Showing posts with label Anthology/Short Stories. Show all posts
Showing posts with label Anthology/Short Stories. Show all posts

Tuesday, 3 November 2015

Sundari Keranjingan Puisi dan Cerita-cerita Lainnya by Gunawan Tri Atmodjo

Meneropong Dunia dari Puisi, Menelisik Puisi dari Dunia.




Kumpulan cerita yang dibuat penyair asal Solo Gunawan Tri Atmodjo begitu bersahaja. Tidak lama setelah "Sundari Keranjingan Puisi" (SKP) diterbitkan dan dipromosikan oleh penerbitnya Marjin Kiri saya membelinya sepaket dengan buku bagus lainnya "Di Bawah Tiga Bendera". Dalam sekali duduk saya merasa tidak dapat berhenti melahap cerita-cerita lucu yang disajikan penulis. Saya bertanya-tanya dalam hati kenapa mbak Sundari bisa keranjingan puisi?

Sunday, 6 September 2015

Review Buku Anak-anak Masa Lalu oleh Damhuri Muhammad.


"Begitu menyentak dan membuat pembaca makin terangsang untuk membaca keseluruhan cerita."

Anak-anak Masa Lalu (AAML) merupakan kumcer keempat Damhuri Muhammad. Buku fiksi ini sudah pernah saya lihat sebelumnya di facebook Marjin Kiri. Beberapa saat kemarin niat membaca AAML muncul setelah mendengar seru dan ajeknya perbincangan kumcer ini di Solo. Keinginan memiliki dan membaca kumcer ini makin membuncah kala ditetapkan masuk 10 besar Kusala Sastra Khatulistiwa 15. Segera saya mengambil ponsel dan mengirim pesan kepada penerbit. Perjalanan buku ini pun tidak mulus seperti dugaan. Paket ekonomi yang disematkan membuat ekspedisinya harus (sengaja) menunda pengiriman ke rumah. Alasan klasik karena takut terjebak macet di jalanan kota kami yang kecil. Sabtu kemarin memang ada perhelatan baris indah di kota kami. Singkat cerita paket AAML harus dijemput dan sungguh nikmat dapat melahap buku ini di akhir pekan.


Saturday, 4 April 2015

Semua Orang Pandai Mencuri: Kumpulan Cerpen Esquire Indonesia #1



Judul: Semua Orang Pandai Mencuri: Kumpulan Cerpen Esquire Indonesia #1
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2015)




Kumpulan cerpen Esquire #1 dengan tajuk Semua Orang Pandai Mencuri adalah sebuah karya yang mampu membuat kita ketagihan. Esuqire Indonesia adalah majalah pria yang mengikuti patron asalnya untuk lekat dengan kesusastraan. Para cerpenis handal Indonesia turut menyumbangkan karyanya disini. Tidak ayal Esquire ikut turut ambil bagian mewarnai dunia cerpen kita. Tidak banyak memang yang disajikan di kumcer SOPM. Tapi 12 cerpen di dalamnya memiliki sebuah daya gugah yang lain dari yang lain.



Cerita milik Tommy Awuy menjadi pembuka yang gemilang. Dinda & Ben memperkenalkan cita rasa khas cerpen Esquire kepada pembaca awam. Berkisah tentang seorang lelaki dan perempuan yang entah dengan sengaja bertemu di sebuah restoran. Kedua tokoh itu menjadi titik fokus yang berhasil merebut perhatian pembaca. Setting dunia urban dengan kental terasa disini. Di titik akhirnyalah tidak terkira kita akan menemui pelintiran cerita yang apik. Penulis membuat akhiran cerita yang membuat senyum kita tersungging.



Eka Kurniawan dengan cerita yang khas melekat pada dirinya berada di urutan kedua. Lewat Semua Orang Pandai Mencuri pembaca dibuat terkesima dengan alur cerita yang kuat. Penulis Cantik itu Luka berhasil meramu cerita yang baik dan menarik pembaca ke dalamnya. Tergulung dalam ceritanya. Tidak diragukan lagi pembaca akan turut emosional berpihak pada "si tertindas"



Cerita gubahan Seno Gumira Ajidarma juga turut mencuri perhatian di antara 12 cerpen yang ada. Sepatu Kulit Ular Warna Merah mengajak pembaca untuk berfantasi. Sejak awal cerita dibuka, kita turut menaruh rasa penasaran seperti apa paras si pemilik betis yang dipelototi si tokoh utama. SGA berhasil merentangkan cerita yang sebenarnya jika dipikir amat sederhana. Dia membuktikan bahwa kepiawaian penulis dalam memahat cerita merupakan pembeda sebuah cerita yang baik dan yang biasa.



Aroma balas dendam yang dibalut dengan percikan nafsu tersaji di Sebutir Peluru untuk Sang Bapak. Cerpen karangan Restoe P Ibrahim mampu menyajikan cerita yang memuaskan para pembaca dewasa. Tidak lempeng dan cenderung berani bermain dengan imajinasi liar pembaca (meski tidak terlalu vulgar) adalah keunggulan dari cerpen ini. Selain itu yang menjadi nilai lebih adalah keberhasilan Restoe memainkan emosi pembaca bak roller coaster dari awal hingga titik akhir cerita.



