Monday, 15 January 2018

Book Review: Koran Kami With Lucy in The Sky by Bre Redana (KPG)

Koran Kami with Lucy in The SkyKoran Kami with Lucy in The Sky by Bre Redana
My rating: 3 of 5 stars

Membuat koran itu mudah, kawan. Bebas.

Memori. Ini benang merah yang berkelindan sepanjang buku tipis tersebut.

Sepanjang waktu Bre bernostalgia soal masa-masa jurnalistik menjadi vocatio. Panggilan. Hingga simpang surut kehidupan. Era baru muncul. Digital menggantikan yang lama, kuteringat senjakala media cetak kolom penulis di Kompas minggu (yang kemudian ramai-ramai dibahas minggu demi minggu di berbagai media).

Tidak berlebihan ketika membaca Lucy in the sky, seolah kita sedang beriringan mendengarkan petuah-kisah manis-dari sosok yang paham luar dalam isi perut bisnis media.

Saya sendiri menikmatinya. Dari awal ceritanya mengalir. Tak terkesan kita sedang membaca sebuah memoar. Opini Bre kadang meledak di beberapa bagian. Mengkritisi hayat hidupnya yang dulu begitu disegani. Ini bukan pabrik sandal, pungkasnya. Hmm.

Tulisan bergenit-genit ria pun tak menjadi pembatas kenyamanan membaca buku ini. Saya anggap sebagai bumbu pemanis dan itu yang (saya kira, bisa benar bisa keliru) disebut sebagai transedensi humanis. Bumbu ini saya kira bukan hanya sebagai pemanis bahkan boleh dibilang seperti bumbu pelengkap yang tanpanya buku ini rasanya akan datar dan terasa seperti kakek yang mengulangi ceritanya di masa muda setiap kali bertemu. (Saya akui baru membaca sedikit karya jurnalistik Bre Redana, itupun di kumpulan esai yang diterbitkan juga oleh KPG).

Di buku ini terhampar begitu banyak kritikan sengit soal jurnalisme. Meski yang dikritik akan membaca atau tidak. Siapa tahu.

Sudah ah. Saya ingin mendengar podcast yang baru rilis. Menunggu waktu New York ternyata bikin keki. Disini malam, disana sedang segar-segarnya. Judulnya "The Daily" bikinan The New York Times yang berdurasi 20 menit, mengetengahkan apa yang sedang hangat di dunia, dan yang bikin beda (dan jadi Podcast terbaik 2017 versi Vulture.com) adalah ini usaha jurnalisme kawakan dunia (NYT) bikin berita jadi lebih hidup. Coba deh dengar satu podcastnya.

Tiap hari 5 hari dalam semingggu bisa diakses disini The Daily NYT

Buku ini saya kira akan menarik bagi Anda yang punya ketertarikan dengan dunia media. Calon wartawan. Mahasiswa jurnalistik, filsafat pun boleh baca Koran Kami Lucy in The Sky.

Tetap sehat dan berbahagia Bapak dan Ibu.

View all my reviews

Book Review: Dream Big Make an Impact (Penerbit Buku Kompas)

Dream Big Make An ImpactDream Big Make An Impact by Rizkya Dian Maharani
My rating: 4 of 5 stars

Isinya inspiratif dan kekinian.

Ketika anak muda berbisnis dan secara tidak langsung memberi dampak yang begitu besar bagi penyerapan tenaga kerja, meminimalkan dampak lingkungan, dan memberi kesejahteraan dalam arti sebenarnya.

Semua bintang tamu Big Bang Show yang keren-keren ini diberi narasi singkat, latar belakang usaha, prospek usaha dan perjalanannya, tak lupa respon mentor tentang usaha tersebut.

Beberapa produk bisnis yang menarik bagiku adalah jamu, anggur asal Bali, Tas dari sak semen (luar biasa idenya)-jadi ingat kejadian beberapa minggu kemarin, ada pembangunan di sebelah rumah. Sampah sak semen mereka dibakar begitu saja dan kebetulan masuk ke dalam kamar. GrowBox (nanam jamur sendiri).

Well done.

