Monday, 15 December 2014

Free Ebook "Catatan #1 H23BC Refleksi dan Resensi Pilihan"






"Membaca buku adalah sebuah kenikmatan yang dapat memperluas cakrawala berpikir kita. Dalam refleksi tahunannya ini Steven Sitongan memberikan kita sebuah perjumpaan, pengalaman,  aktivitas, dan opininya pada buku. Sebuah refleksi singkat yang patut dibaca dan menjadi pendorong semangat bagi kita semua untuk semakin mencintai buku"
                        - Tanzil Hernadi, Bloger Buku

Sudah hampir setahun kita menjalani tahun 2014 ya, jika Anda pembaca setia blog ini dapat melihat kampanye Ayo Baca Buku di pojok kanan. Maka mulai tahun 2015 saya mengajak para pembaca untuk #BeraniNulis 

Saya mencoba untuk berani menulis dengan membuat buku digital resensi yang diberi judul "Catatan #1 H23BC". Disini ada beberapa tulisan singkat berisi refleksi pembacaan di tahun 2014 dan hal-hal mengenai blog buku Haremi Book Corner. Buat yang bingung mau baca buku apa di tahun 2015 di dalam buku digital ini ada 7 resensi pilihan yang bisa menjadi referensi untuk membeli buku.

Langsung saja, Anda semua bisa menikmatinya Gratis dengan mendownloadnya disini. Ayo #BeraniNulis






Wednesday, 3 December 2014

Review Buku Java Beat in The Big Apple Marzuki "Kill the DJ" Mohamad



Judul Buku: Java Beat in The Big Apple
Penulis: Marzuki "Kill the DJ" Mohamad
Cetakan 1, November 2014.
Penerbit: POP, Imprint KPG.


"Jogja Jogja tetap istimewa...
Istimewa negerinya istimewa orangnya.."

Inilah lirik awal lagu yang paling ngetop jika ditanya kepada warga Jogja. Lagu dengan judul "Jogja Istimewa" yang sanggup membuat orang bergoyang sambil mengepalkan tangan mengikuti beat yang ada membuat saya mengenal Jogja Hip Hop Foundation. Di tahun ini bertepatan dengan hari ulang tahun ke 10 JFH menerbitkan buku jurnal perjalanan mereka ketika diundang ke Amerika sebagai duta budaya Indonesia. Warisan berharga kepada masyarakat Yogya, bahwa dari Yogya @JHFcrew mendunia.
JHFcrew

Lebih tepat buku ini merupakan tulisan yang ditulis dengan hati oleh "Kill the DJ" ketika berinteraksi dengan publik Amerika (memainkan musiknya, bertukar pengalaman dengan berbagai orang, komunitas). Sebagai seorang pendiri dan pemimpin @killthedj berbagi seputar persiapan tur ke Amerika sampai kembali ke Indonesia. Belum adanya perhatian negara di kala itu tidak menjadi alasan untuk tidak berkarya, sebagai duta budaya Jogja mereka terus berkreasi dan mendukung berbagi aktivitas relawan sosial beberapa bulan terakhir.

Salah satu pernyataan menarik yang tertulis disini ketika JHF mengunjungi Amerika adalah kalimat Presiden John F. Kennedy, sederhananya dia mengatakan di kota kita, peradaban kita sesuatu yang akan selalu dikenang adalah kontribusi kita kepada umat manusia. Membaca buku ini kita akan terpukau dengan pemikiran, semangat JHF buat melestarikan budaya Jawa dengan mengenalkannya lewat lagu rap kepada masyarakat luas.

Buku yang ditulis anak petani Prambanan yang mendunia ini wajib dibaca oleh semua penggemar JHF, artis yang ingin bisa mendunia seperti mereka, pecinta musik dan budaya Indonesia.

Wednesday, 19 November 2014

Review Buku The Naked Traveler. 1 Year Round-The-World-Trip. Part 1. Trinity



Judul buku: The Naked Traveler. 1 Year Round-The-World-Trip. Part 1.
Penulis: Trinity.
Cetakan ke Oktober 14, Bentang Pustaka. 


Keinginan beli buku ini berawal dari woro-woro Mbak Trinity mau perjalanan keliling dunia atau RTW pas launching buku ke 4 beliau (sampulnya pink cantik persis buku ini). Waktu itu di TM Jogja saya berkesempatan bertemu dengan bermodal buku baru beliau terus foto + minta TTD setelah menunggu kurang lebih 45 menit. Umpel-umpelan, keringetan sampai kayak baru habis mandi dan jepret akhirnya bisa foto sama mbak Trinity. Kesan yang didapat dari pertemuan singkat itu si penulis memang supel, ramah en pembawaannya asyik mungkin karena udah sering keliling jalan-jalan jadinya lebih supel pembawaannya. #analisisSherlock Singkat cerita foto tersebut ternyata hilang lenyap karena hardisk teman kosan rusak. Hilang sudah kenangan yang bisa dipamerin di blog buku ini.


Ini adalah buku pertama mbak Trinity yang dulu ternyata emak-emak kantoran yang direview di H23BC. Bukan berarti nggak bagus, saya merekomendasikan buat Kamu yang suka kisah perjalanan yang asyik buat baca seri Naked Traveler 1-4. Membaca buku ini dijamin memperkaya pemikiran kita lewat pengalaman yang ditulis di buku ini. Koq bisa? contohnya nih Pak Rhenald Kasali, penulis sekaligus praktisi manajemen terkenal sampai menugaskan mahasiswanya buat "keluyuran" di luar negeri seorang diri (bukan per grup) buat dapat sesuatu, baik pengalaman dan insight dari sebuah negara yang dikunjungi. (Kisah para mahasiswanya sudah dibukukan)


Siapa sih yang nggak tertarik bisa kenal banyak hal di luar sana (luar negeri, maksudnya) dengan hanya duduk manis, sambil ditemani kopi, teh atau cukup duduk di depan teras rumah sambil merasakan semilir angin yang isis.


Membaca buku ini kita jadi kepengen mencoba melakukan perjalanan ke tempat yang nggak biasa bagi orang Indonesia. Di luar Asean misalkan. Hayoo siapa yang terinspirasi pergi ke Peru trus ngelipir ke Machu Picchu sehabis melahap buku ini.


Buku Part 1 ini ditulis mbak Trinity soal perjalanan RTW (dari awal berangkat - Amerika Selatan) plus seluk beluk yang mesti kita mengerti ketika hendak nekat RTW :)


Banyak hal yang bisa kita nikmati di buku yang satu ini, dengan penulisan yang ok banget. Kita dengan mudah bisa menikmati cerita perjalanan, merasakan feeling penulis pas ada di jalan, unek-unek mbak T ketika membandingkan negara kita dengan salah satu negara yang rapi banget ngatur pariwisatanya. Suka duka tumplek blek semua disini, tidak terhitung berapa kali kita dibuat terpukau dengan trip mbak T. Berterima kasih dengan buku yang penuh warna ini, kita nggak bakal bosen bacanya. Selain itu pasti ada gelak tawa atau minimal senyum muncul di wajah ketika ada hal-hal lucu yang terjadi.


Tidak bisa dipungkiri kelebihan mbak T dalam tulisannya yang khas, menceritakan pengalamannya dengan fun, asyik membuat orang pengen traveling dan menjadi penggemar mbak Trinity.


Salah satu hal menurut saya mengapa Naked Traveler disukai pembaca baik di blog dan buku. Misalkan kita sebagai pembaca pada umumnya (selain calon traveler ya) pengen dapat sesuatu yang baru (bosen nggak dengan kisah inspiratif, ngelucu, motivasi yang itu-itu aja) misalnya dengan pengalaman mbak Trinity disini. Masak iya, kita pengen baca buku Traveling namun pas dibaca yang ada kita dibuat ribet dengan detail kesana sini, ongkos, rute, dll. Keburu pusing duluan nanti. Menurut saya disini letak positioning pasar dari buku-buku mbak Trinity. Menjual pengalaman sebuah perjalanan dengan gaya berceritanya yang khas.

Semua pengalaman seru penulis di RTW #1 ini keren-keren, tapi bila ditanyakan favorit saya adalah cerita mbak Trinity sampai di naik turun gunung sampai terkena altitude sickness. Kebayang nggak bisa mbak Trinity dengan sukses mencapai perjalanan yang nggak mudah ke Glacier Pastoruri di Peru dengan ketinggian 5.250 mdpl, sambil doping daun coca.

Simpulannya buku ini wajib dibaca buat kamu yang mengikuti seri Naked Traveler atau yang pengen tahu gimana sih serunya jalan-jalan keliling dunia. Nantikan review Part 2 ya.

Thursday, 13 November 2014

Review Buku Robohnya Surau Kami AA Navis



Judul Buku: Robohnya Surau Kami
Penulis: A.A. Navis
Penerbit: GPU.
Buku karangan A.A.Navis ini betul-betul sebuah harta karun di sebuah perpustakaan. Buku lawas ini sudah amat jarang terlihat di toko buku. Terakhir diterbitkan GPU tahun 2006. Dari ke 10 cerita pendek yang ada, semuanya layak dibaca bagi Anda yang ingin mengenal karya sastra Indonesia atau penulis yang ingin belajar cerpen salah satu penulis kawakan Indonesia.

A.A. Navis lewat kumcer ini ingin mengajak pembaca mengikuti jamannya. Bahasanya sederhana namun pilihan kata yang kuat membuat pembaca dengan mudah dapat menikmatinya. Kecuali budaya minang yang mungkin harus sedikit kita pahami terlebih dahulu. Disini terdapat banyak ilmu hidup atau kebijaksanaan yang dapat diserap kepada pembaca. Kesan yang tertangkap adalah penulis piawai menceritakan kehidupan yang menyentuh, juga kadang sangat kejam mengiris hati (Pada Pembotakan Terakhir), selain itu budaya Minang sendiri.

Dimulai dengan cerita "Robohnya Surau Kami", penulis memprotes sikap sebagian orang yang tunduk kepada orang asing yang serakah mengeruk kekayaan Indonesia. Memang dari sanalah kita dapat dengan angkuh bertepuk dada mengatakan inilah negeriku yang indah permai, Gemah ripah loh jinawi. Namun apa arti semua itu jika kita tidak mengusahakannya, bekerja ketimbang malas berdiam diri berfokus pada diri sendiri. Kisah "Topi helm" disini mengajarkan arti kerendahan hati itu merupakan hal yang penting namun sulit dijalankan dalam kehidupan sehari-hari.

Dari ke 10 cerita yang ada, selain "Dari Masa ke Masa" yang menegur kita para generasi muda di jaman modern. Makna ceritanya masih sangat kuat berbicara hingga saat ini. Dengan jelas keprihatianan penulis melihat anak muda. Dulu di jamannya anak-anak SMA sudah jadi komandan batalyon, bergerak di organisasi dan berbuat sesuatu. Sedangkan anak-anak SMA sekarang tidak bisa berbuat apa-apa. Membacanya seakan penulis hendak menampar kita para anak muda. Sampai sekarang masih belum banyak berubah bukan. Kita yang lebih mementingkan prestasi otak dan keahlian, kata penulis. Sepintas kita saat ini pun lebih menilai seseorang dari prestasi yang segudang, sesuatu yang wow. Meski banyak pula tokoh low profile yang jarang diekspos namun punya segudang dampak positif. Nilai individualis yang menjadi perhatian penulis nampak semakin menjadi-jadi sekarang. Bukankah saat ini kita bisa dengan mudah melihat dan membaca kesukesan pribadi menjadi sesuatu yang diagung-agungkan dan dikemas sedemikian rupa dengan label motivasi atau inspiratif.

Kisah Sidin dalam "Penolong" adalah favorit saya. Membacanya membuat kita seakan ikut terjun langsung ketika tragedi kecelakaan kereta api berlangsung. Ketegangan yang dibangun membuat pembaca tidak mampu bernafas sembari menerka akhir jalan cerita. Saya membayangkan akan sangat baik jika kita bisa membaca kumcer-kumcer karangan A.A.Navis yang lain. Memberi sebuah nilai pada kami anak muda yang kering pengalaman dan tidak tahu diri.

Monday, 27 October 2014

Corat-Coret di Toilet

Kumcer yang wajib Anda baca



Judul: Corat-Coret di Toilet
Penulis: Eka Kurniawan
Terbit April 2014
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama


Membaca 12 cerita pendek yang ditulis Eka Kurniawan di Corat-Coret di Toilet sungguh memuaskan. Ya ini adalah karya ketiga dari EK yang saya baca dalam selang waktu kurang dari 3 bulan. Setelah perjalanan Ajo Kawir, CIL, dan sekarang CCdT membuktikan bagi saya penulis yang satu ini layak diacungi jempol. 

Saya membaca buku ini di sabak digital ketika PLN kota Ambon melakukan pemadaman bergilir. Di CCdT dengan jelas lewat karya-karyanya EK mampu merekam jamannya dengan baik. Kita mulai dengan cerita "Peter Pan" yang sangat keras menentang pemerintah saat itu. Selain itu ada juga corat-coret di toilet. Tentang toilet yang banyak dibahas di buku ini. Saya menduga banyak draft cerpen ini yang dihasilkan di dalam wese.

Ijinkan saya sedikit berbagi disini, CCdT saya baca berselingan dengan tulisan EK di blog lamanya. Soal penulisan sudah saya babat habis dan telan matang-matang. Yap, saya sudah kepalang tanggung ingin melihat apa isi kepala sang penulis yang katanya bila membaca karyanya kita akan membaca karya-karya penulis dunia. Disini saya jujur mendapat inspirasi buat membuat cerpen dan bla bla. (Hal ini akan ditulis di blog pribadi, demi kenyamanan pembaca). Yang jelas setelah membaca isi blog penulis, saya dapat melihat penulisan cerpen yang dihasilkan telah melalui proses yang tidak bisa dibilang mudah. Sehingga karya yang dipegang pembaca disini adalah milestone pertama penulis yang dilempar ke pasaran, kita dapat melihat proses kreatif menulis cerpen oleh seorang penulis berbakat. 

Poin yang ingin saya sampaikan adalah jika kamu seseorang yang punya passion menulis, entah penulis pemula atau penulis yang masih mencari cara buat melejit di industri perbukuan buku Corat-Coret di Toilet adalah salah satu media kamu dapat belajar soal cerpen. Baik dari pembuatan kalimat pertama, plot, penceritaan, dsb. Ketika membaca pun saya ingin seperti hal yang diatas selain mendapat bahan bacaan yang ok di saat senggang. Kumcer ini menurut saya pas ada seriusnya dan ada ngocolnya. Ada soal pemerintahan, romansa, cukup lengkap pokoknya.

Semua ceritanya bagus dan ada satu cerita yang paling berkesan. Sayangnya itu adalah cerita penghabisan di buku ini. Bagaimana lagi namanya juga sebuah buku yang akan selesai setelah beberapa ratus halaman. Kandang Babi judulnya, selama membaca cerpen ini penulis berhasil membuat saya mesam-mesem sendiri. Geli membayangkan yang dialami Edi Idiot. Itulah keberhasilan penulis dalam memotret pengalaman hidupnya. Saya yakin alumni bulaksumur akan tersenyum simpul membaca cerita ini. Apakah Pak Jokowi juga ya?

Saturday, 11 October 2014

Cantik Itu Luka oleh Eka Kurniawan

Salah satu bacaan wajib di bulan sastra


Judul buku: Cantik Itu Luka
Penulis: Eka Kurniawan
Penerbit: Gramedia
Tahun cetak: 2004. (Cetak Ulang Cover Baru Januari 2015)



Selepas membaca buku ini, dari skala 1-5 bintang saya memberikan 4 bintang. Saya salut dengan alumni Filsafat UGM ini. Mas Eka membuat karya yang begitu hidup, konfliknya begitu "panas", narasi yang ada membangun sebuah teater imajinasi di benak pembaca. Satu pertanyaan yang muncul sejak membaca 2-3 bab awal, "gila, dari mana mas Eka punya ide atau inspirasi menulis kisah ini?"

Kisah ini begitu kelam, gelap dengan bumbu sejarah dan percintaan yang pas. Buku ini termasuk page turner, kita penasaran akan apa yang akan diceritakan di bab selanjutnya. Hal ini membuktikan Eka rapi dalam mendesain setiap bab di buku ini. Tidak ada satupun cerita yang berdiri sendiri dan tidak penting. Drama kehidupan yang tersaji di buku ini membuktikan penulis lokal bisa menghasilkan karya luar biasa. Saingannya dari segi cerita dan penokohan yang begitu abu-abu hanya a Game of Throne (Yang saya beri 5 bintang).

Satu hal yang patut disoroti adalah obsesi penulis untuk adanya Taman Bacaan di masyarakat. Di halaman 386, diceritakan buku-buku yang luput dari penghancuran akhirnya dipakai untuk sebuah taman bacaan. Anak-anak kecil menjadi pendatang tetap di tempat itu. Disini terlihat sangat jelas pendapat penulis tentang pentingnya sebuah taman bacaan masyarakat. Sedikit menyinggung bulan Oktober yang dipilih sebagai bulan sastra. Harian Kompas jumat tanggal 10 Oktober 2014 menurunkan berita tentang urgensi RUU perbukuan. Hal ini didasari belum adanya gambaran jelas kebutuhan pembaca Indonesia. Diharapkan oleh adanya UU ini masyarakat dapat lebih dipuaskan oleh buku-buku yang diterbitkan penerbit buku Indonesia.

Di akhir membaca buku ini, saya mengurangi 1 bintang. Klimaks cerita yang bagi saya kurang memuaskan, dan seakan dipaksakan. Karya besar Eka Kurniawan ini patut diapresiasi dan layak disandingkan dengan karya novelis internasional. Jika ditanyakan apakah akan membaca buku mas Eka yang lain? jawaban saya adalah wajib. Ada 2 judul yang sudah diterbitkan ulang yaitu Corat-coret di Toilet dan Lelaki Harimau. Untuk Lelaki Harimau tahun depan akan dirilis dalam bahasa Inggris. Jangan sampai kita sendiri di tanah air terlambat dengan pembaca luar nanti.

Update 1 November 2015. Publisher Weekly, salah satu situs penerbitan terkemuka dunia menunjuk Beauty is a Wound sebagai 10 karya terbaik 2015. 

NB: Buku ini akhirnya dapat dibaca setelah meminjam dari Perpustakaan Nasional Maluku.

Tuesday, 2 September 2014

Chairul Tanjung Si Anak Singkong

Biografi anak bangsa yang menginspirasi



Judul Buku: Chairul Tanjung Si Anak Singkong
Penulis:
Penerbit: June 2012- Penerbit Buku Kompas
Buku Chairul Tanjung Si Anak Singkong beberapa tahun lalu sempat menjadi buah bibir, bagaimana tidak wow buku dengan sampul wajah sang menteri laris manis di toko buku dan perempatan lampu merah. Baik buku asli dan bajakan keduanya menarik banyak orang untuk membacanya. Berikut ini beberapa review singkat dari biografi CT yang diluncurkan pada saat HUT ke 50.

(+)

- Ditulis oleh seorang jurnalis Kompas,