Lelaki dengan Ransel karangan Edo Wallad membuktikan selalu ada cerita apik yang terinspirasi dari lelaki petualang. Adapun Cinta Semanis Racun menjadi salah satu karya yang patut diperhatikan di kumcer Esquire 1. Cerpen ini tidak mudah hilang dari benak kita setelah habis membacanya. Anton Kurnia berupaya menghadirkan krisis sosial yang diungkapkan dengan manis sekaligus tragis disini. Menghadir si tokoh utama yang kehilangan cinta. Daun ajaib mampu menjadi penawar luka sekaligus penyumbang petaka di dalam kehidupannya.



Kumcer Esquire 1 dapat menjadi teman duduk yang menyenangkan. Selamat membaca.


P.S. : Terima kasih sudah mampir dan membaca di h23bc.com. Yuk dukung karyaku dengan bantu share di media sosial kamu, tinggalkan komentar, dan follow @h23bc. Dukungan kamu akan sangat berarti.

Friday, 20 March 2015

Perempuan Patah Hati Yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi



Judul: Perempuan Patah Hati Yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi.
Penulis: Eka Kurniawan.
Penerbit: Bentang Pustaka (2015).



Kabar gembira itu ketika penulis favorit saya mengabarkan akan menerbitkan buku terbaru. Seperti yang saya singgung disini, kumcer merupakan ladang basah yang menyasar kalangan pembaca yang ingin menikmati karya sastra dengan bentuk ringkas namun memiliki kualitas yang tidak kalah dengan membaca sebuah novel. Harus diakui ada sebuah kepuasan tertentu ketika menghabiskan waktu bersama dengan cerita gubahan salah satu penulis terbaik Indonesia.



Di awal kumcer ini pembaca diajak berjumpa dengan dua orang manusia yang seperti sebuah jalan takdir bertemu di Los Angeles, Amerika. Kelebihan cerita ini adalah di samping penulis ingin menyinggung masa lalu kelam yang dialami Mei akibat peristiwa 98 Jakarta. Disini terjadi sebuah drama (boleh dikatakan pergolakan batin) saat Mei harus kembali mengorek luka lama tersebut di kala berkenalan dengan Efendi. Dengan deskripsi yang memukau pembaca serasa diajak jalan-jalan menapak tilas gedung-gedung berarsitektur seni yang memanjakan mata. Hampir semuanya dapat kita rasakan berbau "western" dan dapat kita nikmati dengan baik. Penulis bukan tanpa rencana menempelkan tokoh pengemis yang berhasil menjadi penghubung antara dunia barat dengan negeri kita.

"Ada pengemis di restoran."

"Apa?"

"Ada pengemis di...."

"Ya ampun, Mei. Ini di Amerika. Pengemis di sini enggak sama de..." Suara di sana tak melanjutkan kalimat tersebut, seolah disadarkan pada sesuatu.



Di sinilah terlihat kepiawaian pengarang untuk memasukkan peristiwa tertentu seperti kerusuhan 98 yang kelam ke dalam sebuah cerita dengan anggun. Seakan menginginkan "pelajaran" berharga tersebut hidup abadi dalam sebuah karya sastra. Gerimis Sederhana merupakan pembuka yang baik dengan pelintiran yang menghentak.

Satu hal yang saya sukai adalah Eka Kurniawan selalu pandai memainkan cerita dengan karakter seperti Marni. Lupakan hal tersebut. Hal yang ingin saya ungkapkan dari Gincu Ini Merah Sayang adalah kemampuan bercerita dengan teknik foreshadowing yang memukau. Kita dibuat penasaran mengapa si Marni harus "kembali" ke rumah karaoke (beranda) tempat dirinya sudah menemukan cintanya. 


Seorang petugas, dengan mulut yang sinis, berkata, "Jika benar kamu punya suami, besok pagi ia akan menjemputmu."

"Tapi, suamiku tak tahu aku ada di sini," katanya.

"Jadi, kamu jual dirimu tanpa suamimu tahu, heh?"

Sejujurnya, ia sungguh tersinggung dengan ucapan tersebut. Ia kembali berpikir, barangkali ini memang malam buruknya.



Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi bagi saya adalah buah imajinasi liar Eka yang dituang dalam sebuah cerita pendek. Di halaman terakhir EK mengaku berhutang pada cerita "The Ruined Man Who Became Rich Again Through a Dream." yang tertuang di The Arabian Nights, terjemahan Sir Richard F. Burton. Pengarang mengangkat Pangandaran tempat yang lekat dengan image pantai dan ikannya. Kita diajak berkelana menyelami perjalanan mencari cinta Maya yang ditinggal calon suami saat semuanya sebenarnya sudah "beres". Tak perlu diingkari kemampuan pengarang bercerita dengan baik sehingga mampu memikat pembaca. Kita turut merasakan kegetiran sang gadis patah hati menelusuri pantai Pangandaran. Kita dibuat penasaran akan jatuh vonis apa yang menanti si gadis. Apakah dia akan gila setelah mendapati hilangnya harapan atau terjadi sesuatu yang mengubah kehidupannya. Hingga di akhir cerita penulis seakan memberi tempat kepada pembaca untuk mengambil jalannya masing-masing. Keputusan untuk percaya cerita berakhir manis atau sebuah kado yang pahit.