View all my reviews

Book Review: The Mixer by Michael Cox

The MixerThe Mixer by Michael Cox
My rating: 4 of 5 stars

"Narasi Sepakbola yang Spektakular"

Dikemas dalam narasi yang memikat, penulis Zonal Marking, Michael Cox menceritakan bagaimana Liga Premier Inggris berkembang, menjadi salah satu industri olahraga terbesar dunia selain NFL.

Saya (Steven) melihat buku ini pertama kali saat kepo twitternya pundit Bein Spot Indonesia, Pangeran Siahaan. Beli bukunya. Kukira ini buku jadul. Gapapalah, isinya "sejarah" merangkum taktik para klub EPL. Eh ternyata, buku ini diterbitkan di tahun 2017. Dan buku ini menjadi semacam refleksi memperingati 25 tahun berjalannya Liga Inggris.

Sebagai penikmat EPL, walau saya kontinu mengikuti liga ini praktis saat SMA, waktu masa jaya-jayanya Liverpool. Iya waktu tahun 2007-08, jaman old Fernando Torres sedang on fire. Ketika membaca buku ini tetap nyambung, dan saking serunya isi buku ini. Saya bersemangat membaca The Mixer seperti membaca Koran Bola di era sebelum kedatangan internet. Saat analisis dan informasi soal sepakbola dunia, diikuti lewat media cetak dwi mingguan asal ibukota.

The Mixer bisa dikatakan sebagai sebuah pewahyuan bagaimana EPL bisa bertransformasi menjadi liga sepakbola paling digemari sedunia. Cox dengan apik menulis dan membagi analisanya-dengan runtut dan bernas. Bibliografinya saja sampai delapan halaman.

Sebelum membaca The Mixer, karena biografi Steven Gerrard, saya cenderung underestimate dengan Rafael Benitez. Namun after all, Rafa adalah pelatih yang hebat. He don't care his player, but as tactician. As manager. He is a winner after all. Opini saya tentang Rafa kembali pada standar yang selevel ketika ia memenangi gelar bersama Valencia di medio 2000-an.

Saya juga sangat menikmati, sangat relate, as a fans, karena perjuangan Liverpool juga dibedah di bab 22. Rodgers Reversal. Di sana diceritakan, awalnya Brendan Rodgers ingin menaruh filosofi bermainnya secara penuh ke tim barunya. Main possesion. Tapi ketika ditengah jalan, malah berubah. Ia "terlena" dengan kehebatan duo striker terbaik EPL era itu. Stu dan Suarez. At the end of the day, memang Gerrard cs belum bisa meraih gelar liga yang mereka idam-idamkan. Tapi kehebatan keduanya, terlebih Suarez, sungguh fenomenal.

Praktis ketika Anda ingin update soal taktik, perkembangan EPL, buku ini jelas menjadi panduan paling lengkap yang mungkin bisa anda jajaki.

Buku ini saya sangat rekomendasikan untuk para penggemar bacaan sepakbola, media, dan terlebih itu para fans setia klub Liga Premier Inggris.

Bonus podcast The Mixer bisa didengar disini https://audioboom.com/channel/the-mix...

View all my reviews

Monday, 1 January 2018

Selamat Tahun Baru 2018

Photo by Saz B on Unsplash
Pertama-tama HBC mengucapkan selamat memasuki tahun 2018, semoga semua pembaca Haremi Book Corner selalu dalam keadaan yang baik.


Sebelumnya di 2017, saya membaca cukup banyak buku nonfiksi menarik. Juga ada dua karya sastra Indonesia yang jempolan. Saya wajib menyebutkan Dawuk dan Ratu Sekop sebagai karya penulis kita yang layak dibaca akhir-akhir ini.





RC 2017.

Buku-buku yang kudaftarkan di laman Goodreads selama 2017.

