. Jawaban dan lebih banyak lagi hal-hal yang dielaborasi penulis bisa Anda temukan di dua bab terakhir. The Dangerous Fantasy of Apolitical Money dan Stupid Viruses?

Buku ini saya rekomendasikan untuk dibaca. Bagi Anda yang gemar membaca buku nonfiksi yang bagus, penikmat ekonomi, atau seseorang yang penasaran bagaimana kapitalisme bekerja, dan ingin tahu cara bertahan-bahkan-menjadikannya lebih manusiawi, ini buku yang wajib Anda baca.



Saturday, 30 September 2017

Review Buku Ratu Sekop karya Iksaka Banu (2017)

storytelling yang memikat.


Setelah beberapa tahun memenangkan penghargaan Kusala Sastra 2014, Iksaka Banu kembali hadir menyapa pembaca lewat karya terbarunya di Marjin Kiri. Berbentuk kumpulan cerita pendek. Semua cerpen yang ada memiliki benang merah yaitu kisah yang kelam. Noir. Tidak butuh lama, saya menandaskan "Ratu Sekop". Iksaka Banu at his best. Buku ini menjadi pamungkas dan favorit saya di bulan September. Bila saja Ratu Sekop masuk dalam penjurian Tokoh Sastra Tempo tahun 2018. Saya kira tak berlebihan karya ini adalah salah satu yang patut diperhatikan.



Jumat kemarin. Tanggal 29 September 2017. Saya mendapat buku ini dari salah satu penjual buku daring paling keren sejagad instagram. Terima kasih mas Jamal. Di tulisan ini saya akan membagi sedikit pembacaan Ratu Sekop. Semoga suka.



Pertama-tama. Obviously. Karya Marjin Kiri bagi saya selalu masuk kategori: wajib beli. Hitungannya apa yang diterbitkan oleh mas Ronny selalu berkelas. Salah satunya buku ini.

(c) instagram Marjin Kiri.


Mari kita membahas dahulu mulai dari yang paling luar. Judulnya terbaca: Ratu Sekop dan cerita-cerita lainnya, dengan cetak tebal di kalimat pertama. Kemudian di depan latar warna krem, sesosok ratu sekop seperti yang ada di kartu remi nampak memegang dua benda di tangannya. Look at this cover. Pasti ini cerita yang nggak-nggak. In a good way. He-he-he. Pistol ala film sains fiksi di tangan sebelah atas. Kabel colokan pemanas nasi di tangan bawah. Dari pemandangan sampulnya saja, imajinasi kita seakan dipicu, sebelum sajian utama dihadirkan. Di bagian sampul belakang, tangan si ratu dengan anggun memegang belati dan clapper board. Hmm.



Ikasaka Banu membuka perhatian kita dengan dua cerita, "Film Noir" yang menghentak dan "Cermin". Setelah menghabiskan "Film Noir," saya kira cerita ini adalah salah satu master piece dari karya beliau. Begitu pula setamat Cermin. EPIK. Itu yang secepat kilat keluar dari benak saya. Duo cerita ini langsung membuat saya tidak butuh lama untuk segera menuntaskan isi Ratu Sekop dalam waktu singkat.



Kedua cerita ini saja sudah berhasil membuat saya semriwing.



Dilanjutkan dengan cerita "Superstar". Di sini, saya lantas menemukan mood cerita mas Banu. Oh, kesan noir itu yang seperti begini. Apa yang hendak ditampilkan dalam keseluruhan cerpen di buku ini.



Kemudian ada "Listrik". Twist yang bikin saya berpikir, "Ok.. Something just like this.. Keren endingnya.."



Lalu ada cerita "Belati", yang membuat saya beberapa kali harus membaca lagi bagian-bagian tertentu. Serasa membaca cerita detektif.



