Monday, 17 June 2024

Review Novel "Kuyang" oleh Achmad Benbela.

 


Novel horor karya Achmad Benbela menyajikan perjalanan menyusuri alam Kalimantan beserta misteri di dalamnya. Apik dan menyajikan keseruan hingga akhir.

 

Aku sebelumnya sudah menonton film Kuyang. Kisahnya kuingat cukup menegangkan. Meski selama babak kedua film, aku menimang rautan kulit kelapa muda yang baru saja kuminum. Memainkannya karena kurasa filmnya berjalan datar. Aku terkesan dengan dialek dan aktor lokal yang menjadi pemain filmnya. Saat ku tahu film horor ini diangkat dari novel. Aku langsung meniatkan untuk membaca materi asli film ini. Dan butuh beberapa bulan untuk memiliki novel Kuyang. Ku cari lewat Dema Buku tak kunjung ketemu. Shopee. Parang Maya novel lain mas Beben, sapaan akrab penulis asal Sampit masih lebih mudah. Ada stoknya. Penantian ini berakhir saat mencarinya di toko ijo. Beruntung akhirnya menemukan novel ini. Aku tak mau membaca Parang Maya, sebelum menamatkan novel Kuyang. Jitu prediksiku. Aku akan lebih masuk dalam dunia cerita mas Beben setelah menghabiskan Kuyang. Bagaimana kesanku membaca novel horor terbitan 2022 ini? Mari ikuti bersama di tulisan ini.

Pertama kita lihat dulu kover novel ini. Tertulis kuyang sebagai judul utama dan sekutu iblis yang selalu mengintai. Ada gambar aliran sungai yang seakan sedang ditunggui sesosok seram. Lalu di kanan bawah ada logo yang tertera cerita horor viral ditonton lebih dari 2 juta di Youtube. Sampulnya cukup unik karena menggambarkan setting cerita yang akan berlangsung. Nama penulis dengan warna putih berada di sisi atas. Logo GagasMedia di sisi kanan atas.

Secara garis besar. Kuyang bercerita tentang perjalanan horor yang dialami sepasang suami istri bernama Bimo dan Sriatun saat menjalani penempatan guru di desa terpencil di Kalimantan. Saat membaca novel ini, aku sudah mudah masuk di dunianya karena film Kuyang dan para pemainnya sangat nempel di benakku. Aku masih ingat tingkah pak Kades yang kocak. Totos Rasiti bikin ger sepanjang cerita. Dimas Aditya dan Alyssa Abidin aku kira cukup menghidupi karakter utama kita. Dari menamatkan buku setebal 301 halaman ini, aku mendapatkan cerita lengkap film Kuyang yang telah kutonton. Aku puas dengan novel yang ditulis mas Beben ini. Seru dan menegangkan sampai akhir.

Hal yang perlu diketahui juga adalah font buku ini terhitung kecil namun masih cukup terbaca olehku. Novel ini bisa juga dibeli lewat Playbook. Buku terbitan GagasMedia rata-rata sudah tersedia secara digital bila kesusahan dapat buku fisik.

Hal yang kusuka dari novel ini adalah penulis berhasil menyajikan petualangan yang menjanjikan penuh teror. Sejak awal aku sudah terhanyut dalam ceritanya. Bagaimana latar belakang Bimo harus menempuh perjalanan yang menyusahkan itu. Achmad Benbela bercerita dengan lugas dan menarik lewat sudut pandang orang pertama. Mas Bimo sebagai pencerita, akan menemanimu menceritakan aral rintangan yang dihadapinya. Hal kedua adalah setting tempat yang diangkat. Ku kira tempat seperti desa di daerah sungai di Kalimantan masih jarang ditampilkan. Penulis membawa kita menyusuri alam Kalimantan yang penuh bahaya. Mistis yang terdapat di pulau ini bisa tergambarkan lewat jalinan cerita yang diutarakan penulis. Sekali lagi, buku ini adalah komplemen yang pas dengan filmnya. Namun ku kira. Buku ini akan bisa dinikmati pula tanpa melihat filmnya. Minim typo. Hal ini juga mendukung cerita ini nikmat untuk diikuti.