Di 2018, saya ingin membabat timbunan, fyuuh~
dan juga membaca sebanyak mungkin buku-buku bagus yang bisa dibeli. Target baca tahun ini 100 buku. Kalau mbak Desty, 102 buku dengan asumsi 2 buku per minggu. Kira-kira seminggu berapa buku ya. Nanti kita lihat deh. Beragam genre yang ingin saya baca di 2018, masih berkisar tentang buku bisnis, teknologi, media. Saya juga ingin baca buku-buku sepakbola. Saya lagi baca "The Mixer".




di 2017, sungguh menyesal Kosmik Mook mengeluarkan edisi terakhir. Jadi di tahun ini, komik Indonesia yang bisa dibaca adalah Komik Reon. Saya ikutin meski nggak solid tiap terbit langsung beli. Tapi digabung per berapa edisi yang keluar. Seperti kemarin Vol 29 sama 30. Meski saya pribadi agak kurang sreg dengan salah satu judulnya. Tapi Reon sungguh sangat menghibur. Komik Reon bisa dibeli di kanal online, toped resmi mereka.



Di satu sisi saya tidak menduga Kosmik akan berakhir di dua tahun perjalanannya. Tapi komik adalah medium tanpa batas. Siapa tahu nanti akan ada gebrakan yang lebih bagus.

Dan juga saya akan usahakan update di laman Goodreads saya. Siapa tahu ada yang belum tahu. Bisa follow review saya disini. Buku currently reading, progressnya, dll akan diupdate berkala. Review pertama juga saya buat disana. Jadi jangan kelewatan.

Selain itu di 2018, saya akan mengisi obrolan buku di podcast Suarane. Doakan semoga bisa berjalan dengan baik. Teman-teman bisa dengerin sambil makan siang, sambil commute, sambil bermacet-macet di jalan. Edisi perdana bisa didengarkan disini



Nanti disana akan ada kuis buku, siapa tahu kamu beruntung bisa memenangkan kuis tersebut. Kemudian direview dan dibagikan ke orang lain lagi.

Menutup postingan kali ini, ada excerpt laporan pandangan mata dari festival penulis Singapura 2017 yang saya alias Steven ikuti di bulan November kemarin.

Sampai ketemu di podcast dan postingan blog berikutnya,
Salam.





LPM Singapore Writer Festival 2017

Jauh hari sebelum ke SWF, saya ingat dapat info event ini dari Twitter. Sepintas saya baca tweet @indonesiawriters: Fahd Pahdepie, penulis "Hijrah Bang Tato" bakal ngisi acara disana. Pagelaran SWF sudah dibikin acara tahunan yang didukung pemerintah mereka. Line up SWF ke 20 ini seru banget. Dari tanggal 3-12 November sederet penulis terkenal hadir mengisi sesi. Dari Marie Lu, Ken Liu, sampai nama tenar Etgar Keret dan Junot Diaz di penghujung event. Dua nama terakhir ini yang membuat saya kepengen berat ke acara ini. Semua sesi mereka berdua saya ikut penuh. Puas banget bisa duduk dengerin. Yuk kita simak laporan pandangan mata dari SWF 2017.

Setelah sampai di Singapura sehari sebelumnya, 9 November kurang lebih jam 8 malam, saya bergerak menuju The Arts House, gedung parlemen lama, tempat SWF digelar. Tiket festival dan acara berbayar sudah saya pesan sebelumnya. Berbekal print bukti pembayaran saya meniatkan diri ikut sesi perdana di SWF.

Dengan jari kaki yang blister, sandalan, sekeluar dari exit B stasiun City Hall, ditemani Google Maps. Nggak seberapa jauh jalannya, ternyata. Tinggal belok ke kiri. Belok kiri lagi dan nyebrang ke arah National Galery. Dari sana ikutin jalan aja nyampai. Tujuan saya berada di ujung jalan tersebut.

Sebelumnya saya mampir ke booth tiket yang bersampingan sama tokobuku, menukar Festival Pass dengan dokumen pembelian Sistic. Nggak sampai 3 menit, tiket dan FP sudah diberikan. Akhirnya lega semua sudah di tangan. Waktu itu sesi "Coming Soon in Singapore Comics" digelar di lantai dua. Ternyata di Blue Room, sudah banyak yang hadir. Mungkin para komikus ya.