Hal lain yang ingin saya sampaikan di tulisan ini adalah membaca cerita pendek Iksaka Banu yang terkumpul dalam buku ini benar-benar greget. Ibaratnya kita sedang menonton sebuah film dalam imajinasi kita. Sangat puas dengan penggambaran dan detail-detail cerita yang disampaikan lewat sudut pandang orang ketiga. Serba tahu.



"Jubah" pun membacanya memberikan kesan yang cukup dalam. Sempat hening beberapa saat sebelum saya lanjut.



Kembali dengan "Ratu Sekop" yang memberikan twist yang juga menarik.



Hal yang sama juga dengan "Lelaki dari Negeri Halilintar".



Pembacaan saya yang pertama berhenti di cerita "Undangan Seratus Tahun". Endingnya juga nggak kalah menyayat hati. S e d i h.



Malamnya. Saya menonton bincang buku Iksaka Banu di Cak Tarno Institute. Sila cari di facebook beliau. Mas Banu bercerita soal mengapa ia kemudian harus menerbitkan buku ini. Kapan beliau menulis cerita-cerita yang "berbahaya" ini yang kemudian dimuat di Matra. Kehidupan beliau yang turut menyumbang sebagian besar daya kreatif miliknya.



Harfiyah Widiawati, Sang pembedah buku menuturkan apa saja yang tersirat di Ratu sekop dengan gamblang. Rasa-rasanya masih aman. Pikir saya waktu mendengarkan bincang buku tersebut. Sebelumnya saya melihat sedikit film-yang lagi ramai akhir-akhir ini-sebentar karena kepo. Lengkingan musik latar yang menyayat. Keesokan harinya, memang betul, dari musiknya saja sudah begitu meneror yang nonton. Benar saja. Penata musik diminta sutradara memasukkan unsur musik horor di film tersebut. Lengkapnya. Sila. Baca Jawa Pos Sabtu 30 September 2017.



Hari ini, Sabtu 30 September 2017, melanjutkan pembacaan kedua, "Vertigo" dan "Sniper", sudah agak terbaca pola ceritanya. Meski harus diakui "Sniper" tersebut saya kira termasuk dalam cerita yang paling saya sukai. Begitu intens. Begitu padat cerita yang dihadirkan.



Dari cerita-ceritanya, Iksaka Banu, bisa kita akui sebagai pencerita yang ulung. Dengan keterbatasan tempat, karena umumnya dimuat di majalah dan koran, sosok lulusan desain ITB ini mampu meletakkan bangunan cerita lewat detail mengagumkan dan lukisan cerita yang sarat simbol dalam setiap kisahnya. Membuat kita sebagai pembaca begitu disenangkan dan kenyang dengan apa yang disajikan.



Istana gotik. Sekali lagi hati ini seperti terparut karena cerita yang mengundang rasa haru itu.



Terakhir, "VIP", cerita berbalut sains fiksi ini memberikan nuansa tersendiri, dibanding yang lain. Mungkin karena cerita terakhir di buku setebal 189 halaman tersebut. Perjalanan si "aku" sudah tidak begitu mengejutkan karena sudah kudengar pembahasan ceritanya di acara Cak Tarno itu.



Lesson learned: sebaiknya membaca tuntas sebuah buku sebelum ikut dengar bincang buku. Apalagi kalau yang dibicarakan buku fiksi. Kilasan cerita yang dibeberkan bisa saja sudah mengandung unsur-unsur kejutan dari cerita itu. Tapi bila tidak memungkinkan untuk membaca buku tersebut. Mau bagaimana lagi. He-he-he.



Ratu sekop saya rekomendasikan kepada penggemar sastra Indonesia. Khususnya penikmat karya mas Iksaka Banu. Terlebih itu ini seperti hadiah buat semua pembaca di Indonesia. Salam buku itu seru.

Wednesday, 30 August 2017

(Review Buku) Jangan Salah Pilih Pasangan. Ayah Edi (2017)


Ketika Mencari Soulmate Ada Panduannya.