"Jangan menangis, Nak. Pangandaran tempat orang memberi cinta dan kebahagiaan."

Ketika membaca buku ini kita dapat merasakan pengarang seringkali bereksperimen dalam bercerita. Kita akan dibuat tersenyum melihat aksi Kapten Bebek Hijau. Terhenyak ketika mendapati cerita Penafsir Kebahagiaan dan Le Cage aux Folles. Merasakan guilty pleasure saat membaca Jangan Kencing di Sini. Terharu biru mendapati cerita Setiap Anjing Boleh Berbahagia. Tiga Kematian Marsilam yang merupakan permainan cerita yang epik sehingga harus dibaca lebih pelan. Merasa tercekam mengikuti permainan Teka-Teki Silang. Kembali merasakan menjadi orang Indonesia di Pengantar Tidur Panjang.

Boleh dikatakan kumcer ini bukanlah kumcer terbaik Eka Kurniawan. Di awal bulan Maret sebuah kabar datang dari sang pengarang. Ada rehat sejenak untuk kembali mengisi raga dengan bacaannya. Tentunya kita saat ini boleh berlama-lama menikmati dan melihat kembali karya-karya lamanya. Saya juga akan membaca karya lainnya. Saya ingin membaca karya barunya yang lebih baik dan spektakuler nanti. 





P.S. : Terima kasih sudah mampir dan membaca di h23bc.com. Yuk dukung karyaku dengan bantu share artikel ini di media sosial kamu, tinggalkan komentar, dan follow @h23bc. Dukungan kamu akan sangat berarti.


Sunday, 8 March 2015

Review Buku Bastian dan Jamur Ajaib oleh Ratih Kumala.



Judul: Bastian dan Jamur Ajaib.
Penulis: Ratih Kumala.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2015)

Ada sebuah ungkapan yang menyatakan naskah kumpulan cerita umumnya tidak laku di pasaran. Faktanya dapat kita lihat buku-buku baru biasanya adalah novel asli maupun terjemahan yang mendominasi rak display toko buku. Mungkin saja penerbit tidak mau repot berinvestasi untuk jenis yang satu ini. Nyatanya mulai awal tahun ternyata sudah banyak penerbit yang menembak pasar dengan kumcer dari para penulis kawakan. Dan hal ini saya ramalkan akan jadi tren penerbitan untuk tahun 2015. 
Tampaknya hal ini bermula dari akhir tahun 2014 kemarin setelah salah satu penerbit major test the water dengan menerbitkan kumcer salah seorang cerpenis terbaik Indonesia. Ada feedback positif. Pasar menyukainya. Mungkin saja ini berkaitan dengan kepenatan masyarakat di tengah situasi yang carut marut di tingkat elit. Membaca buku berupa untaian cerita akan jauh lebih menyenangkan tinimbang novel tebal yang membuat alis berkerut. Alasannya bisa jadi di samping sekarang banyak orang malas untuk berpikir serius. Pembaca sudah jenuh dengan karya yang rumit dan sukar dipahami walaupun telah dibaca berkali-kali. (Lihat Cerpen Saran Seorang Pengarang oleh Sori Siregar, 2015)

Salah satu kumcer terbaru yang saya baca adalah Bastian dan Jamur Ajaib (BJA). Maafkan saya yang baru tahu beliau adalah istri penulis tenar Eka Kurniawan. Buku ini merupakan karya
pertama Ratih Kumala yang saya baca. Membaca kumcer di buku ini membuat kita terhanyut dengan permainan imajinasi sang pengarang. Tidak diragukan lagi kemampuan penulis untuk menghasilkan ramuan cerita yang akan membuat pembaca berdecak kagum sekaligus ketagihan sehabis menyelesaikan sebuah cerita. Hampir semua cerita pendek yang ditulis menjanjgikan untuk dikembangkan lebih lanjut menjadi sebuah prosa yang lebih panjang. Tidak banyak kumcer yang mampu menyajikan pengalaman membaca kumcer semenyenangkan BJA.

Ratih Kumala. (ratihkumala.com)

Mengupas isi cerita

Di cerita awal penulis mampu menghadirkan nostalgia masa kecil yang menyenangkan kepada para pembaca. Masa-masa indah yang tidak terulang tersebut dihadirkan penulis lewat permainan adu belalang yang cukup singkat namun terkesan datar. Lewat Ode untuk Jangkrik kita disuguhi menu pembuka yang baik, sebuah pemanasan sebelum menu utama berupa cerita-cerita yang lebih dewasa dan serius. 
Cerita yang kedua langsung menyentak. Nonik bertema dua perjalanan cinta yang memiliki nasib berbeda. Penulis mengisahkan persahabatan dua perempuan muda di ibukota. Kisah pilu ini dimulai ketika Aida diinterogasi di sebuah bilik tanya jawab khas film Hollywood. Sembari berimajinasi pembaca akan diajak hanyut ke dalam cerita. Flashback mengalir dengan baik. Teman Aida yang punya istana besar di kompleks depan kampungnya tetiba hilang dan Aida menjadi kambing hitamnya. Aida membeberkan dirinya juga turut menikmati berlimang harta sang kawan yang mengaku sebagai ahli waris seorang kakek. Sang kakek yang dikenal dan dipanggil dengan sebutan Om Pierre. Twist dan alur cerita yang menarik disajikan penulis berhasil membuat pembaca jatuh cinta sekaligus terhenyak dengan cerita Ratih Kumala.