Langsung saja kududuk di barisan tengah dekat pintu masuk. Sempat grogi juga, gapapa nih, sandalan, di event kayak gini. Tapi dibolehin aja tuh sama mbak ushernya. Beberapa menit setelah duduk, tampak para pengisi acara sudah pada datang dan jam 8.30 sesi dimulai.


Sesi dimulai dengan santai. 3 komikus memulai dengan presentasi mereka. Perkenalan, bagaimana mereka ngomik, apa aja yang mereka kerjakan, dan style dan keunikan masing-masing. James Tan memulai pertama dengan presentasinya. Dia menceritakan soal keliling dunia bersama sang istri yang harus membuat porsi keuangannya menipis. Di kala komikus lain sibuk mengejar deadline serial komik, karya James seputar momen sehari-hari, seperti Om Pasikom dan mas Mice. Pembawaan James yang tenang dan kalem membuat semua hadirin tenggelam dalam presentasinya.

Di tengah, Eva yang dikenal luas dengan Evacomic, melanjutkan presentasi. Dengan style bergaya Jepang yang imut, Eva menghadirkan budaya barat dan lokal (singapura) dalam karyanya. Perbedaan budaya yang dia rasakan dijalin dalam panel-panel karyanya.

Saturday, 2 December 2017

Review: Talking to My Daughter About the Economy: A Brief History of Capitalism



"Ekonomi tak pernah semenarik dan sepenting itu sampai membaca Yanis Varoufakis."


Buku bersampul merah oranye ini tidak butuh dua kali pikir untuk masuk dalam daftar belanjaan saat mengunjungi Kino kemarin. Sebenarnya saya juga nggak tahu judul ini kalau nggak ngintip stories mas Wisnu di Inggris sono. Judulnya nggak menggugah amat. Talking to My Daughter About the Economy: A Brief History of Capitalism. Cuman nggak ada ekspektasi apa-apa saat itu. Satu hal yang saya yakini, buku ini lumayan bagus-pasti-isinya.

... Dan benar saja, sejak membaca babak pembuka, tidak butuh waktu lama untuk saya segera menamatkan buku ini. Karena storytelling yang memukau dan Yanis mampu memberikan informasi bermutu di saat yang sama. Benar-benar asyik. Serasa dapat kuliah 1 sks soal ekonomi gitu. Hahaha.

Buku ini cocok nih, kalau kamu pengen baca buku yang "ringan" tapi bahasannya menantang & mencerahkan seperti ekonomi (dalam buku ini). A-Z kapitalisme diceritakan dengan tuturan cerita yang asyik dan menggelitik.



Seseorang belum menguasai sepenuhnya bidang yang ia geluti (andai dia seorang profesor, atau akademisi, atau apa lah, seorang aktor film mungkin), jika ia belum dapat menjelaskan pemahamannya sesimpel mungkin kepada orang lain. Lalu orang lain pun bisa ngikutin.

Lewat buku ini kita akan sama-sama mengikuti perjalanan sang ayah yang sedang bercerita kepada anaknya tentang asal muasal kapitalisme. Iya betul, semacam Sejarah Dunia untuk Pembaca Muda karya Gombrich. Just sit and chill out.***


Apple, Amazon, Facebook, dan Google, belum lagi yang lain. Kita mengenal dunia kapitalis yang berpusat pada seberapa banyak keuntungan yang dihasilkan untuk korporasi. Tapi bagaimana kita sampai menuju ke arah tersebut? Yanis-yang juga menteri Yunani, iya Yunani yang terpaksa harus menerima bail out, karena bangkrut beberapa tahun silam-menjabarkan soal mengapa ketidakadilan bisa lahir, dua macam nilai yang dikenal manusia, lahirnya market societies hingga usaha "menjinakkan" raungan kapitalisme.

Pertama-tama ada experiential value dan exchange value.

Di awal-awal sebelum era kapitalis tiba. Experiential value dirasa dimaknai kebanyakan orang dibanding exchange value. Ditolong orang saat tanganmu kejepit roda sepeda misalnya. Tanpa pamrih mendonorkan darah di PMI.

Keadaan sedikit demi sedikit berubah ketika segala sesuatu dijadikan komoditas, semua (barang, jasa) diberi label harga pasar, yang merefleksikan seberapa besar exchange value yang bisa diberikan.

Tapii, please, jangan minta gratis apalagi harga temen yang "bikin miris" juga pas make jasa teman atau kenalan. Ok, saya nggak mau terkesan menggurui.







Significant moment in the book:

"Oscar Wilde wrote that a cynical person is someone who knows the price of everything but the value of nothing. Our socities tend to make us all cynics. And no one is more cynical than the economist who sees exchange value as the only one value, trivializing experiential value as unnecessary in a society where everything is judged according to the criteria of the market."


Lewat cerita dan lebih banyak penjelasan yang seru, contohnya di "Haunted Machines" sang penulis mengajak pembaca (termasuk si Xenia, anaknya) melihat efek dari penggunaan teknologi di market societies bertendensi memperbudak orang-orang di dalamnya ketimbang membebaskan. Saat ini kita sudah nggak asing lagi. Denger dan lihat di sosmed. Tentang kemampuan robotik yang semakin hari semakin mirip manusia. Jangan-jangan kelak pekerjaan manusia akan dihapuskan, karena lebih mudah dikerjakan oleh robot. Nggak butuh istirahat dan nggak bakalan capek kerja. Minim tuntutan. Bisa kebayang kan: Industri masa depan yang gemilang.

Tapi di saat yang sama jangan lupa kisah Frankenstein, Blade Runner, yang juga baru saja rilis sekuelnya, jangan sampai teknologi ciptaan manusia jadi bumerang (istilahnya). Nah si penulis mengupas film The Matrix.

(Sesaat setelah menamatkan buku ini, saya kemudian menonton The Matrix (1999), dan luar biasa, film ini bagus banget, iya betul, itu film udah lama bangeet, tapi nggak apalah, lebih baik telat, daripada nggak, ya.)

Situasi dimana AI (komputer) yang menjadikan manusia sebagai budak. Untuk diambil energi hasil metabolismenya. Karena bila tidak diberikan ruang untuk hidup, berekspresi, manusia bakalan stres dan terlebih itu, pasti nggak mau kan dikerumuni kabel-kabel, hanya untuk diambil panas tubuhnya. Makanya si AI merancang sebuah sistem, dimana manusia tetap nyambi ngapain, kerja, dll, tapi realita tersebut hanya dimainkan di pikiran. Aslinya mereka ada di dalam semacam peti berisikan cairan yang menyuplai nutrisi, tanpa pernah tahu keadaan sebenarnya seperti apa.

Tapi tentu saja, sebagai seorang ahli ekonomi, penulis punya pendapat tentang situasi tersebut. Andai kata. Mesin dan lebih banyak mesin yang terpasang. Lalu nggak ada pekerjaan lagi buat masyarakat kebanyakan. Lalu produk tersebut akan dibeli siapa? Kan udah nggak ada income tuh ceritanya. Jadi penggunaan 100% mesin juga nggak ngaruh akan meningkatkan jumlah profit yang didapat kan.

Kira-kira itu situasi rumit yang mungkin jadi skenario, kalau human labour disingkirkan. Jawaban dan lebih banyak lagi hal-hal yang dielaborasi penulis bisa Anda temukan di dua bab terakhir. The Dangerous Fantasy of Apolitical Money dan Stupid Viruses?

Buku ini saya rekomendasikan untuk dibaca. Bagi Anda yang gemar membaca buku nonfiksi yang bagus, penikmat ekonomi, atau seseorang yang penasaran bagaimana kapitalisme bekerja, dan ingin tahu cara bertahan-bahkan-menjadikannya lebih manusiawi, ini buku yang wajib Anda baca.



Saturday, 30 September 2017

Review Buku Ratu Sekop karya Iksaka Banu (2017)

storytelling yang memikat.


Setelah beberapa tahun memenangkan penghargaan Kusala Sastra 2014, Iksaka Banu kembali hadir menyapa pembaca lewat karya terbarunya di Marjin Kiri. Berbentuk kumpulan cerita pendek. Semua cerpen yang ada memiliki benang merah yaitu kisah yang kelam. Noir. Tidak butuh lama, saya menandaskan "Ratu Sekop". Iksaka Banu at his best. Buku ini menjadi pamungkas dan favorit saya di bulan September. Bila saja Ratu Sekop masuk dalam penjurian Tokoh Sastra Tempo tahun 2018. Saya kira tak berlebihan karya ini adalah salah satu yang patut diperhatikan.



Jumat kemarin. Tanggal 29 September 2017. Saya mendapat buku ini dari salah satu penjual buku daring paling keren sejagad instagram. Terima kasih mas Jamal. Di tulisan ini saya akan membagi sedikit pembacaan Ratu Sekop. Semoga suka.



Pertama-tama. Obviously. Karya Marjin Kiri bagi saya selalu masuk kategori: wajib beli. Hitungannya apa yang diterbitkan oleh mas Ronny selalu berkelas. Salah satunya buku ini.

(c) instagram Marjin Kiri.


Mari kita membahas dahulu mulai dari yang paling luar. Judulnya terbaca: Ratu Sekop dan cerita-cerita lainnya, dengan cetak tebal di kalimat pertama. Kemudian di depan latar warna krem, sesosok ratu sekop seperti yang ada di kartu remi nampak memegang dua benda di tangannya. Look at this cover. Pasti ini cerita yang nggak-nggak. In a good way. He-he-he. Pistol ala film sains fiksi di tangan sebelah atas. Kabel colokan pemanas nasi di tangan bawah. Dari pemandangan sampulnya saja, imajinasi kita seakan dipicu, sebelum sajian utama dihadirkan. Di bagian sampul belakang, tangan si ratu dengan anggun memegang belati dan clapper board. Hmm.



Ikasaka Banu membuka perhatian kita dengan dua cerita, "Film Noir" yang menghentak dan "Cermin". Setelah menghabiskan "Film Noir," saya kira cerita ini adalah salah satu master piece dari karya beliau. Begitu pula setamat Cermin. EPIK. Itu yang secepat kilat keluar dari benak saya. Duo cerita ini langsung membuat saya tidak butuh lama untuk segera menuntaskan isi Ratu Sekop dalam waktu singkat.



Kedua cerita ini saja sudah berhasil membuat saya semriwing.



Dilanjutkan dengan cerita "Superstar". Di sini, saya lantas menemukan mood cerita mas Banu. Oh, kesan noir itu yang seperti begini. Apa yang hendak ditampilkan dalam keseluruhan cerpen di buku ini.



Kemudian ada "Listrik". Twist yang bikin saya berpikir, "Ok.. Something just like this.. Keren endingnya.."



Lalu ada cerita "Belati", yang membuat saya beberapa kali harus membaca lagi bagian-bagian tertentu. Serasa membaca cerita detektif.



Hal lain yang ingin saya sampaikan di tulisan ini adalah membaca cerita pendek Iksaka Banu yang terkumpul dalam buku ini benar-benar greget. Ibaratnya kita sedang menonton sebuah film dalam imajinasi kita. Sangat puas dengan penggambaran dan detail-detail cerita yang disampaikan lewat sudut pandang orang ketiga. Serba tahu.



"Jubah" pun membacanya memberikan kesan yang cukup dalam. Sempat hening beberapa saat sebelum saya lanjut.



Kembali dengan "Ratu Sekop" yang memberikan twist yang juga menarik.



Hal yang sama juga dengan "Lelaki dari Negeri Halilintar".



Pembacaan saya yang pertama berhenti di cerita "Undangan Seratus Tahun". Endingnya juga nggak kalah menyayat hati. S e d i h.



Malamnya. Saya menonton bincang buku Iksaka Banu di Cak Tarno Institute. Sila cari di facebook beliau. Mas Banu bercerita soal mengapa ia kemudian harus menerbitkan buku ini. Kapan beliau menulis cerita-cerita yang "berbahaya" ini yang kemudian dimuat di Matra. Kehidupan beliau yang turut menyumbang sebagian besar daya kreatif miliknya.



Harfiyah Widiawati, Sang pembedah buku menuturkan apa saja yang tersirat di Ratu sekop dengan gamblang. Rasa-rasanya masih aman. Pikir saya waktu mendengarkan bincang buku tersebut. Sebelumnya saya melihat sedikit film-yang lagi ramai akhir-akhir ini-sebentar karena kepo. Lengkingan musik latar yang menyayat. Keesokan harinya, memang betul, dari musiknya saja sudah begitu meneror yang nonton. Benar saja. Penata musik diminta sutradara memasukkan unsur musik horor di film tersebut. Lengkapnya. Sila. Baca Jawa Pos Sabtu 30 September 2017.



Hari ini, Sabtu 30 September 2017, melanjutkan pembacaan kedua, "Vertigo" dan "Sniper", sudah agak terbaca pola ceritanya. Meski harus diakui "Sniper" tersebut saya kira termasuk dalam cerita yang paling saya sukai. Begitu intens. Begitu padat cerita yang dihadirkan.



Dari cerita-ceritanya, Iksaka Banu, bisa kita akui sebagai pencerita yang ulung. Dengan keterbatasan tempat, karena umumnya dimuat di majalah dan koran, sosok lulusan desain ITB ini mampu meletakkan bangunan cerita lewat detail mengagumkan dan lukisan cerita yang sarat simbol dalam setiap kisahnya. Membuat kita sebagai pembaca begitu disenangkan dan kenyang dengan apa yang disajikan.



Istana gotik. Sekali lagi hati ini seperti terparut karena cerita yang mengundang rasa haru itu.



Terakhir, "VIP", cerita berbalut sains fiksi ini memberikan nuansa tersendiri, dibanding yang lain. Mungkin karena cerita terakhir di buku setebal 189 halaman tersebut. Perjalanan si "aku" sudah tidak begitu mengejutkan karena sudah kudengar pembahasan ceritanya di acara Cak Tarno itu.



Lesson learned: sebaiknya membaca tuntas sebuah buku sebelum ikut dengar bincang buku. Apalagi kalau yang dibicarakan buku fiksi. Kilasan cerita yang dibeberkan bisa saja sudah mengandung unsur-unsur kejutan dari cerita itu. Tapi bila tidak memungkinkan untuk membaca buku tersebut. Mau bagaimana lagi. He-he-he.



Ratu sekop saya rekomendasikan kepada penggemar sastra Indonesia. Khususnya penikmat karya mas Iksaka Banu. Terlebih itu ini seperti hadiah buat semua pembaca di Indonesia. Salam buku itu seru.

Review Buku Semua Untuk Hindia karya Iksaka Banu





Semua Untuk Hindia

Oleh Iksaka Banu


Buku Semua Untuk Hindia sudah pernah saya lihat di resensi media cetak namun terlewat begitu saja karena kelihatannya tidak umum dan gambar sampulnya yang cukup “seram”. Karya Iksaka Banu ini baru saya coba baca setelah memenangi Kuala Sastra Indonesia 2014. Kemenangannya disebabkan oleh keaslian karya dan tema yang tidak biasa. Terima kasih atas kemajuan teknologi beberapa menit kemudian saya sudah bisa membaca beberapa halaman awal dan termanggut-manggut sebab buku ini layak diapresiasi.

Semua Untuk Hindia merupakan kumpulan cerita pendek bertemakan sejarah, disini pembaca seakan diajak ke sebuah mesin waktu menjelajahi bumi nusantara. Beragam cerita yang mengharu biru, mengenaskan, penuh tragedi, dan menyentuh akan kita jumpai disini. Para pembaca dapat mengikuti apa saja yang terjadi saat itu, pemikiran para pendatang dan interaksinya dengan warga lokal. Semua cerita disini mampu menghadirkan pembaca ke tengah-tengah kejadian. Kita seakan dapat ikut berjalan di jalanan yang gelap nan mencekam, terdampar di tengah lautan, bahkan berdiri memandangi sebuah pembantaian.

Buku ini seperti mengajak pembaca untuk sesekali melihat ke belakang, memandang kehidupan masa lampau sejenak bukan sekedar bernostalgia namun mengambil makna-makna kehidupan yang terpendam seraya mensyukuri kehidupan kita di saat ini.