Buku baru Ayah Edi. Terbitan Noura Publishing

Kalau teman-teman banyak yang terbantu dengan kehidupan parenting lewat sharing beliau di media sosial. Ceilah ((terbantu)). Ternyata Ayah Edi juga menulis buku buat para pembaca yang masih jomblo loh. Tenang nggak terbatas buat yang masih single. Semua bisa baca kok. Dari orang tua sampai guru BK. Mulai dari kamu, iya kamuu, yang lagi duduk di smp, kuliahan, atau kerja. Kamu yang lagi membangun karir dan sibuk memperluas "jodoh funnel" kayak yang dibilang Om Piring kemarin :). Buku yang satu ini bisa jadi perlu kamu beli dan baca.



Buku terbaru Ayah Edi, saya habiskan di kesempatan kedua. Pas pertama buku ini dilepas segelnya, kok bahasannya kurang nendang ya. FYI, ini buku Ayah Edi yang pertama saya baca. Saya belum banyak baca buku parenting. Trust me. Tapi setelah kamu baca "Jangan Salah Pilih Pasangan". Mungkin rak "parenting", "psikologi" bakal jadi rak pertama yang kamu tuju di tokobuku.

Isi bukunya

Long story short. Selesai juga bacanya. Bacanya cepat aja. Ngalir aja gitu. (Niaat sih). Terbitan Noura ini tidak terkesan menggurui, bahkan semua pembahasan, cerita, begitu relevan dengan kehidupan generasi milenal. Ayah Edi memang menulis khusus buat mereka yang saat ini sedang mencari pacar, bahkan pasangan hidup. Temukan soulmate sejatimu ditulis dengan cair, tertata dengan apik, dan informatif.


Benang merah yang terjalin di buku ini adalah how to prepare your marriage. Caranya adalah dengan PDKT yang benar. Susah? Jangan nyerah dulu. Ayah Edi dengan baik hati menuliskan panduannya dari step paling awal hingga gimana mencari restu orang tua. Materinya kalau boleh dibilang bagus banget. Mencerahkan lah pokoknya. Asli.


Dari bahasan yang disampaikan Ayah Edi, saya paling terkesan dengan bab 6. Bab belajar hadapi masalah dan konflik. At the end Ayah Edi ngasih tahu, pas masa pendekatan lebih baek coba kamu "korek" kebiasaan sehari-hari pasanganmu. Mungkin kesannya sepele. Tapi trust me. (Ayah Edi, maksudnya, dia yang bilang, gitu) hal-hal yang dianggap remeh bisa berkembang jadi masalah besar setelah menikah.

10 pertanyaan penting

Ada 10 pertanyaan penting sebelum melangkah ke next level nih. Mulai dari apa dia ngorok saat tidur?, apa dia punya aturan dalam memencet pasta gigi?. Apalagi? Apa dia punya aturan soal penggunaan kloset dan kamar mandi? terus perhatikan bagaimana gaya marah si doi? diam, ngambek, nyinyir, nyindir, ngomel panjang lebar, atau meledak-ledak? sampai dia lebih suka santai di rumah ato jalan-jalan? Apakah dia tim makan bubur ayam diaduk atau sebaliknya? Apakah dia makan soto ayam dicampur nasi atau nggak? (dua ini nggak masuk di buku kok gaes)


Intinya Ayah Edi mau ngasih tahu, baeknya pas masa pendekatan dipakai buat "Questioning Everything", kayak judul buku Tomi Wibisono, Warning Magz. Ada 1 kopi di tempat saya. Cek instagram @ksatriabuku. Anyway, baca buku ini kayak nyambungin puzzle yang sebelumnya saya punya. Beberapa waktu lalu. Saya pernah dengar Jeffrey Rachmat bicara sepintas. Nyinggung tentang hidup gitu. Dia bilang kunci berhasilnya seseorang dalam hal ini bagaimana seseorang membina keluarga, "Waktu dating itu pakailah sebanyak mungkin buat Ask Question". Nanya apaan? Contohnya itu tadi. Pertanyaan yang Ayah Edi beritahukan di atas.