Di cerita selanjutnya alkisah di suatu negeri terjadi kegemparan hebat. Anak-anak lelaki yang semalam mendapati celana atau sarungnya lembab juga mendapati dirinya lelah. Hal tersebut menjadi aib yang harus ditanggung seumur hidup. Sebutlah Mojo dia harus menjalani kehidupannya sambil terus bercerita mendapati banyak teman sebayanya yang juga dihantui nenek hijau-konon sosok tersebut mengambil rupa seorang nenek-nenek dan mengenakan torso hijau sekelibat dari bayangannya. Bagaimana bisa kasus nenek hijau ini membuat para jomblo menghadirkan situasi krisis bagi keberlanjutan sebuah negeri. Ada suasana ngeri dan mencekam yang hendak dibangun oleh cerita ini. Namun pembaca akan dibuat takjub mendapat pelintiran di ujung cerita. Di Nenek Hijau penulis lewat humornya membuat kita terhibur sekaligus kagum dengan kemampuan bercerita sang penulis.


"Tak seperti anjing, mereka tak bisa diperintah untuk diam. Perempuan juga pencuri sejati. Jika kucing yang kau pikir manis akan mencuri ikan asinmu di meja makan, maka perempuan yang kau pikir menarik akan mencuri hatimu. Kucing dan perempuan sama-sama pencuri. Ia tak suka pencuri."

Salah satu cerpen yang saya sukai adalah Rumah Duka. Menghadirkan drama percintaan yang manis sekaligus tragis. Penulis berhasil meramu cerita dengan mengangkat hubungan suami istri yang terjalin diantara kehadiran orang ketiga. Drama ini dengan intens memukau pembaca lewat penceritaan oleh dua wanita yang sama-sama mencintai Bima, seorang laki-laki sukses yang sayangnya duluan meninggalkan kedua wanita pengisi hidupnya. 


"Aku mengerti sekarang, rumah perempuan itu, bagi suamiku adalah rumahnya juga."

Satu hal yang akan saya lakukan selanjutnya adalah membaca karya-karya sang penulis. Kebetulan Gadis Kretek sudah duduk manis menunggu untuk dibaca. Untuk penyuka kumpulan cerita pendek Bastian dan Jamur Ajaib adalah teman duduk yang menyenangkan. Selamat membaca.

P.S. : Terima kasih sudah mampir dan membaca di h23bc.com. Yuk dukung karyaku dengan bantu share di media sosial kamu, tinggalkan komentar, dan follow @h23bc. Dukungan kamu akan sangat berarti.

Wednesday, 4 February 2015

Cerita Cinta Indonesia

Cerita Cinta Indonesia
45 Penulis GPU
2014 Gramedia Pustaka Utama

Kumpulan cerita berjudul "Cerita Cinta Indonesia" diterbitkan dalam rangka memperingati 40 tahun penerbit Gramedia Pustaka Utama (GPU). Tidak semua penulis beruntung bisa berkarya mewarnai dunia literasi Indonesia lewat penerbit yang berhasil diakui sebagai raksasa di industri buku nasional. Satu hal yang pasti para penulis bertalenta yang memiliki pembaca setia. Tidak terkecuali beberapa nama besar yang menjadi magnet pembaca untuk membeli buku CCI dengan merogoh kocek lebih dalam. Disini ada barisan penulis tenar Eka Kurniawan, Ika Natassa, Okky Madasari, Mira W, Ahmad Tohari, Clara NG, dan Arsendo Atmowiloto.



Satu kata untuk merangkum pengalaman membaca kumcer dengan cita rasa Indonesia adalah menyenangkan. Seperti pengantar di awal buku ini sehabis melahap satu demi satu cerita ada rasa tertentu yang membekas di benak kita. Ada kalanya manis seperti habis melahap kembang gula, kadang juga pahit seperti kala menenggak ekstrak manggis. Dan jangan salahkan diri anda ketika kenangan indah anda bersama si Dia kembali merasuk ke dalam pikiran tanpa permisi. CCI menyajikan kisah dengan warna bagai pelangi, kita akan temukan kisah dengan tema cinta tanpa syarat yang menggugah hingga cinta yang kadang terasa suram dan kelam.



Overall semua cerita yang ada mengasyikkan untuk dibaca. Setiap penulis dengan gaya bercerita yang unik adalah salah satu kepuasan yang bisa kamu dapat dari CCI. Pengalaman yang jarang akan kamu temukan di buku lain tentunya. (Kapan lagi ada kumcer seperti ini GPU?) Bagi para pembaca awam bisa jadi ini waktu paling pas untuk berkenalan dan mencicipi taste setiap penulis. Seperti saya yang langsung suka dengan gaya penulisan Aliazalea, Celebrity Baby bisa kamu baca di urutan kedua. Sekedar intermesso penyusunan cerita di kumcer CCI dibuat berdasar urutan abjad nama penulis (mengapa bukan per kategori pembaca, lamanya bernaung di GPU, buku terlaris, atau penerima penghargaan terbanyak) mungkin demi kenyamanan bersama seperti yang sedikit disentil Marga T di Apalah Artinya Nama. CCI dimulai dengan apik oleh Ahmad Tohari dan diakhiri dengan cerita dari Wiwien Wintarto.