Serba pas dan penuh teror. Aku tidak menyangka akan menyusuri lembar demi lembar dengan cepat. Seseru itu cerita ini. Pembabakan yang bagus dibuat oleh mas Beben. Dengan cliffhanger di setiap akhir bab. Top deh.

Novel horor ini saya rekomendasikan untuk pecinta horor/mistis Indonesia. Penggemar novel misteri juga bisa menikmati. Ataupun para pembaca umum yang ingin tahu seluk beluk lokal Kalimantan.

Sunday, 26 May 2024

Gentayangan oleh Jounatan & Guntur Alam.

 

Kumpulan cerita horor “Gentayangan” adalah semacam encore dari 4 novel horor yang ditulis oleh Jou dan Guntur Alam. Saya tertarik dengan lima buku ini saat melihat dua novel berlatar hitam di Gramedia Ambon. Belum ada penasaran untuk beli dan baca saat itu. Sebab belum mood untuk membaca genre horor. 2024 bulan Mei, sudah lama saya tidak mengikuti kabar tentang Guntur Alam. Di sekitar 2013-2014 saya tahu kalau Guntur adalah seorang penulis yang banyak menghasilkan karya cerpen dan novel. Di akun X miliknya, dia mencuit kalau buku horornya sudah cetak ulang untuk sekian kali. Saya kemudian melihat lagi judul-judul buku duetnya yang diterbitkan oleh penerbit Elex Media. Tidak menunggu lama. Saya kemudian mendapati kalau seri horor duet penulis ini tersedia lengkap di Gramedia dan memutuskan untuk membelinya saat itu juga. Arwah, Tumbal, Ritual dan Teman. Adalah 4 judul novel mereka secara berurutan terbit. Bisa dibaca acak kata penulis di instagram. Gentayangan adalah buku pertama dari seri horor yang saya baca. Bagaimana kesan saya dalam membaca cerita sepanjang 123 halaman yang sudah cetak ulang ke 5 di akhir Mei? Mari ikuti sama-sama di tulisan ini.

Pertama, saya akan coba melihat sampul kemasan bukunya. Secara umum kesan seram itu terasa lewat gambar sosok pocong dan keranda mayat di sebuah ruangan yang amat gelap. Judul buku “Gentayangan” berlumat merah tepat di atas keranda membuat sampul ini cukup menarik. Meski saat membeli saya tidak memfokuskan pada sampul karena ingin memiliki lengkap seri horor kedua penulis ini. Sebelum lanjut ke dalam isi bukunya. Saya ingin memperkenalkan kedua penulis.

Dimulai dari Jou, dikutip dari isi bukunya:

Jounatan menekuni dunia menulis disela-sela kesibukan kerjanya dan menulis merupakan hobinya. Selain itu Jounatan juga sangat suka datang ke tempat-tempat mistis dan menjelajahi tempat tersebut. Ia sendiri memiliki kemampuan untuk melihat makhluk tak kasat mata atau hantu dan ia sadar dan sudah berdamai dengan kelebihan yang ia miliki itu sejak ia mengalami peristiwa yang menyedihkan yaitu ketika ia kehilangan sahabat terbaiknya.  Saat ini Jou dan Guntur Alam sedang menulis serial mengenai adik Jou yaitu Natali yang akan dibuka dengan kisah yang berjudul Kutukan Darah dan Gerbang Roh.

Guntur Alam merupakan sosok laki-laki yang menyukai cerita horor dan misteri dari komik Petruk karya Tatang S. dan novel Abdullah Harahap. Selain berkarya bersama dengan Jounatan ia juga akan menerbitkan novel yang ia tulis sendiri dan sedang menyelesaikan naskah novelnya itu yang berjudul Tulah Desa Rimau dan Nyupang. Guntur Alam sering membagi kisah horornya ditempat kerja dan sekolah pada akun media sosial seperti  instagram miliknya yang bisa kamu ikuti @gunturalam_.