Yang pasti semua materinya berkesan. Ayah Edi baek banget ngasih bimbingan dan share pengalamannya lewat buku ini. Bapaknya konsultan parenting dan penggagas gerakan "Indonesia Strong from Home".

Keluarga berencana. Apa dua cukup. Heiyya.

Oya, yang lebih makjleb lagi itu di Bab 8, "Menjadi orangtua harus direncanakan". It make me really think. Jadi orangtua itu butuh belajar. Butuh yang namanya perencanaan. Termasuk mau punya anak berapa. Jarak anak pertama sama kedua. Ayah Edi bilang gini,"Anak bukan efek samping perkawinan. Anak adalah titipan Tuhan serta buah cinta pasangan yang menikah atas nama Tuhan. Sungguh menyedikan bila ada orang yang menganggap anak hanya efek samping atau "risiko" perkawinan."


Buku ini saya rekomendasikan untuk semua orang yang peduli dengan pendidikan anak, orangtua, guru, siapapun yang tertarik membaca buku soal "relationship". Salam buku itu seru.


Nb: "baek" yang ditulis di atas maksudnya "baik". Tapi dengan pengucapan khas Makassar~. Coba lagi, kamu baca dari awal.

Jika kamu punya rekomendasi buku soal relationship yang menarik, please bisa berbagi di kolom komentar di bawah ini.

Friday, 14 April 2017

4 Buku Startup yang Direkomendasikan Steve Wirawan, CEO Storial.

(c) Pixabay.

Dari buku-buku dan perjalanan para tokoh bisnis saya mendapati sebuah hal penting. Memahami sebuah kesuksesan bukanlah sekadar sebuah lari jarak pendek. Kita butuh nafas yang panjang dan mindset kalau yang namanya sukses itu butuh proses dan perjuangan.

Sembari mengisi waktumu dengan pengalaman baru. Belajar beragam skill dari dunia pendidikan, lingkungan kerja, dan pertemanan. Ada kebiasaan positif yang sebaiknya kamu mulai dari sekarang. 

Membaca adalah salah satu proses mendapat informasi dan wisdom yang boleh jadi, jarang didapatkan dari lingkungan kita. Satu tips praktis. Mulailah membaca beberapa halaman sebelum tidur, voila kamu bakal terheran dapat menyelesaikan buku lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya :)

Bacaan tentang dunia startup
Memulai usaha rintisan, saat ini sangat menarik perhatian generasi langgas. Semua ingin mencoba terjun langsung atau sekadar memiliki referensi tentang kehebatan era "ekonomi digital" saat ini.

Dalam buku "100 Golden Tips for Creativepreneur" (Metagraf, 2016), Steve Wirawan berbagi daftar bacaan miliknya. Ada beragam judul menarik yang terbagi dalam empat bidang: dunia startup, industri konten & marketing, keuangan & investasi, dan pengembangan diri.
(c) Steve Wirawan.


Kali ini yuk, kita simak bersama rekomendasi buku berkualitas dari Steve Wirawan, CEO Storial.co, semoga kamu bisa lebih memahami dunia startup.






#1 "The Lean Startup" oleh Eric Ries.

Eric Ries mengenalkan metodologi Lean Startup kepada dunia. Sampai saat ini tidak terkira banyaknya pengusaha dan pendiri startup yang menjadikan buku ini sebagai guide book mereka.

Pahami dulu kemudian coba apa yang disajikan dalam buku ini. In the end semoga pelajran tersebut akan mengakselerasi skala bisnis rintisan milikmu.

"Buku ini memungkinkan Eric Ries membantu banyak entrepreneur menjawab pertanyaan-pertanyaan sulit tentang bisnis mereka." kata Dustin Moskovitz, co-founder of Facebook & Asana.