Berbagi catatan cerita yang berkesan. Pertama ada cerita cinta yang ditulis dengan kocak dan menghibur di Aku Rela Jadi Dangdutmu karangan Boim Lebon dan Ojek karya Iwok Aqbany. Cerita yang menawan ada di Love, X oleh Mia Arsjad. Dan cerita paling manis bisa kamu nikmati di Life Begins at Forty gubahan Maria A. Sardjono.



Terlepas dari cerita yang bagus, mengingat buku ini layaknya kado bagi pembaca setia GPU sekaligus titik tonggak 40 tahun. Kualitas cetakan di buku yang saya beli tidak memuaskan. Ketebalan font yang sangat tipis-hampir tidak terbaca mendominasi hasil cetak CCI.



Berikan sedikit hadiah buat dirimu di kala waktu kerja yang hectic atau keadaan rumah yang kacau dengan duduk tenang membuka halaman demi halaman CCI sembari menikmati secangkir teh & kudapan. Mungkin kamu bisa kembali merasa gairah hidup dan semangat yang baru akan timbul dalam dadamu. Sebab cinta nggak pernah gagal.



P.S. : Terima kasih sudah mampir dan membaca di h23bc.com. Yuk dukung karyaku dengan bantu share artikel ini di media sosial kamu, tinggalkan komentar, dan follow @h23bc. Dukungan kamu akan sangat berarti.

Saturday, 17 January 2015

Review Buku AS Laksana Bidadari yang Mengembara


Judul Buku: Bidadari yang Mengembara.
Penulis: A.S. Laksana
Penerbit: Gagas Media (2014)
Rating: 3/5.







 

Kumpulan cerita yang ditulis Mas Sulak panggilan AS Laksana di Bidadari yang Mengembara memiliki kesan yang beragam. Ada kalanya kita mengernyitkan dahi, tertohok, kadang terheran-heran sehabis membaca cerita yang ada. Di setiap cerita pendek yang ada penulis mampu membangun empati pembaca akan tokoh-tokohnya, mengundang rasa penasaran pembaca akan jalan ceritanya. Baik setting lokasi dan waktu yang berada di dalam kehidupan sehari-hari bahkan teramat dekat dengan kita membuat cerita yang ada tidak berjarak dan dengan mudah dapat diresapi pembaca.

Dua cerita yaitu Burung di langit dan Sekaleng Lem & Buldoser mengingatkan saya akan kepiawaian sastrawan Ahmad Tohari dalam menulis cerita (kumcernya dapat Anda baca di Mata yang Endak Dipandang). Sangat terasa penulis ingin mengajak pembaca untuk melihat kesenjangan sosial alih-alih ketidakadilan sosial yang bertetangga dengan kehidupan kita sehari-hari. Buldoser yang selalu meneror keluarga Alit mengingatkan saya akan penggusuran di kota Surabaya di tahun 200an. Persis sama adegan yang ditampilkan di cerita Buldoser dengan berita yang saya baca di Harian Surya. Cerita lainnya yang tidak kalah menggigit dan jangan dilewatkan adalah Bangkai Anjing, Bidadari yang Mengembara, dan Rumah Unggas.

Secara keseluruhan saya menikmati membaca kumcer A.S. Laksana yang diganjar Tempo penghargaan Tokoh Sastra terbaik tahun 2004.

Tuesday, 6 January 2015

Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri

Judul Buku: Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri
Penulis: Bernard Batubara.
Penerbit: Gagas Media.
Terbit: Desember 2014
Rating: 3.7/5.

  • Cover: 3.5/5
  • Content: 3.5/5
  • Lay-out: 4/5 




Buku ke 2 Bara yang saya baca setelah novel Kata Hati. Buku yang satu ini sangat terasa penulisnya sedang berbunga-bunga karena jatuh cinta. Sampai-sampai judul buku kumcernya "Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri" Ekspektasi yang cukup tinggi ketika saya membacanya dapat terbayar lunas. Dari awal buku ini dipromosikan, saya memiliki insting buku ini something good. Wajib dibaca. Bakal beda dari buku-buku lainnya. Cinta yang menjadi tema sentral juga menjadi pemicu untuk membeli buku bersampul ungu ini.

Apa yang Anda bayangkan ketika melihat ini?


Diibuka dengan apik oleh cerita pertama, kita langsung diajak untuk berkenalan dengan gaya bercerita Bara. (Meski disini kok ada sedikit rasa Eka Kurniawan, Djenar Maesa Ayu ya.) Setelah itu cerpen lainnya semakin beragam dan tentu saja menghanyutkan. Sejak awal kita diajak menyeberangi satu demi satu perjalanan manusia tentang cinta. Bara punya cerita yang menarik, alurnya mengalir. Penulis berhasil membawa imajinasinya sampai kepada pembaca. Dengan duduk tenang kita bisa ikut membayangkan imajinasi Bara. (Iya, coba bayangkan menjadi pohon, seorang hitman, dan seorang .....) Meskipun di beberapa bagian cerita kita bisa menebak (di 1 bagian saya lagi-lagi kena jebakan Batman Agus Noor. Adakah yang bisa menebak, judul yang mana?) rekaan ceritanya. Meski begitu saya tetap menikmati cerita ini dan ingin membaca karya Bara yang selanjutnya.
Ilustrasi yang membuat penasaran

Cerita terakhir yang merupakan judul buku ini saya akui menutup kumcer ini dengan manis. Saya merasa cukup kecewa mungkin dalam waktu dekat belum ada kumcer lain yang diterbitkan. Soal cerita favorit? Disini saya suka judul "Orang yang Paling Mencintaimu" dan "Menjelang Kematian Mustafa". Buku ini direkomendasikan untuk dibaca buat Kamu yang sudah pantas untuk jatuh cinta.

