Sunday, 25 March 2018

Update Kolaborasi Menulis "Aku dan Buku"



Pengumuman naskah terpilih antologi "Aku dan Buku".


Sebagagi penggagas kolaborasi menulis "Aku dan Buku", saya mohon maaf pengerjaan antologi buku ini sangat terlambat.


Ada 8 penulis yang akan dimuat tulisannya. Diantaranya : Busyra, Abduraafi Andrian, Maura Fanessa, Truly Rudiono, Pauline Destinugrainy Kasi, Teddy W. Kusuma, Nurina Widiani, Alvina Ayuningtyas.


Terima kasih atas atensi dan kiriman tulisan teman-teman, mas Dion Yulianto sebagai editor yang membantu pengerjaan naskah, selamat bagi para penulis yang masuk dalam antologi, semoga buku tersebut bisa hadir di tangan para pembaca di tahun 2018.

Info mengenai buku antologi bisa dipantau di twitter @h23bc atau di blog Haremi Book Corner. Salam buku itu seru!

Friday, 23 February 2018

Profil Haremi Book Corner di Podcast Suarane

Di awal tahun 2018, sudah berapa buku yang kamu baca, guys?

Gimana tantangan baca kalian?

Semoga masih semangat kayak pas bulan Januari kemaren ya.

Btw, akhir tahun 2017, saya (Steven) sempat diwawancarai di podcast Suarane. Ngobrolin soal buku dan akhirnya bikin tokobuku daring. Isinya gimana aja? yuk dengerin di sini. Have a nice day.


Thursday, 15 February 2018

Ubur-Ubur Lembur oleh Raditya Dika

Ubur-ubur LemburUbur-ubur Lembur by Raditya Dika
My rating: 3 of 5 stars

O0m Dika, eh salah, bang Dika memang terbukti pencerita top.

Ngalir aja. Serasa baca kumpulan cerpen gitu. Tapi bedanya ini pengalaman batin bang Dika sendiri yang diceritain. Teknik berceritanya keren.

Isinya seru. Kontemplatif. Suka sama apa yang dibilang Radit, hiduplah dari apa yang elo senengin. Kira-kira gitu bahasa bebasnya.

selain itu. Jadi penasaran gue kan, sama Radikus makan kakus. yang dimention di bab terakhir gitu. Eh bener ga sih?

Rekomendasi nggak?

Iya, kalau pengen baca tulisan terbaru Radit, elo harus beli bukunya.
Kalau fans Radit garis keras, apalagi. Wajib hukumnya.

Tapi kalau dibilang, bagusan mana, saya akan bilang Koala Kumal ya.

salutlah sama effortnya Raditya dika. Ia bilang nyicil tulisannya di sela-sela jobnya yang udah seabrek cuy, dan bener-bener kelihatan ini kayak perjalanan karirnya dia yang pengen dibagi ke khalayak pembaca.

View all my reviews

Milea: Suara Dari Dilan

Milea: Suara Dari DilanMilea: Suara Dari Dilan by Pidi Baiq
My rating: 4 of 5 stars

Akhirnya selesai baca trilogi Dilan, nggak tahu kalau taun depan terbit lagi. Hehehe.

Ya, baca buku Dilan 91 memang bikin nyesek. Gua akuin itu. Tapi setelah mengambil jeda panjang (setengah harian kurang sih, kalo diitung), saya buka buku bersampul abu-abu itu dan langsung termangut-mangut lihat prakata ((prakata)) dari si empunya cerita.

Iya nggak bisa juga dong, ngelihat cuman dari satu sisi aja. Kita butuh dua sisi pandang biar lebih tahu sesuatu dengan lebih clear.

Di sini Dilan, bercerita soal kehidupannya. Melengkapi dan memparipurnakan cerita yang sudah kita semua baca di dua seri awal. (bikin Rangkulan maya)

Sejujurnya saya menikmati aja, apa aja yang Ayah tulis disini. Soal masa kecil Dilan yang menggemazkan. Terus. Kenalan sama Milea. Dsb.