"The Lean Startup" edisi terjemahan telah diterbitkan oleh Bentang Pustaka.



#2 "Business Model Generation" oleh Alexander Osterwalder.



Model bisnis adalah menciptakan nilai plus menghasilkan uang. Demikian kredo yang disajikan dalam buku ini.

Business Model Generation telah menjadi buku pilihan bagi kamu yang ingin memahami rencana bisnis dan strategi. Buku milik Alexander Osterwalder ini adalah buku panduan bagi para visioner, game changers, dan penantang di era disruptif.

Dikemas secara menarik dan casual, jauh dari kesan buku berat yang bikin kita malas untuk membaca.

#3 "Platform Revolution" oleh Geoffrey G. Parker, Marshall W. Van Alstyne, Sangeet Paul Choudary.



"Platfrom Revolution" mengajar pendatang baru bagaimana memulai dan menjalankan platform bisnis yang berhasil, menjelaskan cara mengidentifikasi pasar dan memonetisasi jaringan.

Tim penulis menyajikan sejumlah strategi dibalik platform terkenal seperti Tinder dan SkillShare. Selain itu buku ini menjabarkan bagaimana perusahaan tradisional mampu beradaptasi dalam pasar yang berubah.

Sejumlah bahasan penting lainnya seperti keamanan, regulasi, dan kepercayaan pelanggan, di samping menganalisa pasar yang akan matang dalam revolusi platform, diantaranya bidang kesehatan, edukasi, dan energi.

#4 "How to Build a Billion Dollar App" oleh George Berkowski.



"How to Build a Billion Dollar App" menyediakan anjuran praktis soal seluk beluk membangun bisnis berbasis aplikasi: mulai dari mekanika akuisisi pengguna hingga mengamankan kebutuhan dana untuk bisnis dapat bertumbuh.

Dirajut dari cerita di balik layar "Hailo" dan aplikasi bernilai miliaran dolar seperti Angry Birds, Whatsapp, Snapchat dan Square. Buku ini adalah bacaan penting bagi siapapun dengan ide besar membangun bisnis berbasis aplikasi.

Kamu bisa mendapatkan How to Build a Billion Dollar App edisi terjemahan dari penerbit Alvabet.


Dari rekomendasi buku di atas, apakah ada yang sudah pernah kamu baca? Atau kamu memiliki rekomendasi buku lainnya? Tinggalkan di kolom komentar. Atau mention @h23bc

Post ini turut meramaikan maraton blog di ulang tahun BBI keenam. #BBIHUT6 :)
 

Tuesday, 10 May 2016

Book Review Narconomics: How to Run a Drug Cartel by Tom Wainwright




Langit berawan tebal memenuhi langit La Paz, Bolivia saat Tom Wainwright, 34 tahun bersiap menjelajahi pusat perdagangan kokain dunia. Bersama sang supir yang dipanggil bin Laden-karena jenggot hitamnya yang menjuntai sepanjang enam inci melewati dagunya-menaiki Toyota Land Cruiser bercorak abu gelap, keduanya mulai mendaki dari ketinggian 10.000 hingga 13.000 kaki menuju pegunungan Andes, tiga kali lebih tinggi dari Kathmandu di Himalaya. Mobil mereka melaju membela awan-awan, hingga terkadang sekilas terlihat hamparan salju di sisi lain lembah.

I am. Here in the Andes is where the cocaine trade, a global business worth something like $90 billion a year, has its roots. Cocaine is consumed in every country on earth, but virtually every speck of it starts its life in one of three countries in South America: Bolivia, Colombia, and Peru. The drug, which can be snorted as powder or smoked in the form of crystals of “crack” cocaine, is made from coca plant, a hardy bush that is most at home in the foothills of the Andes. I have come to Bolivia to see for myself how coca is grown, and to find out more about the economics at the very start of the cocaine business’s long, violent, and fabulously profitable supply chain.” p.10.