Thursday, 13 November 2014

Review Buku Robohnya Surau Kami AA Navis



Judul Buku: Robohnya Surau Kami
Penulis: A.A. Navis
Penerbit: GPU.
Buku karangan A.A.Navis ini betul-betul sebuah harta karun di sebuah perpustakaan. Buku lawas ini sudah amat jarang terlihat di toko buku. Terakhir diterbitkan GPU tahun 2006. Dari ke 10 cerita pendek yang ada, semuanya layak dibaca bagi Anda yang ingin mengenal karya sastra Indonesia atau penulis yang ingin belajar cerpen salah satu penulis kawakan Indonesia.

A.A. Navis lewat kumcer ini ingin mengajak pembaca mengikuti jamannya. Bahasanya sederhana namun pilihan kata yang kuat membuat pembaca dengan mudah dapat menikmatinya. Kecuali budaya minang yang mungkin harus sedikit kita pahami terlebih dahulu. Disini terdapat banyak ilmu hidup atau kebijaksanaan yang dapat diserap kepada pembaca. Kesan yang tertangkap adalah penulis piawai menceritakan kehidupan yang menyentuh, juga kadang sangat kejam mengiris hati (Pada Pembotakan Terakhir), selain itu budaya Minang sendiri.

Dimulai dengan cerita "Robohnya Surau Kami", penulis memprotes sikap sebagian orang yang tunduk kepada orang asing yang serakah mengeruk kekayaan Indonesia. Memang dari sanalah kita dapat dengan angkuh bertepuk dada mengatakan inilah negeriku yang indah permai, Gemah ripah loh jinawi. Namun apa arti semua itu jika kita tidak mengusahakannya, bekerja ketimbang malas berdiam diri berfokus pada diri sendiri. Kisah "Topi helm" disini mengajarkan arti kerendahan hati itu merupakan hal yang penting namun sulit dijalankan dalam kehidupan sehari-hari.

Dari ke 10 cerita yang ada, selain "Dari Masa ke Masa" yang menegur kita para generasi muda di jaman modern. Makna ceritanya masih sangat kuat berbicara hingga saat ini. Dengan jelas keprihatianan penulis melihat anak muda. Dulu di jamannya anak-anak SMA sudah jadi komandan batalyon, bergerak di organisasi dan berbuat sesuatu. Sedangkan anak-anak SMA sekarang tidak bisa berbuat apa-apa. Membacanya seakan penulis hendak menampar kita para anak muda. Sampai sekarang masih belum banyak berubah bukan. Kita yang lebih mementingkan prestasi otak dan keahlian, kata penulis. Sepintas kita saat ini pun lebih menilai seseorang dari prestasi yang segudang, sesuatu yang wow. Meski banyak pula tokoh low profile yang jarang diekspos namun punya segudang dampak positif. Nilai individualis yang menjadi perhatian penulis nampak semakin menjadi-jadi sekarang. Bukankah saat ini kita bisa dengan mudah melihat dan membaca kesukesan pribadi menjadi sesuatu yang diagung-agungkan dan dikemas sedemikian rupa dengan label motivasi atau inspiratif.

Kisah Sidin dalam "Penolong" adalah favorit saya. Membacanya membuat kita seakan ikut terjun langsung ketika tragedi kecelakaan kereta api berlangsung. Ketegangan yang dibangun membuat pembaca tidak mampu bernafas sembari menerka akhir jalan cerita. Saya membayangkan akan sangat baik jika kita bisa membaca kumcer-kumcer karangan A.A.Navis yang lain. Memberi sebuah nilai pada kami anak muda yang kering pengalaman dan tidak tahu diri.

Monday, 27 October 2014

Corat-Coret di Toilet

Kumcer yang wajib Anda baca



Judul: Corat-Coret di Toilet
Penulis: Eka Kurniawan
Terbit April 2014
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama


Membaca 12 cerita pendek yang ditulis Eka Kurniawan di Corat-Coret di Toilet sungguh memuaskan. Ya ini adalah karya ketiga dari EK yang saya baca dalam selang waktu kurang dari 3 bulan. Setelah perjalanan Ajo Kawir, CIL, dan sekarang CCdT membuktikan bagi saya penulis yang satu ini layak diacungi jempol. 

Saya membaca buku ini di sabak digital ketika PLN kota Ambon melakukan pemadaman bergilir. Di CCdT dengan jelas lewat karya-karyanya EK mampu merekam jamannya dengan baik. Kita mulai dengan cerita "Peter Pan" yang sangat keras menentang pemerintah saat itu. Selain itu ada juga corat-coret di toilet. Tentang toilet yang banyak dibahas di buku ini. Saya menduga banyak draft cerpen ini yang dihasilkan di dalam wese.

Ijinkan saya sedikit berbagi disini, CCdT saya baca berselingan dengan tulisan EK di blog lamanya. Soal penulisan sudah saya babat habis dan telan matang-matang. Yap, saya sudah kepalang tanggung ingin melihat apa isi kepala sang penulis yang katanya bila membaca karyanya kita akan membaca karya-karya penulis dunia. Disini saya jujur mendapat inspirasi buat membuat cerpen dan bla bla. (Hal ini akan ditulis di blog pribadi, demi kenyamanan pembaca). Yang jelas setelah membaca isi blog penulis, saya dapat melihat penulisan cerpen yang dihasilkan telah melalui proses yang tidak bisa dibilang mudah. Sehingga karya yang dipegang pembaca disini adalah milestone pertama penulis yang dilempar ke pasaran, kita dapat melihat proses kreatif menulis cerpen oleh seorang penulis berbakat. 

Poin yang ingin saya sampaikan adalah jika kamu seseorang yang punya passion menulis, entah penulis pemula atau penulis yang masih mencari cara buat melejit di industri perbukuan buku Corat-Coret di Toilet adalah salah satu media kamu dapat belajar soal cerpen. Baik dari pembuatan kalimat pertama, plot, penceritaan, dsb. Ketika membaca pun saya ingin seperti hal yang diatas selain mendapat bahan bacaan yang ok di saat senggang. Kumcer ini menurut saya pas ada seriusnya dan ada ngocolnya. Ada soal pemerintahan, romansa, cukup lengkap pokoknya.

Semua ceritanya bagus dan ada satu cerita yang paling berkesan. Sayangnya itu adalah cerita penghabisan di buku ini. Bagaimana lagi namanya juga sebuah buku yang akan selesai setelah beberapa ratus halaman. Kandang Babi judulnya, selama membaca cerpen ini penulis berhasil membuat saya mesam-mesem sendiri. Geli membayangkan yang dialami Edi Idiot. Itulah keberhasilan penulis dalam memotret pengalaman hidupnya. Saya yakin alumni bulaksumur akan tersenyum simpul membaca cerita ini. Apakah Pak Jokowi juga ya?

Friday, 18 April 2014

Review Buku Pelajaran Pertama bagi Calon Politisi

 Menikmati karya-karya terbaik Kuntowijoyo



Judul buku: Pelajaran Pertama bagi Calon Politisi Kumpulan Cerpen Kompas
Penulis: Kuntowijoyo
Halaman: 150
Penerbit: Buku Kompas 2013.

Kuntowijoyo
Buku kumpulan cerita pendek dengan judul nyentrik ini cocok buat dibaca pada saat panas-panasnya dunia politik Indonesia. Hal yang membanggakan ketika membaca buku ini adalah Prof. Kuntowijoyo sejarawan sekaligus pengarang merupakan almamater UGM. Sejumlah penghargaan di bidang sastra menjadi jaminan bagi karya beliau. Terakhir Kuntowijoyo dianugerahi Anugerah Kesetiaan Berkarya di bidang penulisan Cerpen dari harian Kompas di tahun 2002.

Sebanyak 15 mahakarya cerpen pak Kuntowijoyo selama 1 dekade (1994-2004) dibukukan untuk memuaskan kenangan para pembaca Kompas di periode tersebut maupun generasi baru seperti saya. Pemilihan bahasa (Indonesia yang disisipi bahasa jawa) dan cerita yang menarik adalah salah satu keunggulan buku ini. Dari semua cerpen yang ada bagi saya semuanya menghibur dan memberikan warna tersendiri seperti berada di jaman pengejaran anggota PKI di "Tawanan", cerita Sangadi sang jagoan yang berakhir tragis di "Jangan Dikubur sebagai Pahlawan", juga twist menarik di "Perang Vietnam di Storrs".
Realita pemilu
Pilih aku!

Bagi saya 2 cerpen terakhir yang sangat berkesan, pertama adalah Pelajaran Pertama bagi Calon Politisi dan RT 03 RW 02 Jalan Belimbing atau Jalan "Asmaradana". Benar adanya, faktor terbesar saya membeli dan membaca buku ini adalah judul buku tersebut. Disini diceritakan pertarungan Sutarjo pengusaha konveksi yang ingin jadi kepala desa dengan seorang pensiunan kapten TNI. Bak pertarungan politik diantara kaum sipil dan militer, hal ini diperkuat dengan simbol "Padi" buat pak Sutarjo dan "Senapan" buat lawannya. Mulailah berbagai cara dilakukan oleh kedua pihak buat merebut suara pemilih. Pak Tarjo yang ingin meraih hati rakyat dengan pendekatan yang lurus dan agamis, sudah merasa puas untuk bisa meraih suara rakyat, namun kursi kades itu begitu prestis sehingga dirinya harus berhadapan dengan langkah-langkah tidak etis seperti mengundang warga dengan imbalan sosok rupawan penyejuk mata, politik uang, bahkan menggunakan isu keamanan berupa kasus tawuran dan penembak misterius. Intrik politik seperti itu mengingatkan kita pada fakta pemilu saat ini bukan? Singkat cerita, hasil akhir sudah barang tentu dimenangi oleh sosok yang lebih lihai mengatur strategi dan memanfaatkan kondisi. Pihak yang kalah merasa tidak puas dan terus ingin mencoba berbuat sesuatu yang bisa mengubah hasil kemenangan.

Di dalam cerita ini penulis menyisipkan opininya tentang dunia politik. Penulis ingin mengingatkan bahwa seseorang harus kenal dunia politik dengan segala tetek bengeknya. Politisi harus fleksibel dengan realita yang ada, bukankah ada ungkapan tidak ada perkawanan yang abadi, yang abadi hanyalah kepentingan. Menarik untuk dicermati makna politik bagi penulis seperti yang diungkapkan oleh penasihat Pak Sutarjo, bila jaman sekarang mungkin konsultan politik yang jasanya em-eman buat jasa polesan citra hingga urusan pemenangan di lapangan.

"Politik itu the art of the possible, tidak harus lurus, tapi boleh bengkok-bengkok. Jangan lugu begitu. Politik itu seperti silat, balikkan kelemahan jadi kekuatan." (hal 129).

Sekali lagi penulis ingin memberi tahu pembaca yang ingin terjun di dunia politik kudu siap mental. Para petarung sudah harus siap dengan segala konsekuensi, akhirnya hanya ada satu pemenang sehingga harus siap menang sekaligus siap kalah. Berikut ini nasihat terakhir dari sang penulis untuk para calon politisi.
"Ya, itulah politik. Sekali menang, sekali kalah. Sekali timbul, sekali tenggelam. Sekali datang, sekali pergi. Begitu ritmenya, tanpa henti. Hadapi ritme itu dengan humor tinggi. Jangan kalau menang senang, kalau kalah susah. Jangan. Berbuatlah sesuatu hanya pada waktu yang tepat. Ketika momentumnya datang, pada sanggatnya. Kalau bisa ciptakan momentum itu. Tetapi, jangan ngege mangsa (terlalu cepat), tapi juga jangan terlambat." (hal 136)

Menutup resensi ini perkenankan saya meminjam penyataan Bakdi Soemanto di bab pengantar berjudul "Di antara Sejarah dan Fiksi": cerita pendek Kuntowijoyo dalam kumpulan ini bisa menjadi karya abadi yang akan selalu dibaca kembali di masa datang. Buku ini layak dibaca dan dinikmati oleh semua kalangan yang ingin menikmati cerpen berkelas dari penulis Indonesia.

Thursday, 27 February 2014

Review Buku Laki-laki Pemanggul Goni (Cerpen Pilihan Kompas 2012)

Refleksi cerpen Indonesia kontemporer






Buku ini baru saya ketahui setelah ada teman yang memposting buku terbaik yang dibaca di tahun 2013. Bukan kebetulan, buku ini masuk dalam salah satu daftar buku terbaik. oleh Mas Puji. Kompas secara rutin mengumpulkan cerpen yang dimuat di Kompas Minggu kemudian dibukukan setelah mendapat saringan ketat. Singkat cerita di tangan pembaca tersaji cerpen pilihan kompas di tahun 2012 yang diberi judul "Laki-laki Pemanggul Goni".
Tanpa bertele-tele dalam review ini, semua cerita pendek yang ada di Kompas tidak hanya memberikan sejumput cerita tentang keindonesiaan. Lebih dari itu inovasi dan nilai-nilai sastra yang sarat dengan akar budaya Indonesia ditulis oleh para cerpenis. Bukan hal mudah untuk menyaring dan membukukan 20 cerpen terbaik selama tahun 2012. Salut untuk Kompas yang memberikan oase segar bagi penikmat sastra Indonesia. Jujur bagi saya yang awam atas sastra, membaca buku ini membuka wawasan tentang kayanya cerita yang dapat diangkat, ditulis. Butuh ide dan kreativitas untuk dapat menerjemahkannya dalam sebuah tulisan pendek sehingga tercipta cerpen utuh.

Jujur semua cerpen di dalam buku ini sangat menarik. Mulai dari cerpen pertama hingga terakhir. salah satu cerpen yang menarik bagi saya adalah Requiem Kunang-kunang oleh Agus Noor. Cerpen ini sangat menyentuh saya. Bukan saja karena permainan kata di dalamnya, namun membaca cerpen ini seperti mengingatkan saya pada masa kerusuhan saat saya masih kecil. Cerpen ini menjadi begitu dekat dengan kehidupan masa kecil saya. Agus Noor menuliskan cerpen RKK di Ambon pada tahun 2011. Semua kisah dalam buku ini punya twist yang unik. Salut untuk Kompas yang memberikan kembali karya terbaik cerpenis Indonesia untuk dibaca masyarakat Indonesia.

Ulasan mendalam pada epilog dari Pak Maman S.Mahayana menjadi penutup pamungkas dari kumpulan cerpen Kompas ini. Sungguh banyak ilmu yang dapat dipahami. Tanpa tedeng aling-aling, Pak Maman memberikan apresiasi dan koreksi atas semua karya yang dimuat. Buku ini layak untuk dibaca bagi pecinta sastra Indonesia, kaum pelajar yang hendak mengenal dunia sastra, hingga kalangan umum yang ingin tahu realita kehidupan masyarakat di Indonesia.