Jatuhnya, aku jadi bisa memaklumi dan setidaknya melihat cerita mereka dengan lebih baik.

Aman nih gua pikir.

Sebelum memasuki sepersekian akhir buku ini ditulis.

Man...

Tapi. Nggak separah efek yang dikasih sama Dilan 91 memang. Jadih lebih adem aja gitu. (Meski sudah diinfokan bakal lebih baper dari yang sebelumnya. Baper ultimate istilahnya. Makanya sebelum baca cuci kaki, doa, terus, nggak-ngak, saya cuman lebih antisipasi aja, dalam hati gitu).

Saya setuju sama yang Kang Adi bilang. -eh bukan woii.-

Biarlah semua ini menjadi sebuah pelajaran. Apapun itu ambil hikmahnya.

Kesimpulannya apa Steven?

Iqra. Bacalahh..

View all my reviews

Dilan Bagian Kedua: Dia Adalah Dilanku Tahun 1991

Dilan Bagian Kedua: Dia Adalah Dilanku Tahun 1991Dilan Bagian Kedua: Dia Adalah Dilanku Tahun 1991 by Pidi Baiq
My rating: 5 of 5 stars

Seperti yang aku tulis di review Dilan 90, cerita di Dilan bagian kedua ini memang bikin lebih penasaran lagi. Kisahnya sendiri bersambung mulus dari Dilan 90.

Disini memang bisa dibilang konfliknya lebih memuncak. So on an on.

Tapi dibalik semuanya, aku cuman mau nulis, gue salut sama mbak Milea, atau siapapun namamu mbak, kisah hidupmu berkesan.

Gue nulis ini dengan mix feelings. Sumpah. (Di jam 2 pagi lebih lima menit), iya 2 seri aja butuh maraton dari jam 9 malem-2 pagi. Saya bukan speed reader.

Ceritamu beresonansi dengan kuat kepada pembaca. Itu yang kukira sebagai alasan kenapa buku ini layak diberi lima bintang. Nggak sabar nunggu versi filmnya juga.

Sh#$ masih ada 1 buku lagi. Gimana caranya biar bacanya nggak baper ya?

Overall buku ini, sekali lagi karena udah selentingan kabarnya memang kisah nyata, jadi bener-bener, apa ya, mau dibilang, touching, nggak, ya, ngena di hati aja.

View all my reviews

Review Buku Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990

Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 by Pidi Baiq
My rating: 4 of 5 stars

Sebenarnya saya sudah nggak pengen baca novel ini, sebelum nonton filmnya.

Iya betul, saya pernah punya novel 1-2, dan tidak kebaca.

Sampai review di podcast Buku Kutu pun saya dengar, ah, nggak kebaca pun. Full spoiler deh. Tapi itu, kalau udah nggak baca, lihat review pun dijabanin.

Tapi setelah lihat filmnya. Kok bagus. Kok lucu ya.

Beli fisiknya deh. Langsung 3. Trilogi. Cie..

Malam ini dimulai jam 9, aku duduk dan tersenyum, cara ceritanya asyik, kayak lagi gimana gitu, iya ceritanya kayak denger temen lagi cerita gitu, sambil gue mengingat scene demi scence yang dijalankan Iqbal dan Vanessa dengan emejing.

Overall buku pertama ini asyik, dan terlepas dari itu, saya sudah menaruh sangka, ini kisah nyata, jadi makin penasaranlah aku. Berjuta penasaran.
Sampai sensasi setelah baca dua seri. (Lanjut ya di review Dilan 91). Waktu menunjukkan. Jam 2 pagi (waktu nulis ini).

Kisahnya bagus. Itu saja. Kalau belum baca. Baca deh. Mantap!

View all my reviews

Monday, 15 January 2018

Book Review: Jurnalisme Sastrawi

Jurnalisme Sastrawi: Antologi Liputan Mendalam dan MemikatJurnalisme Sastrawi: Antologi Liputan Mendalam dan Memikat by Agus Sopian
My rating: 5 of 5 stars

Tepat setengah satu siang setelah makan nasi kuning berlauk ikan, acar, perkedel, dan telur saya duduk menuliskan ulasan buku bagus yang baru selesai dibaca. Biar lebih maknyus. Nasi kuning tadi kutambah sesendok kecil sambal bawang Bu Rudy. Harumnya khas. Pedasnya jangan ditanya. Soal sambal botol yang belakangan selalu menemani menu ini kita bahas di lain waktu.

Judulnya: "Jurnalisme Sastrawi" Edisi Revisi. Antologi Liputan Mendalam dan Memikat. Sekadar tambah informasi. Dari buku inilah lahir antologi "Narasi", terbitan Pindai. Seperti judulnya buku ini menyimpan tulisan-tulisan yang memukau. Mulai dari pengisahan pecahnya demo yang berakhir tragis di Aceh, dualisme media waktu kerusuhan Ambon, asal mula majalah Tempo, hingga pengalaman terjun menemani tentara Rajawali di Aceh. Jurnalisme Sastrawi tergolong buku legendaris karena merupakan bunga rampai tulisan bergenre jurnalisme sastrawi milik majalah Pantau. Media pertama yang mengenalkan genre jurnalisme sastra di Indonesia.

Buku terbitan KPG ini saya beli karena melihat stories dari seorang pengamat media yang sedang kuliah luar negeri. Secepat kilat saya mencoba mencari di lapak daring. Rejeki anak soleh. Kebetulan juga sedang promo ongkos kirim. Tak berselang lama buku itu terbang ke Ambon. Pengalaman membaca buku ini akan saya ceritakan di tulisan ini. Semoga suka.


Diterbitkan Mei 2008, buku yang saya miliki sudah menguning lembaran kertasnya. Terselip pula selembar nota makan donat di Dunkin. Mata saya sampai pedih karena fontnya yang terbilang kecil. Tapi bagi saya itu tidak seberapa karena isinya sungguh berkelas.

Ada 8 cerita dari 8 jurnalis berbeda yang terangkum dalam edisi revisi. Pembacaan pertama, sore itu, dimulai dari "Koran, Bisnis, dan Perang" oleh Eriyanto setelah menelusuri bab pengantar. Saya penasaran dengan bisnis media waktu itu.

Di pengantar, Andreas Harsono, mencoba memberi latar belakang: apa yang membedakan narasi yang disebut jurnalisme gaya baru dengan bentuk laporan jurnalisme umum. Jurnalisme Sastra atau Literary Journalism bukan pekerjaan mudah. Penulisan hasil reportase yang tidak linier seperti hard news, lebih mendalam selayaknya depth reporting, dan tetap mengutamakan disiplin verifikasi fakta di lapangan. Itu kiranya yang membuat Pantau mencoba memberi penghargaan lebih tinggi bagi jurnalis yang mengirimkan laporannya. Sayang Pantau sudah keburu tutup. Namun para jurnalis tempaan Pantau masih bisa kita nikmati tulisannya di berbagai media.

Memang betul membaca narasi seperti di Pindai mengasyikkan betul. Jauh berbeda dari laporan di media biasa. Karya jurnalistik yang dimuat media pada umumnya terbatas. Tidak bisa panjang-panjang. Belum lagi terbentur deadline. Karena penyusunan laporan narasi sendiri dibutuhkan kerja panjang untuk meriset dan menjelajahi berbagai bukti. Bagi yang penasaran bisa lihat majalah "The New Yorker". Dari penuturan Andreas Harsono. Laporan berbentuk narasi yang bagus itu seperti "Hiroshima" John Hersey. Anda juga bisa baca "In Cold Blood." karya Truman Capote. Terbitan Bentang.

Mengutip Septiawan Santana dalam Jurnalisme Kontemporer Edisi 2, "Dalam perkembangannya, sastra menjadi bahan ucap dan ajar di dalam gaya jurnalisme. Penggeraknya, antara lain, ialah Tom Wolfe." Di Indonesia sendiri majalah Tempo pada awalnya juga menghimpun para seniman sebagai penghuni redaksi. Beritanya jadi enak nian dibaca. Meski saya belum pernah membaca Tempo tahun-tahun itu. Itu yang saya tangkap dari pembacaan ulasan-ulasan Tempo, yang diperkuat oleh tulisan Coen Pontoh di buku ini. Perkenalan dengan Tempo pun baru seumur jagung.

Kembali ke laporan mas Eriyanto. Di situ ia mencoba menelusuri bagaimana bisa sebuah kota yang sebelumnya memiliki satu koran harian umum, kemudian pecah hingga menjadi dua kekuatan media yang tumbuh seiring keadaan Ambon yang bergolak. Yang pasti ada nama Dahlan Iskan, dan kelompok Fajar yang berada di dalam pusaran tersebut.

Kemudian. Laporan narasi yang mengagumkan saya temukan di "Sebuah Kegilaan di Simpang Kraft". Betul-betul hidup tulisan Chik Rini. Merinding sekaligus mencekam rasanya membaca tulisan beliau.

Setelah itu ada jeda beberapa lama sebelum saya melanjutkan pembacaan "Jurnalisme Sastrawi". Bacanya dihemat-hemat. Ada buku lain yang dibaca juga. He-he-he.

Awal bulan Oktober. Saya melanjutkan membaca buku ini. Tulisan kedua saya tamatkan sore itu. "Taufik bin Abdul Halim" milik Agus Sopian.

Di tulisan ini Agus Sopian menelusuri salah satu aksi pengebom di Jakarta itu. Di sini saya mendapati informasi-informasi yang memiliki pertalian dengan kerusuhan di Ambon. Sedikit banyak memori saya kembali ke masa-masa kecil saya.

Dilanjutkan dengan "Hikayat Kebo" punya Linda Christanty. Ceritanya mengalir. Asyik diikuti.

Selanjutnya sejarah Tempo ditulis dengan seru oleh Coen Husain Pontoh. Pasang surut majalah Tempo bisa dibaca di "Konflik Nan Tak Kunjung Padam". Isi kulit Tempo yang saya idolakan seakan diperlihatkan di tulisan ini.

Tadi malam 5 Oktober 2017, bertepatan dengan HUT TNI, giliran narasi seru dari Alfian Hamzah yang kubaca. "Kejarlah Daku Kau Kusekolahkan". Betul-betul seru. Kendaraan lapis baja. Ransum tentara. Hingga pantat terserempet peluru. Sisi humanis tentara dan perjuangannya di lapangan diceritakan oleh jurnalis yang memperoleh ijin dua bulan menemani perjalanan tentara. Penuh haru melihat betapa tentara juga manusia. Kangen pacar. Anak istri. Setidaknya ini membuka mata saya tentang apa yang terjadi di Aceh. Di daerah konflik. Laporan tentang Aceh dengan nuansa yang berbeda, misalnya dari tulisan mbak Linda Christanty soal perang di Aceh. Baca Seekor Burung Kecil Biru di Naha (KPG). Rasanya kemarin akan kurang lengkap bila tidak membaca laporan mas Alfian.

"Ngak-ngik-ngok" Budi Setyono tentang keberadaan kelompok musik "Koes Plus" juga begitu informatif. Seru.

Saya baru tahu mereka sempat ditahan karena dianggap tidak sejalan dengan kebijakan Bung Karno soal kebudayaan nasional. "Dari Thames ke Ciliwung" soal bisnis air di Jakarta oleh Andreas Harsono menutup pembacaan saya.

Menyambung tulisan Santana, Gay Talese mengatakan, meski seperti fiksi, jurnalisme ini bukanlah fiksi. Ketika membaca liputan-liputan ini betul saja. Seperti yang diungkapkan Tom Wolfe: sebuah bacaan yang amat langsung, dengan realitas yang terasa konkret, serta melibatkan emosi dan mutu penulisnya.

View all my reviews