Tom Wainwright

Narconomics sejak awal memberikan “petualangan” seru dan begitu banyak insight perihal dunia narkotika. Premis buku ini menarik. Inilah buku manual bagi para gembong narkoba. Tapi juga sebuah blueprint untuk bagaimana mengalahkan mereka.

Meski ditulis berdasarkan riset yang beroperasi di wilayah Amerika dan sekitarnya. Beberapa informasi dan temuan-temuan di dalamnya dapat diadaptasi di Indonesia.

Sunday, 23 August 2015

Review Buku Mata Najwa: Mantra Laya Kaca



Mata Najwa: Mantra Layar Kaca
Fenty Effendy
Mei 2015
Penerbit Media Indonesia


Talkshow politik yang dianggap serius-berat-menjemukan, kenyataannya begitu ditunggu-tunggu. Memperbincangkan politik juga bisa asyik seperti menonton pertunjukan musik, asalkan dikemas secara apik.

Bagi politisi, politik itu sekedar logika, tapi di mata publik, politik adalah soal perasaan.
Ramuan itulah yang diaduk-aduk untuk menyihir pemirsa, sehingga Mata Najwa menjadi mantra di layar kaca.

Thursday, 12 June 2014

Review Buku Creative Writing

Buku wajib penulis kreatif


Di Creative Writing AS Laksana berbagi ilmu seputar penulisan kreatif. Hal pertama yang selalu disarankan olehnya adalah menulis buruk. Kemudian ada pula anjuran untuk menulis cepat, jangan menulis sekaligus mengedit (hal ini seringkali dilakukan oleh penulis sehingga memakan waktu sangat banyak, alhasil tulisan belum jalan kemana-mana).

Salah satu yang membuat orang-orang dewasa tampak buruk, di mata kanak-kanak, adalah karena seorang anak harus mendongak di depan mereka, dan jarang ada wajah yang kelihatan bagus dilihat dari bawah. - George Orwell.

Ada banyak alasan kenapa orang menulis novel, namun ada satu kesamaan pada mereka-kebutuhan untuk menciptakan dunia alternatif. - John Fowles, novelis Inggris.

AS Laksana sebagai penulis senior menerangkan hal-hal teknis dalam dunia penulisan cerita untuk yang menulis novel ataupun cerita pendek. Semua bagian dijelaskan dengan baik dan mudah dimengerti. Di tiap awal bab terdapat selipan quote menarik dari tokoh-tokoh terkenal di dunia penulisan. Pengalamannya sebagai pengajar pun diterapkan disini dengan menyarankan pembaca untuk melakukan latihan-latihan di setiap bab yang ada. Salah satunya adalah meminjam kalimat pertama milik penulis lain. (Ini sudah menjadi resep latihan para penulis, Eka Kurniawan sampai menjejalkan 20 buku hanya untuk mencari bab pertama yang ok). Di sini penulis mengajak pembaca

  • mengambil sejumlah novel maupun cerpren dari penulis yang baik. Tulis ulang dan buat daftar kalimat pertama dari novel/cerpen tersebut. Setelah selesai, novel ditutup dan bacalah daftar kalimat pertama Anda sekali lagi dan pilihlah kalimat pertama yang paling baik menurut Anda. Lanjutkan kalimat yang sudah Anda pilih dengan kalimat-kalimat Anda sendiri. Tulis sepanjang yang Anda bisa.
  • Anda sudah mengembangkan cerita Anda sendiri dengan kalimat pertama milik penulis lain.
  • Hapus kalimat pertama yang Anda pinjam; ganti dengan kalimat Anda sendiri.
  • Simpanlah daftar kalimat pertama Anda. Lihatlah lagi sewaktu-waktu; dan mulailah lagi latihan serupa dengan kalimat lainnya.