 

Gentayangan secara umum adalah semacam encore dari 4 buku yang terlebih dulu terbit. Maksudku adalah di sini Jou bercerita tentang pengalaman dirinya mengulik urban legend di Indonesia. Dari hantu jeruk purut sampai perlintasan Bintaro. Jou kerap melakukan perjalanan adu nyali di tempat yang tersohor kisah mistisnya. Bersama teman-temannya maupun dari penelusuran cerita kawan-kawannya, Jou ingin berbagi keseruan, informasi, laporan pandangan mata dari sekian tempat mistis tersebut. Jou yang diberikan kemampuan melihat makhluk halus memiliki pertemanan yang juga sama tertarik dengan dunia mistis. Seru banget. Dari kisah-kisah yang ada, mereka selalu mencari dan membuktikan keberadaan tempat yang horor. Hal ini diungkap Jou karena ini seperti sebuah candu. Aku kutipkan sebuah kalimat di halaman 96,

 

“Mungkin benar bahwa pengalaman mistis itu semacam candu. Orang yang merasakan hal-hal yang berkaitan dengan sesuatu yang gaib akan terus ingin tahu cerita yang lainnya. Itulah yang dialami Mario, teman sekantorku.”

 

Buku ini ditulis dengan gaya bercerita yang mengalir. Guntur Alam berhasil membuat kumpulan cerita ini dengan narasi yang apik. Perasaan penuh cemas akan apa yang dijumpai di kelokan cerita. Penuh deskripsi dan penggambaran suasana yang berhasil membangun rasa penasaran akan sebuah perjalanan. Betul. Di buku ini kita pembaca serasa sedang diceritakan kisah horor sekaligus sedang bersama-sama tim Jou menapak tilas tempat horor terkenal di Surabaya, Bandung, Jakarta. Saya menikmati membaca buku ini sehingga langsung menamatkannya dalam dua kali baca. Tidak ada typo yang mengganggu. Selain argo taksi. Enak betul bacanya. Tidak seperti buku penerbit GagasMedia yang typonya berhamburan.

Apa saja hal positif yang aku temukan dari buku ini? Pertama, adalah seperti diceritakan urban legend horor lengkap, aku suka bagaimana Jou bercerita tentang pengalaman berwisata horor di Bandung, saya baru tahu hal ini loh. Komunitas pencari hantu juga masuk di buku ini. Bagaimana seseorang mengumpulkan informasi, dalam hal ini cerita masyarakat lokal, bisa kita tiru. Bagaimana seseorang melakukan adu nyali, berhadapan dengan sosok halus, dan pembuktian tentang kisah horor adalah nilai plus yang membuatku akan membaca empat buku Jounatan dan Guntur Alam.

Selain hal positif, apakah ada hal negatif dari buku ini? Saya kira tidak ada. Saya hanya merasa buku ini terlalu cepat habis. Besar harapan saya, kalau pengalaman berburu horor Jou bisa dibikin lagi. Semacam Gentayangan jilid 2. Karena sungguh seru pengalaman Jou dkk. Juga bagaimana Jou bisa bercerita lewat tulisan.

Akhirnya, buku ini saya rekomendasikan untuk pembaca yang ingin memulai seri horor penerbit Elex. Yup. Elex Media juga menerbitkan novel horor. Dan saya lihat di instagram penerbit, kalau masuk jajaran laris. Keren deh!. Gentayangan bisa jadi buku pertama kamu yang ingin membaca novel Jou dan Guntur Alam. Mencicipi bagaimana horor di tangan mereka berdua. Buku ini saya kira bisa dinikmati pula oleh pembaca awam yang ingin tahu sejarah kisah horor legend di Indonesia. Selain bagi penikmat horor dan misteri. Selamat berkarya Jounatan dan Guntur Alam. Sukses!

Thursday, 23 May 2024

Teror Pocong Duloh oleh Rori Sarang Demit


Teror Pocong Duloh (selanjutnya TPD) memulai perjalanan saya membaca novel horor terbitan GagasMedia setelah menamatkan karya Simpleman, berjudul Ranjat Kembang. Sebelum ini saya membaca berturut KKN, Sewu Dino, Janur Ireng, dan Ranjat Kembang. Sebelum-sebelumnya saya tidak tertarik dengan genre horor.

Ya, saya tergaet dengan terbitan horor penerbit yang menerbitkan KKN Di Desa Penari. Gagas banyak menerbitkan horor beberapa tahun terakhir. Sepertinya ini adalah produk yang sedang digemari. Katalog GagasMedia saya buka dan mendaftar judul-judul horor yang akan kubaca. TPD salah satu yang menarik perhatian. Karena dirilis tahun ini. Dibuat oleh seorang konten kreator bernama Ahmad Asrori (Rori) asal Lebak, Banten. Rori aktif di Youtube Sarang Demit. Bagaimana kesan saya membaca TPD? Mari sama-sama kita ikuti di tulisan ini.

 

 

Novel setebal 166 halaman ini ditulis dengan ritme cepat. Lugas dan mampu mempertahankan perhatian pembaca hingga akhir. Lewat kisah yang cukup dramatis dan seru. Hanya saja sangat disayangkan. Di novel ini bertebaran typo dan ini sungguh tidak mengenakkan. Pada saat membaca TPD, saya sudah menyampingkan typo tersebut dan berfokus ke jalinan cerita.

TPD dengan sampul seorang pocong yang berhadapan dengan lelaki yang mengacungkan keris, ditulis “Viral Youtube POCONG DULOH ditonton 10 JUTA kali”. Dengan kilasan kabut keduanya akan saling bunuh. Judul Teror Pocong Duloh dengan warna merah. Rori Sarang Demit di bagian bawah dengan warna yang sama. Sampulnya cukup menarik. (Saat membeli dan hingga sampai menuliskan artikel ini, saya tidak terlalu memerhatikannya, sebab fokus saya pada pengumpulan koleksi horor GagasMedia)

Mari kita masuk ke bagian ceritanya. Secara umum Rori mengajak kita menemui kisah lahirnya Pocong Duloh di rangkaian waktu 1600an di Jawa Barat. 1730an saat teror Pocong Duloh berlangsung, setting tempat berada di desa Bojong Pinang. Berhenti di 1830an. Saat kisah ini berakhir.

Karakter Duloh dikisahkan seorang anak yang miskin papa dan menanggung hidup neneknya. Perjalanan yang pahit dan tragis dilalui anak ini, yang mewarisi ilmu Pancasona. Ilmu yang membuat dirinya tidak dapat mati. Kisah percintaan Duloh dengan Rara diceritakan. Para penduduk pun berusaha mencari cara mengalahkannya. Lantas berakhir dengan lahirnya Pocong Duloh yang mendiami hutan Gantarawang. Kisah berikutnya dilanjutkan dengan tokoh Raka. Rara dan Raka, ya namanya mirip. Keduanya akankah berkaitan? Raka adalah seorang anak yang tidak kalah tragis kehidupannya dengan Duloh. Kelak Raka memanfaatkan kekuatan Pocong Duloh dan harus berbalik melawannya karena teror Pocong Duloh akan seluruh desa dan istrinya, Mayang.

 

Buatku kisah misteri yang ditulis Rori cukup mengasyikkan untuk diikuti. Rori dalam keterbatasan halaman mampu membuat cerita yang padat, tanpa mengurangi ketegangan sedikitpun. Kita diajak sampai akhir mengikuti laku Raden Raka. Deskripsi keseraman hutan. Suasana desa sedikit bisa dirasakan. Seram dan bikin bulu bergidik sih tidak. Namun percayalah Rori berhasil membuat kita masuk mengikuti dunia TPD dan menyusuri halaman demi halaman. Lalu mencapai halaman Tamat. Saya cukup puas dengan kisah TPD. Saya kira hal-hal menarik dari buku ini adalah mengenai kisah mistis di Jawa Barat, bagaimana pertentangan bisa dilakukan dengan saling mengirim santet, lalu cara untuk menaklukan pocong, semua bisa disimak di novel ini. Tentu akan lebih baik bila penyuntingan untuk membuat cerita bisa dinikmati dengan nyaman dilakukan.

 

Novel ini saya rekomendasikan untuk pembaca horor. Juga orang yang ingin mencoba baca kisah misteri. Kisah mistis. Boleh mencoba novel ini sebagai pintu masuk pertama. Sukses buat Rori. Salam.

 

 

Saturday, 29 September 2018

Aku dan Buku September 2018 Untuk Palu

Per September 2018, "Aku dan Buku" telah terjual lewat beberapa jalur penjualan.

Per 29 September 2018, hasil penjualan yang terkumpul Rp729.000.

Semua hasil penjualan ini akan didonasikan untuk relawan di Palu.

Sesorean tadi, di ig story beradadisini saya menemukan ajakan mbak Windy A, kita bisa membantu teman-teman Palu. Saya kemudian memutuskan hasil penjualan Aku dan Buku langsung digunakan untuk membantu Palu.



Meminta restu teman-teman penulis Aku dan Buku, saya akanmenggunakan hasil penjualan sebesar Rp729.000 untuk ditransfer ke Yanti Navarita.


Update

Tangkapan layar transfer:



Thursday, 20 September 2018

Podcast Kepo Buku Episode ke 10. Berbagi Sastra Favorit




Halo semuanya, apa kabar?

Podcast buku yang diasuh oleh Rane Hafied, Hertoto Eko, dan saya, telah sampai di episode ke sepuluh. Kali ini ngobrolin tentang sastra. Buku sastra yang gimana sih? Nah itu dibahas serius tapi santai oleh kami bertiga. Nggak kebetulan karena baru saja dirilis daftar panjang Kusala Sastra 2018. Di kategori prosa banyak buku-buku bagus yang bisa jadi rekomendasi bacaan untuk tahun ini.

Kembali ke podcast. Sebenarnya belum terlalu baca sastra. Tapi apa yang ada di benak saya tentang sastra, kemudian coba saya bagi di obrolan kali ini.

Podcast Kepo Buku sendiri bisa didengar lewat Spotify, coba cari dengan kata kunci "kepo buku". Selain itu bisa Google Podcast dan seabrek aplikasi podcast lainnya.




Teman-teman bisa mendengarkan juga dari web di sini.



Bila ada saran komentar. Bisa banget dikirim ke email suarane@gmail.com. Selamat mendengarkan.



Tuesday, 29 May 2018

Review Novel Bumi Manusia

Bumi ManusiaBumi Manusia by Pramoedya Ananta Toer
My rating: 5 of 5 stars

Pembuka tetralogi yang mengesankan.


Bumi Manusia adalah novel Pram yang baru saya baca setelah hingar bingar pengerjaan film dengan judul yang sama oleh sutradara kondang Hanung Bramantyo, sosok yang tak asing lagi dari belantika perfilman nasional. Lewat trivia yang dimuat di Jawa Pos 28 Mei 2018, Hanung waktu itu pernah mendatangi Pram untuk maksud mewujudkan karya besar miliknya ke dalam medium film. Sontak dijawab bukunya juga ditawari sutradara kondang, Oliver Stone, dari Hollywood. Keinginan Hanung belum diluluskan hingga kelak ditawari Falcon untuk menyutradarai film Bumi Manusia yang kemudian heboh di kalangan warganet.

Sesederhana itu saya menjumput dorongan membaca untuk pertama kali karya Pram. Buku yang ditebus beberapa tahun silam, sudah penuh bercak kekuningan. Dengan sedikit imajinasi Iqbal di dalam benak saya sebagai tokoh utama dalam pembacaan Bumi Manusia. Tapi hanya di beberapa jenak saja, karena sejujurnya saya lebih ingin mandiri menafsirkan sosok Mingke dan Anne di kepala.

Seperti halnya kisah percintaan yang mudah membuat orang jatuh simpati ke dalamnya. Pram dengan mengalir menjalin cerita demi cerita di buku ini. Harap bersabar menemui diksi-diksi tidak biasa yang mungkin sudah jarang kita dengar saat ini. Tapi diksi seperti kekinian dan beberapa lainnya (lupa) yang saya kira sedap betul menambah perbendaharaan kalimat. Bahasa Indonesia memang luar biasa!

Narasi yang dihadirkan dari awal cukup sederhana untuk kita baca. Nggak perlu jiper dulu lihat tebalnya, si narator itu kayak sedang bercerita santai dengan pembaca. Ini loh cerita cintaku jaman dulu, karena settingnya di abad 18. Pertemuan demi pertemuan yang dirangkai kelihatannya begitu ringkas, sampai pada konflik demi konflik mulai terbangun. Tak disadari kita mendapati ketegangan yang mau tak mau harus dituntaskan dengan membaca sampai akhir. Yang cukup tebal juga kalau boleh dibilang. Maka saran saya: persiapkan cukup waktu untuk menikmati buku ini.

Saya kemudian mendapati betapa Pram, bisa menyajikan cerita yang begitu padat. Begitu berisi sekaligus sederhana. Pembaca tinggal menikmati dan terasa masuk betul dalam kentalnya situasi yang dihadapi sang tokoh utama. Tak ketinggalan belokan-belokan cerita yang bikin kita makin antusias dengan kisah Mingke yang digambarkan sebagai sosok terpelajar sekaligus pandai menulis.

Kisah di buku ini ditutup dengan penutup yang bikin pembaca penasaran. Dan harus melanjutkan pembacaan di novel kedua dari apa yang terkenal dengan Tetralogi Pulau Buru. Tidak bisa tidak. Saya bisa membaca BM dengan anteng, sembari tersenyum, terbawa sedikit dengan api asmara sepasang kekasih kesayangan kita itu. Tidak terburu-buru dalam menyelesaikannya. Saya membayangkan bagaimana orang-orang waktu jaman buku ini dilarang, membacanya sambil deg-deg ser, jantungnya terpompa cepat karena merasa membaca sesuatu terlarang. Bukunya pun tak terjual bebas selayaknya sekarang. Di Gramedia, misalnya, buku ini bisa dijumpai kalau kamu mau tahu bagaimana isi cerita yang akan dimainkan oleh Iqbal nanti.

Membaca Bumi Manusia tentu tidak dapat dipisahkan dari semangat perjuangan melawan ketidakadilan yang tersirat dari novel ini. Keadaan masyarakat saat itu pun dapat menjadi rujukan tentang wawasan Indonesia. Budaya Jawa yang menjadi titik sentral tak lepas dari perhatian sepanjang buku ini. Merekam jauh kehidupan masyarakat Surabaya, Jawa Timur, kita dapat membayangkan andong, dokar, orang-orang memerah susu, daerah kembang Jepun, Wonokromo, bahkan kue cucur, semuanya itu melengkapi kekuatan deskripsi penulis sehingga kisah ini begitu hidup dalam imajinasi pembaca.

Buku ini direkomendasikan untuk anda yang ingin mengetahui sumber primer film Bumi Manusia, penikmat sastra Indonesia, konon ada yang bilang belum baca sastra kalau belum khatam Bumi Manusia dan teman-temannya.

View all my reviews

Sunday, 20 May 2018

Arah Langkah oleh Fiersa Besari

Arah LangkahArah Langkah by Fiersa Besari
My rating: 4 of 5 stars

Catatan perjalanan bung yang menarik.

Jujur beli buku ini karena melihat promo rilis di Makasar Writer kemarin. Fiersa juga nama yang baru buat saya. Tapi itulah kadang-kadang dengan terpapar sampul dan berita di instagram kita bisa membaca buku "baru".

Fiersa di wawancaranya bersama Mojok ingin dirinya dikenang sebagai penulis. Lewat karya-karyanya ia ingin abadi dengan menulis.

Lanjutkan bung.

View all my reviews