Saya tidak bisa menulis sebagus beberapa penulis lain; bakat saya adalah menghadirkan cerita yang baik tentang ahli hukum. Di situlah saya betul-betul menguasai. - John Grisham. (Bab Mengakrabi Karakter)

Penulis yang baik menciptakan dunia rekaannya dan para pembaca dengan senang hati menghanyutkan diri ke dalamnya. - Cyro; Connolly (1930-1874)


Selain hal-hal teknis yang dibagikan dengan baik, penulis juga menekankan disiplin dan kemauan untuk penulis membaca karya milik orang lain. Banyak penulis yang menolak membaca cerita orang lain dengan dalih tidak ingin hasil pemikirannya menjadi tidak orisinil. Lewat buku ini juga penulis menyinggung kebiasaan penulis Indonesia memakai hal-hal yang berhubungan dengan matahari sebagai kalimat pembuka. Di bagian akhir, AS Laksana meneropong keadaan Indonesia yang menurun kebiasaan membacanya. Padahal sebuah bangsa bisa dapat tumbuh besar karena masyarakatnya gembar membaca. Saya dapat melihat niat mulia sang penulis untuk kemajuan dunia penulisa Indonesia lewat berbagi pengetahuan menulis, menyajikan sebuah panduan bagaimana menulis kreatif dengan bahasa yang mudah dipahami semua kalangan. 

Buku ini wajib dibaca bagi Anda yang memiliki passion menulis, niscaya buku ini dapat memperlengkapi anda. Good luck.

Wednesday, 12 March 2014

Wonderstruck oleh Brian Selznick

Kisah yang sungguh menggugah dan penuh makna


Wonderstruck ini merupakan salah satu wishlist sejak tahun 2013. Pada saat event diskon 30% TB.Togamas barulah buku dengan cover petir yang didominasi warna biru terbeli. Salah satu alasan membeli buku ini adalah ditulis oleh illustrator cerita Hugo Cabret, merupakan jaminan novel ini bakal beda dengan novel pada umumnya. Setiap ilustrasi melengkapi sajian cerita dengan pas. Wonderstruck meraih begitu banyak review positif dari media mainstream internasional karena konten yang mengangkat dunia anak disabilitas. Sebuah kisah yang sanggup menggugah perasaan dan sarat makna buat menjalani kehidupan.

Disini diceritakan perjalanan hidup seorang bocah bernama Ben yang secara tidak sengaja tersambar petir dan mengalami kehilangan fungsi pendengaran. Sebelumnya Ben sudah tuli sebelah, sehingga dirinya tidak sempat belajar bahasa isyarat. Ben kecil dengan perasaan kehilangan yang besar, akibat kehilangan sang ibu berhasrat menemukan kepingan kehidupannya. Bukan sebuah kebetulan sebuah buku, secarik pesan membawa Ben kepada sebuah perjalanan memperoleh kebenaran yang selama ini dicarinya. Tidak hanya Ben, namun ada cerita seseorang yang diselipkan diantara kisah Ben. Sungguh sebuah suratan takdir, ketika ada benang merah antara kedua pribadi yang menjadi sosok utama dalam cerita Wonderstruck.

Membaca Wonderstruck hingga selesai, mengajarkan kita bahwa jika kita dilahirkan dan hidup dalam keadaan fisik normal, itulah sebuah hal yang patut disyukuri. Selain itu kita diajak untuk melihat kehidupan dari sisi orang tunarungu. Dari buku ini, kita diberi pelajaran bahwa kebahagiaan itu dapat dinikmati oleh semua orang. Menarik bahwa buku ini membuat kita ingin belajar bahasa isyarat, lewat bahasa universal ini kita seakan tidak dibatasi oleh pembatas bahasa yang beragam. 

Berkat kekuatan riset dan ilustrasi yang menawan membuat buku ini layak dibaca buat semua kalangan, baik dari anak-anak berumur 8-12 tahun hingga orang dewasa. Sungguh terima kasih buat penulis yang luar biasa berkatnya kita bisa melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda.